
Bi Mona sudah berputar mengelilingi rumah, ia sangat cemas saat tak menemukan Satria. Apalagi Arnel dan Aira. Bagaimanapun juga, kematian anak dan menantunya adalah janggal, bahkan belum ditemukan pelaku pembunuhannya. Arnel tak bisa menebak, karena musuh begitulah banyak. Belum lagi, musuh bebuyutan Ayahnya, Ari Damrah.
Padahal begitu banyak penjaga, bahkan di rumah sendiri. Ia masih bisa kecolongan.
Nurbaya berjalan melenggang santai saat melihat orang kelinglungan. “Mencari apa, Bu?” tanyanya.
Bi Mona langsung terisak. “Tuan Muda... hiks, hiks,” katanya sesungukan.
“Maksudnya Tuan Muda Satria? Kenapa?”
“Apa kau melihatnya?” Bi Mona langsung bertanya, saat melihat raut wajah anaknya biasa saja, biasanya gadis itu paling lebay tentang Satria.
“Ada. Dia tidur di kamarku.” jawabnya santai.
Aira dan Arnel hampir saja jantungan mendengar jawaban santai Nurbaya itu. Mereka langsung berlari ke kamar Nurbaya, yang di susul juga oleh Nurbaya dan Bi Mona.
Setelah melihatnya, Aira langsung memeluk Nurbaya. “Syukurlah.” ucapnya lega.
Arnel langsung menggendong Satria, ia membawa anak laki-laki itu ke dalam kamarnya yang di jaga banyak penjaga dan CCTV.
**
Hari-hari terus berlalu, Nurbaya membawakan beberapa cemilan untuk Satria. Mereka selalu memakannya sembunyi-sembunyi di dalam kamar, lalu Satria akan tertidur di sana. Sekarang, semua orang sudah tahu, jika Nurbaya pulang, cari saja Satria di kamar Nurbaya terlebih dahulu.
Satria lebih sering diam dan mendengarkan apapun yang dikatakan Nurbaya, Ia anak yang pintar, ia selalu mencerna apapun yang dikatakan Nurbaya padanya, walaupun hal kecil remeh temeh.
“Kak, setelah selesai sekolah, apa yang ingin Kakak lakukan?” tanyanya menatap Nurbaya sambil mengemut permen tangkai rasa susu yang dibelikan Nurbaya untuknya.
“Kuliah, lalu bekerja.” sahutnya sembari mengelus kepala Satria kecil.
“Kuliah itu seperti apa?” tanyanya menatap Nurbaya dengan mata beningnya.
“Sama seperti sekolah juga, tapi pakaiannya bebas, gak seragam seperti baju yang Kakak pakai biasanya.” Satria mengangguk.
“Kalau kerja, Kakak dimana?”
“Kuliah aja belum tamat, gimana mau cari kerja. Tamatin kuliah dulu, baru mikir kerja.” Nurbaya mencubiti pipi Satria gemes. Muach! Muach! Lalu menciumi pipi anak laki-laki itu.
__ADS_1
“Ini Kakak punya pancake kacang. Ayo cicipi.” Nurbaya menyodorkannya pada Satria. Anak kecil itu tampak diam sesat, lalu menatap Nurbaya lama.
“Ayo, aaaaaam!” Nurbaya menyuapi kue itu.
Satria menatap sambil mengunyahnya. “Pintar.” Ia mengelus rambut Satria.
Tak berapa lama, Satria terdiam lama, tak menjawab apapun lagi perkataan Nurbaya, ia hanya menggaruk dengkulnya, sikunya, lalu wajahnya. Nurbaya menatap wajah imut Satria telah berubah bengkak-bengkak kecil dan memerah.
“Ibu, Ibu!” Ia berteriak memanggil Bi Mona.
“Ada Apa?!” Bi Mona mendengus.
“Ibu, adikku sakit, huhuhuhu.” Nurbaya menangis, lalu menarik tangan Ibunya.
“Ya ampuuuun, Tuan Muda!“ Bi Mona langsung menggendong dan menelfon dokter keluarga. Juga mengabari Aira. Sebelum dokter datang, Bi Mona dengan sigap mengoles dengan minyak kayu putih terlebih dahulu, lalu memberikan air putih hangat untuk diminum Satria.
“Apa yang kau berikan pada Tuan Muda?”
“Permen susu dan pancake kacang.” jawab Nurbaya menunduk.
Bi Mona terus saja cerewet memarahi Nurbaya, bahkan sampai Aira pun pulang, masih saja ia marah. Satria mengenggam tangan Bi Mona, lalu menggeleng. “Aku yang meminta, bukan salah Kakak, Bi.”
Bagi Satria, apapun yang diberikan Nurbaya untuknya adalah hadiah. Bahkan walaupun ia tau, dirinya alergi kacang. Jika Nurbaya yang menyuapinya, ia akan memakannya.
Semenjak kejadian itu, Nurbaya tak lagi membawakan cemilan, walaupun Satria sering menanyakannya. Nurbaya sedikit menjauh darinya dan tak membawakan cemilan lagi, ia pun meminta Nurbaya menemaninya tidur, yang biasanya Bi Mona yang akan menemaninya atau Aira.
“Aku tidur sama Kakak ya, malam ini. Kakak mau 'kan temani aku?” tanyanya dengan mata berbinar, memegangi jemari tangan Nurbaya yang jauh lebih besar dari tangan kecilnya.
“Kenapa? Biasanya sama Ibu atau Nona Besar.”
“Aku mau tidur sama Kakak malam ini. Ingin denger Kakak bercerita, ya.”
“Aku tak punya cerita.” Nurbaya menolak. Bi Mona memelotot kan matanya.
“Baiklah, Kakak akan menemanimu tidur dan menceritakan tentang itik si buruk rupa.” Satria mengangguk penuh semangat.
Nurbaya masuk ke dalam kamar Satria. Di depan pintu ada dua orang pengawal, lalu di luar jendela, dekat balkon kamar juga ada penjaga. Nurbaya membaringkan tubuhnya, bersandar di ranjang king yang sangat empuk.
__ADS_1
‘Nyaman sekali, bisa-bisa aku yang tertidur duluan di sini.' gumamnya.
Satria langsung memeluknya, Nurbaya juga membalas pelukan itu sembari mengusap kepala Satria. “Baiklah, Kakak akan bercerita tentang itik si buruk rupa.”
“Pada suatu hari, hiduplah itik si buruk rupa, bulunya bercorak hitam keputihan, ia tak bisa terbang tinggi karena badannya yang besar. Ia jatuh hati pada bangau jantan yang berwarna putih bersih.”
“Bukan hanya itik yang menyukai bangau, namun begitu banyak burung lainnya, itik bersedih, namun ia selalu berusaha, agar bangau menjadi miliknya. Apapun ia lakukan, termasuk memberikan cacing dan ikan kecil untuk makanan bangau, padahal saat itu ia juga sedang kelaparan.”
Satria terdiam, mencerna cerita yang di bacakan Nurbaya asal. Cerita yang baru saja asal ia karang.
“Lalu?” tanya Satria penasaran.
“Bangau menerima angsa putih. Mereka selalu bersama, membuat itik sangat sedih.”
“Loh, kok begitu, Kak. Kasihan dong itiknya?” protes Satria.
“Ya, itulah namanya perjuangan. Karena dia menyukai bangau, jadi dia berjuang dan menahan sedihnya sendiri.”
“Kasihan.”
“Tapi akhirnya, angsa putih tak lagi tertarik dengan bangau, menurutnya bangau banyak kurangnya, tidak gesit. Jadi ia meninggalkan bangau. Itik mendekati bangau diam-diam, meletakkan cacing dan ikan kecil di samping bangau sembunyi-sembunyi.
'Apa ini semua kau yang melakukannya?' tanya bangau pada itik. Satria menatap lekat wajah Nurbaya yang sedang bercerita.
“'Terimakasih, kau selalu ada untukku. Maafkan aku selama ini tak sadar, jika kaulah yang paling terbaik untukku. Mau kau kau bersamaku?' Itik pun hidup bahagia bersama bangau. Tamat.”
“Sekarang ayo tidur, ceritanya sudah selesai, Kakak juga ngantuk.” Satria mengangguk, lalu memeluk erat Nurbaya.
Satria terus berpikir, mengartikan semua cerita Nurbaya dalam versi pikirannya sendiri. Menurutnya, cerita Nurbaya artinya, dia harus seperti itik kalau bersama Nurbaya, agar Nurbaya selalu bersama dirinya dan tak meninggalkannya.
Ia tersenyum, lalu tertidur sendiri. Begitupula Nurbaya juga sudah tertidur pulas. Aira dan Bi Mona mengintip mereka.
“Mereka sudah tertidur rupanya.” Aira berucap sembari tersenyum.
“Iya, Nyonya.”
***
__ADS_1