Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Menangis


__ADS_3

“Tidak mungkin.” tolak Erian.


“Adik kecil, aku tau, sejak dulu kamu menyukai kekasihku, Nurbaya. Aku paham dengan cinta monyetmu.” ucap Erian masih dengan tersenyum.


“Kau boleh berpikir kalau aku adalah sainganmu, karena itu benar. Aku memang menyukai Kakak dan tak pernah menyukai hubungan kalian.” sahut Satria.


“Akan tetapi, kau harus ingat, aku tak suka melihat Kakak sakit dan bersedih. Jadilah pacar yang baik untuk Kakak.” sambung Satria lagi dengan sorot mata tajam.


Erian hanya diam, menatap pria yang baru beranjak remaja di hadapannya sedang berciloteh.


“Kau masih ingatkan, saat Kakak mendapatkan masalah di acara ulangtahun temannya Melani?”


“Semenjak kejadian itu, Ia semakin takut. Jadi, jangan memaksa Kakak.” ucap Satria, kemudian ia menepuk pundak Erian yang lebih tinggi darinya.


Erian pun pulang dengan perasaan bercampur aduk. “Benarkah?” Itulah yang ia pikirkan.


Hari berlalu, Erian mencaritahu kebenaran itu, Ia mencoba meminta mencium Nurbaya kembali, namun gadis itu selalu memberi banyak alasan.


“Tidak baik kita berciuman, nanti aku bisa hamil.” tolak Nurbaya.


“Kenapa hamil? Aku hanya menciummu, bukan menggaulimu.” protes Erian.


“Tapi aku takut.”


“Tidak apa-apa Aya, kita bisa mencobanya perlahan, tidak buru-buru. Aku hanya minta cium, bukan menjamahmu.” jelas Erian lagi.


“Tapi, aku belum siap sekarang, Erian.”


“Baiklah, kita coba besok.” ucap Erian dengan tersenyum.


Beberapa hari kemudian, Erian mencoba meminta lagi.


“Aku lagi haid, tidak baik jika di cium, nanti hormonnya bisa terganggu.” Nurbaya beralasan lagi.


“Apa hubungannya?” tanya Erian.


“Kalau ciuman itu, nanti aku bisa hamil, karena masa subur.”


“Alasan tidak masuk akal apa itu? Yang benar saja? Kita bukan anak kecil lagi, Aya.” ucap Erian ketus.

__ADS_1


“Kita sudah dewasa, bahkan di pelajaran kelas 2 SMP saja kita sudah belajar tentang Reproduksi? Kita sudah kuliah sekarang. Bukankah itu alasan yang paling bodoh?” sambung Erian.


“Hamil itu disebabkan jika bertemunya alat reproduksi? Kita hanya berciuman, bukan mempertemukan alat reproduksi kita!” ucap Erian kesal.


“Kau terlalu banyak alasan!”


“Maaf, maafkan aku Erian. Tolong beri aku waktu.” Nurbaya berkata lirih.


Erian menghela nafasnya. “Baiklah, maafkan aku juga Nurbaya. Aku tadi terbawa perasaan. Aku hanya ingin membuktikan perasaanmu saja padaku. Aku kawatir kau tidak menyukaiku, karena kau tak mengizinkanku menciummu.”


Hari-hari di lalui dengan bersabar oleh Erian, hingga kekecewaan nya membuncah.


“Kenapa? Apakah kamu jijik denganku?” tanya Erian.


“Tidak.”


“Atau kau tak percaya padaku? Kau tak mencintaiku?” tanya Erian.


“Aku percaya dan aku mencintaimu.”


“Bohong! Kalau kau cinta, kenapa kau selalu beralasan.” seru Erian dengan emosi, suaranya sudah naik beberapa oktaf.


“Dosa? Kau mengatakan dosa padaku? Kalau kau bahas dosa, kau dan aku banyak dosa. Lalu kenapa kau mau berpacaran denganku? Bukankah di Agama kita, berpacaran itu haram? Kenapa kau mau jadi pacarku, hah?!” Erian benar-benar emosi, saat mendengar alasan dari Nurbaya.


Nurbaya terdiam. “Aku sudah sabar Nurbaya, sangat-sangat sabar!” Erian menyandang tasnya lalu pergi meninggalkan Nurbaya sendirian.


Semenjak itu, Erian tak pernah meminta cium lagi pada Nurbaya, bahkan enggan menggenggam tangan Nurbaya juga. Sampai hubungan mereka berlangsung 6 tahun lamanya.


Satu tahun terakhir ini, ia benar-benar lelah dan tergoda oleh perempuan lain yang mempesona. Ia berselingkuh dengan gadis itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Nurbaya.


Dengan selingkuhan nya itu, ia merasakan yang namanya ciuman, bahkan ciuman yang panas membahana. Hingga sekarang, Ia merasakan surga dunia yang di berikan gadis selingkuhannya itu.


Perasaannya pada Nurbaya pun mulai memudar, dan ia lebih memikirkan dan mementingkan gadis yang tertidur polos tanpa busana dihadapannya sekarang ini.


Erian menghela nafas panjang. Lalu membelai rambut gadis yang tidur disampingnya. “Apa yang harus aku lakukan?” Erian berpikir.


Disatu sisi, ia nyaman bersama gadis yang memberikan dia kepuasan. Di sisi lain, keluarga mereka telah tau hubungannya dengan Nurbaya.


**

__ADS_1


Nurbaya yang selalu memikirkan sifat Erian yang berubah satu tahun belakangan ini sering termenung, bahkan saat di putuskan Erian kemarin ia menangis sampai matanya bengkak seperti di gigit tawon.


“Hubungan kita sudah 6 tahun. Apakah kau mulai bosan padaku?” Nurbaya menatap wallpaper handphone, di sana terpampang foto Erian yang sedang tersenyum manis.


Pesan yang ia kirimkan jarang di balas. Sebenarnya, Nurbaya ingin sekali memaki Erian, namun ia menahan, ia hanya ingin berbicara baik-baik dan bertanya. Ia takut Erian memutuskannya secara sepihak lagi.


Pagi ini, Nurbaya menerima sebuah paket. Di dalam paket itu ada beberapa foto pasangan yang sedang berpelukan. Di dalam foto itu hanya terlihat jelas wajah Erian, sedangkan wanitanya hanya menampakan punggung.


Ia penasaran dan juga cemburu. Apakah Erian selingkuh atau itu hanya sanak saudaranya? Nurbaya masih berpikir positif.


Apalagi pengirim foto itu aneh, tak ada tertera info siapa pengirimnya. Mungkin saja itu hanya perbuatan orang yang sedang busuk hati, yang menginginkan hubungannya dan Erian berakhir.


Dulunya, ada beberapa wanita yang mendekati Erian bahkan menggodanya. Tapi Erian setia dan selalu mencintainya. Jadi, saat ini Nurbaya juga yakin, Erian tidak akan berselingkuh.


Nurbaya masih menunggu, bahkan handphone tak lepas dari tangannya. Menunggu kapan Erian akan menelfonnya.


Di tempat lain, tepatnya di kantor cabang Damrah Groub. Satria meremas foto yang diberikan pengawal padanya.


“Laki-laki bedeb*h! Aku tak akan membiarkanmu menikah dengan Kakak!” Suara Satria lantang.


Sekretaris Dewa dan 2 Pengawal itu hanya bisa diam. “Kalian cari bukti lebih kuat. Pastikan laki-laki brengs*k ini tidak bisa menyentuh satu helai pun rambut Kakak!” Satria melempar foto yang ia remas itu ke arah pengawal.


Pengawal itu tak mengelak sedikitpun.


“Kau juga harus menyelesaikan urusan kantor hari ini, aku mau pulang!” Menatap Sekretaris Dewa.


“Baik, Tuan Muda.” jawab Sekretaris Dewa patuh.


Satria langsung menelfon Pak Hamdan.


Dengan kecepatan tinggi, Satria telah sampai di rumah diantar oleh Pak Hamdan. Ia langsung mencari Nurbaya, ia menemukan gadis itu di dalam kamarnya dengan mata merah, gadis itu baru saja menangis. Bahkan buru-buru menghapusnya setelah melihat Satria.


Ia langsung melempar jasnya pada Nurbaya. “Cuci jasku!” perintahnya.


“Kenapa menatapku seperti itu, cepat cuci sana!”


“Sekarang?” tanya Nurbaya.


“Bukan, minggu depan! Ya sekaranglah, kalau bukan sekarang, kenapa harus aku suruh Kakak cuci. Cepat cuci yang bersih!”

__ADS_1


Satria membuka baju kemejanya dan melemparnya ke wajah Nurbaya lagi. “Cepat, kenapa lama sekali sih!”


“Dasar bocah nakal, aku bukan pembantumu!” seru Nurbaya, kemudian ia melempar Satria dengan baju yang dilempar Satria tadi.


__ADS_2