
Hai Satria Lovers🤗
Bab ini di larang membaca untuk anak di bawah umur, Bab ini khusus untuk 18+ kalau bisa 21+ dan lebih baik lagi sudah menikah, takut kaum jomblo gigit jari😂
Ingat, jangan dibaca untuk anak dibawah umur!
Satu lagi, bacalah cerita ini setelah berbuka puasa♥️🙏
Warning! Carilah bacaan yang sesuai dengan seleramu🙏
___________________________
'Apa ini?' Nurbaya berdiri mematung.
“Kamarnya cantik, ya, Sayang.” Satria langsung melangkah ke ranjang, meletakkan semua benda-benda berharga di samping meja ranjang, seperti handphone, dompet dan lainnya.
“Sini, deh!” Satria memanggil Nurbaya dengan lambaian tangannya.
“Enggak!” Nurbaya langsung menghenyakkan pantatnya duduk di atas sofa.
Satria tersenyum misterius. Menatap dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Membuka baju yang ia pakai, kini tinggallah hanya celana saja. Tubuhnya yang mulus seputih susu, dengan otot dada dan perut yang sempurna terekspos di hadapan Nurbaya.
Ia berjalan mendekat, sengaja menggoda Nurbaya. Duduk menempel disamping Nurbaya. Nurbaya pura-pura tak tahu, padahal matanya melirik mencuri-curi kesempatan.
Satria merentangkan tangannya ke badan kursi, lalu merangkul bahu Nurbaya yang duduk disampingnya. Masih pura-pura, bahkan pura-pura mengetik di handphonenya.
“Sayang.” panggil Satria lembut.
“Hei,” Satria menarik dagu Nurbaya agar menatapnya.
Memainkan bibir Nurbaya dengan ibu jarinya. “Nanti malam, aku meminta hak ku padamu, ya,” Berkata dengan sungguh-sungguh dengan tatapan serius.
Duaaarr!!! Seperti petasan yang meledak.
'Ya ampuuuun, bocah ini akhirnya mengatakan apa yang aku cemaskan sejak tadi. Apa gak ada cara lain? Masa aku tidur sama adikku sih? Ada ya, orang bercinta dengan adiknya?'
Satria mengecup kening Nurbaya. “Hentikan pikiran bodohmu itu, aku bukan adikmu! Aku suamimu.”
'Eh, darimana bocah nakal ini bisa membaca pikiranku?'
“Darimana aku tau?” Satria menyunggingkan senyumannya. “Jelas tertulis di keningmu itu!” Ia mengetuk-ngetuk kening Nurbaya dengan telunjuknya. Nurbaya mengerucutkan bibirnya.
“Ingat, Ibuku orang Korea, ayahku Anak kakekku Arnel Harviz Damrah. Sedangkan kau, anak Bi Mona dengan suaminya, tak ada hubungan darah denganku, kau halal ku nikahi. Sekarang kau halal untukku karena kau istriku.”
“Ingat, sekarang, aku dan kamu adalah pasangan suami istri, bukan Kakak dan adik.” Ia langsung menangkup tengkuk Nurbaya, menciumi bibir gadis itu.
“Aku mencintaimu. Cup!” Mencium bibir itu kembali.
Nurbaya hanya terpana, masih terdiam, belum bereaksi apapun, masih mencerna apa yang ia dengar barusan.
Satria melepaskan pertautan mesra itu. “Kita melakukannya nanti malam, ya?” tanyanya lembut, menatap penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Mau, kan?” Membelai lembut pipi Nurbaya.
“Melakukan apa sih? Main pukul-pukulan bantal lagi, hehehe.” ucapnya sambil terkekeh kecil, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Main kuda-kudaan.” sahut Satria, masih membelai wajah Nurbaya.
“Hm? Siapa kudanya, kamu?” Masih berkata dengan berlagak polos.
“Aku dan kamu, kita berdua main kuda-kudaan, sampai....” Satria tersenyum mesum sembari menaik turunkan alisnya.
“Mesum!” Nurbaya mendorong tubuh Satria.
“Memang, mesum sama istri sendiri apa salahnya. Hm?” Semakin mendekatkan diri pada Nurbaya, lalu memeluknya.
“Aku gak mau!” tolak Nurbaya.
“Kenapa?”
“Aku capek, aku mau tidur. Bukannya tadi kamu bilang pusing dan ingin beristirahat?”
“Makanya kita tidur sekarang dulu, nanti malam kita....” Menatap Nurbaya.
“Mau, ya?” sambung Satria lagi.
Nurbaya tak menjawab, ia cepat berdiri melepaskan pelukan Satria. Langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang dipenuhi bunga. Satria juga mengikutinya, tidur memiringkan tubuhnya ke samping menatap Nurbaya.
Gadis itu memunggungi Satria. Pemuda itu tak tinggal diam, Ia mengelus lengan Nurbaya sampai ke pinggang gadis itu, merapikan rambut Nurbaya sampai memperlihatkan tengkuk Nurbaya. Mengecupnya lembut, lalu menciumi telinga Nurbaya.
“Satria, hentikan. Aku mau tidur!” Membungkus tubuhnya dengan selimut.
Satria tak peduli, ia masuk ke dalam selimut itu.
“Apa yang kau lakukan, keluar!” Ia mendorong Satria.
“Hei, kau ini. Aku ini suamimu. Susah senang kita sama-sama, tidurpun harus di tempat yang sama dengan selimut yang sama.”
“Kau menyebalkan sekali.”
Nurbaya hendak beranjak dari ranjang, Satria menariknya. “Katanya mau tidur, mau kemana?”
“Aku mau tidur di sofa.” sahut Nurbaya. Satria tersenyum jahil.
“Baiklah, aku juga akan tidur di sofa.” sahutnya.
“Kau!” Nurbaya memukul Satria dengan bantal.
Satria menarik bantal itu, sampai tubuh Nurbaya terjatuh ke dalam pelukannya. Ia memeluknya erat. “Sayang, jadi kau menginginkannya sekarang? Lihatlah, kau menggodaku sekarang.” tanyanya menggoda.
“Siapa yang menggodamu, lepaskan aku!”
“Aku tak mau melepasmu, bagaimana bisa aku tak menghargai inisatif istriku yang tercinta ini, dia telah menggodaku terlebih dahulu, tentu saja dia berhasil dan telah membuatku tergoda sekarang. Apa kita akan melakukannya sekarang?” ucapnya mengedipkan mata.
__ADS_1
Langsung menekan tengkuk Nurbaya dan mengecup bibir Nurbaya.
Nurbaya mendorong tubuh Satria. “Lepasin!” pinta Nurbaya, Satria menatapnya dalam, masih memeluk erat.
“Aku mau ke kamar mandi!” Atau aku akan pipis di sini.”
“Ya sudah, pipisin aja aku.”
“Dasar gak punya malu! Lepasin gak!” Ia mencubit pinggang Satria.
“Auwhh, sakitnya. Kau ini istri yang suka KDRT pada suami. Aku belum di kasih jatah, tapi dikasih kekerasan.” Satria mengelus pinggangnya.
“Biarin, aku tak peduli!” Nurbaya bangun, beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.
Satria bergegas berdiri. Mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya, mengambil handphone Nurbaya, mematikannya, menyembunyikannya di tempat yang sulit di temui Nurbaya, lalu tersenyum penuh kemenangan.
'Kalau kau tak mau, aku bisa memaksamu dengan caraku.' Tersenyum misterius.
Memakai farfum di seluruh tubuhnya, farfum yang direkomendasikan oleh teman Sekretaris Dewa yang sudah berpengalaman, lalu menyemprot mulutnya agar wangi. Menggerakkan tubuh untuk meregangkan otot-otot.
Persiapan yang sangat sempurna, hanya menunggu waktu sang bidadari hati keluar dari kamar mandi.
Duduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar mandi terbuka. Tak sabar rasanya, Nurbaya terasa sangat lama sekali. “Hei, kau ngapain di kamar mandi, lama sekali? Kau tidur di dalam?” teriak Satria mengetuk-ngetuk pintu.
“Pipis kok lama sekali sih!” gerutunya lagi.
“Hei!” Masih berteriak di pintu.
'Jangan-janhan dia kabur? Apa ada jalan lain di dalam kamar mandi seperti dalam film-film?' Mulai berpikir aneh-aneh, saking khawatirnya akan Nurbaya yang menolak pesonanya.
Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Senyum merekah terkembang di wajah Satria.
“Kok lama banget sih, Sayang,” katanya manja, menggesekkan hidung mancungnya di bahu Nurbaya.
“Apaan sih!” Nurbaya mendorongnya. “Aromamu kok pahit begini?!” Nurbaya menutup hidungnya.
“Kau memakai sebotol parfum, ya? Bikin aku mual saja!”
“Sa, Sayang....” Satria mengejar Nurbaya yang meninggalkannya. Gadis itu duduk di sofa, menutup hidungnya.
Satria tampak kecewa, ia menciumi bagian tubuhnya, terutama keteknya.
***
Author said: Sabar Satria, kamu terlalu bersemangat sih😂😂
Masih penasaran? Tetap tap favorit (♥️) biar selalu dapat notifikasi updatenya. Kenapa? Karena Author remahan kerupuk ini suka update suka-suka, tidak bisa ditetapkan waktu jam-nya kapan, masih membagi waktu di real dan tentu saja kita semua dalam keadaan berpuasa. Jadi, waktu tak bisa full untuk menghalu ria. Nanti puasanya bisa sumbing🙏
Hindari membaca bacaan yang berbahaya untuk puasa Anda. Terimakasih Satria Lover telah setia membaca ceritaku♥️ Silahkan tinggalkan Like, Komentar positif dan saweran votenya💪🌹
***
__ADS_1