Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Seperti tadi?


__ADS_3

Satria mendekat, meraih tangan Nurbaya yang menutupi hidungnya, memasukkan jari jarinya di sela jari jemari Nurbaya. Menempelkan keningnya dengan kening Nurbaya, ujung hidung mereka pun bertemu, bahkan hembusan nafas merekapun saling terasa.


“Apakah terlalu bau, Sayang. Bukan seharusnya ini wangi yang menggairahkan?” tanyanya lembut.


Tukt! Nurbaya mengantukkan keningnya dengan kening Satria. “Sudah ku bilang bau, kau malah mengatakan wangi, seleramu payah!” ejek Nurbaya. Ia menarik tangannya dari genggaman hangat Satria.


“Baiklah, Sayangku, aku akan mandi kembali. Cup!” Ia mengecup kening Nurbaya.


Bergegas masuk ke kamar mandi, mandi secepat kilat agar aroma parfum itu hilang. Selang Satria mandi, Nurbaya mencari handphonenya, tak bertemu. Ia mencari handphone Satria juga tidak ada.


Ia pun hendak keluar, meminjam handphone salah satu pengawal untuk memanggil handphonenya, mungkin saja ia lupa, hingga menaruh sembarangan. Ia memegang gagang pintu, memutar, pintu terkunci. Ia mengedarkan pandangan, mencari dimana kunci ataukah pakai kartu membukanya. Namun tak bersua satu apapun.


Satria keluar dengan lilitan handuk di pinggang, serta senyuman bahagia yang merekah dari bibirnya.


Berjalan mendekat ke lemari, mengeluarkan 5 botol parfum. “Sayang, kamu suka parfum yang mana, untukku pakai?”


Nurbaya mengernyitkan keningnya. “Kemarilah, Sayangku.” Menarik tangan Nurbaya, meminta gadis itu memilih. “Ciumlah, mana yang kamu suka baunya.”


Nurbaya masih bergeming.


“Sayangku, kenapa kau diam saja?” Berbisik di telinga Nurbaya.


“Terserah kau saja, apa kau melihat handphone ku?” tanya Nurbaya.


“Tak tau.” jawabnya acuh. Lalu, Ssrrtt! Srrtt! Satria menyemprotkan parfum ke tubuh Nurbaya.


“Bocah nakal, apa yang kau lakukan!”


“Bocah?” Satria menaikan alisnya. “Kau mengatakan aku bocah, Sayang?”


“Bukankah sudah aku ingatkan, jangan memanggilku seperti itu lagi.” Menatap Nurbaya serius.


“Baiklah, Adik kecilku yang menggemaskan. Apakah kau melihat handphone ku?”


Satria menyunggingkan senyuman, “Adik kecil?” Masih menatap Nurbaya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Baiklah, karena istriku ini suka dengan Adik kecil,” Satria merangkul pinggang Nurbaya. “Aku akan segera membuatkan adik kecil untuknya di sini.” Tangan Satria satu lagi mengelus perut Nurbaya yang ramping.


Mata Nurbaya membulat sempurna. Apa yang dikatakan bocah nakal itu barusan?


“Apa kau suka adik kecil di sini, Sayang?” tanyanya menggoda, Ia sedikit membuka bibirnya, sekilas terlihat seperti bibir lelaki mesum.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan, hah? Anak kecil bahas begituan.”


“Aku suka tantangan ini. Cup!” Satria langsung memberikan ciuman hangat di bibir Nurbaya. Kupu-kupu kecil seolah sedang terbang dengan alunan musik dibawa angin yang sedang berhembus. Melayang, Nurbaya menikmati ciuman hangat itu. Pemuda yang baru saja ia katakan anak kecil telah ahli melakukannya.


Bibirnya yang menggoda dan lidahnya yang liar bisa membawa Nurbaya melayang ke nirwana. Rasanya meletup-letup, berdebar-debar, tak bisa diungkapkan jika tak merasakannya sendiri. Inilah ciuman hangat nan mesra namun menuntut.


Kemiringan kepala yang sempurna dengan elusan tangan yang lihai meraba pinggang, pinggul, lalu punggung dan terakir di paha. Nurbaya sangat menikmatinya dan membalas ciuman itu tak kalah rakus.


Satria melepaskan pagutan itu, mata mereka berdua sama-sama sayu dengan nafas memburu.


“Apa kita melakukannya sekarang, Sayang.” bisik Satria manja.


Glug! Nurbaya menelan salivanya. Ia suka dengan kejadian barusan, sangat suka. Namun, ia masih belum siap bercinta dengan pemuda yang ia anggap adik.


Nurbaya menolak, mendorong tubuh Satria. “Jangan terburu-buru.” sahut Nurbaya, ia tampak berpikir keras.


“Baiklah,” Satria mengambil celananya. Ia memakai celananya, sejak tadi ia masih berlilit dengan handuk di pinggangnya.


“Coba dulu parfum ini, mana yang kamu suka aromanya, aku akan memakai mana yang kamu suka. Ayo, pilih.” Satria meminta Nurbaya kembali memilih.


Nurbaya memilih dan menyerahkan aroma yang ia suka. “Jangan banyak-banyak semprotnya.” Ia menegur Satria saat pemuda itu menyemprotkan lebih dari 5 kali semprot.


“Iya, Sayangku.” Langsung memeluk erat pinggang Nurbaya.


“Auwwch!” Satria berteriak, meringis, ngilu.


Hingga drama ia berpura-pura pingsan setelah di tendang siotongnya. Lalu, drama ia merajuk mengusir Nurbaya dari kamar hotel yang jelas-jelas ia kunci.


“Tuan Muda, pintunya di kunci.” ucap Nurbaya.


Satria menyunggingkan senyuman misteriusnya. 'Tuan Muda, kau memanggilku, Tuan Muda? Baiklah, sepertinya kau ingin menjadi pelayan ku malam ini, mari layani aku malam ini, istriku.'


“Oh, kau sekarang sudah sadar, ya, kalau aku ini, Tuan Muda? Bukankah tadi, kau dengan berani memanggil namaku dengan bebas.” ucap Satria dingin.


“Kenapa kau masih di sana? Cepat keluar!” usir Satria lagi.


“Tuan Muda, pintunya di kunci.” ucap Nurbaya lagi. Jelas-jelas panggilan ini adalah panggilan ejekan. Nurbaya selama ini sangat jarang memanggil Tuan Muda, lebih sering memanggilnya dengan Adik kecilku.


“Oh, jadi kau ingin kunci ini?” tanya Satria dengan nakal. “Kemarilah!” perintah Satria dengan memainkan jari telunjuknya untuk memanggil Nurbaya mendekat padanya.


Nurbaya diam membeku, ia tahu, kalau Satria akan membalasnya, “Apa kau tak ingin kunci ini?” tanya Satria lagi.

__ADS_1


“Iya, Tuan Muda.” Nurbaya mengangguk.


'Bagus, mari kita bermain Tuan dan Pelayan istriku, akan aku layani dramamu.' Satria bergumam dalam hati.


“Kalau kau mau, kemarilah! Mendekat padaku! Akan aku berikan kunci ini padamu.” Tersenyum jahil.


“Apakah Tuan Muda mau berjanji, tidak akan melakukan yang seperti tadi?”


“Tadi?! Seperti yang mana?” tanya Satria, ia masih berpura-pura lupa, padahal ia sangat ingat jelas kalau dia menciumi seluruh wajah Nurbaya hingga berakhir di dada gadis itu.


“Yang seperti tadi.” ulang Nurbaya kembali.


“Yang mana? Aku tak ingat. Kemarilah, jika kau ingin kunci ini.” Satria memainkan kunci itu di tangannya.


“Iya, Tuan Muda.” Nurbaya berjalan perlahan mendekat padanya, lalu menghentikan langkah itu di tepi ranjang yang beberapa langkah dari Satria.


“Kemarilah, mendekat padaku.” Nurbaya melangkah satu langkah.


“Lebih dekat lagi.” Nurbaya bergeser satu langkah lagi.


“Lagi!” Nurbaya menambahkan langkahnya satu langkah lagi.


“Sebenarnya, kau ingin kunci ini atau tidak?” tanya Satria memicingkan matanya.


“Iya, Tuan Muda. Nurbaya melangkah cepat mendekat.


Satria tersenyum dalam hati. 'Yes, kau terpancing dan masuk jebakanku, istriku!' Ia langsung menarik dan memeluk Nurbaya, menindih gadis itu. “Coba katakan, apa keinginanmu tadi?”


“Saya berharap, Tuan Muda tidak melakukan hal yang seperti tadi.” sahut Nurbaya pelan, waspada dengan posisinya yang berada dibawah tubuh Satria sekarang.


“Seperti tadi?” Satria menatap wajahnya dalam. “Hm... mhm...” Satria langsung mengecup bibir Nurbaya, lalu turun ke lehernya. “Apakah maksudmu seperti ini, Sayang?” tanya Satria dengan senyuman nakalnya.


Nurbaya hanya bisa pasrah merelakan mungkin malam ini akan menjadi malam pertamanya.


Satria melepaskan pelukannya, duduk sembari terkekeh. “Nih kuncinya.” ucap pemuda itu.


Mata Nurbaya mendelik, ia langsung duduk dan hendak meraih kunci itu.


“Tunggu dulu,” Satria menarik kunci itu.


“Cium aku dulu!” perintahnya. Nurbaya terdiam dengan bola mata yang membulat sempurna.

__ADS_1


Bukankah sejak tadi mereka sudah berciuman?


***


__ADS_2