
Satria tak betah bersama Arnel, mengobrol hal yang tak penting menurutnya, belum lagi ia melihat Nurbaya beranjak pergi. Ia pun semakin gusar, karena Nurbaya tak kunjung tampak.
“Kek, aku ke sana, mau ketemu Kakak.” pamitnya.
Ia berjalan mencari keberadaan Nurbaya. “Ah, si*l! Di aula ini tidak bisa membawa pengawal lagi!” kesalnya.
Biasanya, pemuda itu mengandalkan pengawalnya jika kehilangan jejak Nurbaya. Belum lagi, ponsel gadis itu tak bisa dihubungi.
“Ke mana sih, Kakak pergi?” Ia mengacak rambutnya frustasi.
'Apa aku cek melalui CCTV aja? Aku akan mencari penanggung jawab aula hotel ini.' gumamnya dalam hati.
Saat ia berjalan keluar dari aula, hendak masuk ke ruangan lain, ia melihat sekilas ada seorang gadis di kejauhan bersandar di ujung koridor sana.
Ia menajamkan matanya, berjalan perlahan, lalu Ia yakin itu adalah Nurbaya, dari dress navy yang ada pita di lekukan pinggangnya.
“Kakak!” panggilnya, Ia berjalan cepat ke arah Nurbaya. Bahkan berlari kecil.
Nurbaya terkejut, ia bergegas menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah Satria yang sedang berlari.
“Kenapa kakak di sini?” tanya Satria menatap Nurbaya lekat.
Matanya memerah, jelas gadis itu baru saja menangis, tak bisa di bohongi, walaupun ia telah menghapus air matanya.
“Kakak menangisi pria itu?” tanya Satria, Ia memilih bersandar juga di samping Nurbaya, menatap lurus ke depan.
“Aku harap, Kakak tidak mencintai pria itu lagi. Lupakanlah dia,” kata Satria dengan suara beratnya.
Keadaan hening seketika, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hingga keheningan itu pecah saat Nurbaya mengajukan pertanyaan.
“Apa aku jelek?” tanyanya masih menatap lurus ke depan.
“Tidak.” jawab Satria datar, Ia juga menatap lurus ke depan.
“Apa aku hina dan kelainan?”
“Tidak.”
“Tapi kenapa mereka menghinaku, aku wanita berkelainan, apa karena aku anak seorang pembantu? Jadi aku tak di cintai?” ucap Nurbaya tiba-tiba lirih, air matanya mengalir.
Satria menatapnya, memegang tengkuk Nurbaya, sampai wajah Nurbaya menghadap padanya. Ia mengangkat dagu Nurbaya dengan tangan satunya lagi, sampai wajah gadis itu mendongak.
Satria menghapus airmata Nurbaya, “Kau sangat cantik bagiku, kau adalah bidadari di hatiku, tidak ada wanita yang lebih cantik darimu.” ucap Satria menatap manik mata Nurbaya yang masih basah.
__ADS_1
Cup! Satu kecupan hangat di bibir Nurbaya.
Gadis itu memejamkan matanya, setetes airmata bergulir di pipinya. Hatinya yang sakit, remuk redam, menjadi menghangat dengan sentuhan dan perkataan Satria barusan.
Pemuda ini selalu melihat keadaan terlemahnya, Nurbaya menggelayutkan tangannya di leher Satria. Mereka pun berciuman dengan haru biru. Dada yang tadi sesak, kini berangsur membaik.
Satria melepaskan ciuman hangat mereka. “Jangan bersedih lagi, ada aku.” Ia membelai pipi Nurbaya lembut.
“Ayo, kita pergi dari sini, Kak!” ajak Satria, Ia menggenggam erat jemari Nurbaya, berjalan bergandengan tangan.
Satria menghubungi Pak Hamdan, lalu mereka di antarkan ke tepi pantai yang sedikit sepi.
“Aku suka pantai, aku tak memaksa kakak menyukai pantai juga, tapi kali ini temani aku di pantai, ya.” ucap Satria saat mobil berhenti di tepi pantai.
Ia mengajak Nurbaya turun dari mobil. Lalu, mengibaskan tangannya. Artinya, Pak Hamdan silahkan pergi kemana saja, aku tak ingin di ganggu, datang saat aku hubungi kembali. Kira-kira begitu yang di tangkap Pak Hamdan.
Satria duduk di pasir, lalu menarik tangan Nurbaya yang enggan mengotori dress-nya.
“Tak apa, duduklah! Serahkan saja pada loundry, jika pakaian Kakak kotor.” ucapnya tersenyum kecil.
Nurbaya mendengus, lalu menghenyakkan pantatnya di samping Satria.
Satria menatap lurus ke depan, menikmati deru ombak. “Aku suka pantai, walaupun berisik tapi menenangkanku.”
“Di pantai, aku membuat istana pasir, istana itu sangat mudah roboh dan hancur, tapi aku selalu saja membuatnya. Papa selalu bilang, 'Jagalah kepercayaan seseorang, karena kepercayaan itu sama seperti istana pasir ini, ia indah dan sangat sulit untuk dibuat, tapi ia gampang hancur di terpa sesuatu.' Jika seseorang percaya padamu, maka pertahankan lah sebaik mungkin.”
“Aku masih mengingat itu, sama seperti halnya gelas kaca yang hancur. Tak akan bisa utuh kembali, sama seperti hati Kakak sekarang. Kakak sangat percaya pada bajing*n itu, (*Satria memelankan kata bajing*n, karena tak ingin Nurbaya bertambah kesal*) sehingga membuat hati kakak sesedih ini.”
“Aku hanya memiliki beberapa memori yang tak jelas tentang Mama dan Papa, karena mereka telah pergi di saat aku kecil. Saat aku melihat Kakak kala itu, aku bahagia.”
“Aku selalu kesepian selama ini, tak memiliki teman, tapi Kakak selalu menemaniku. Kakak selalu percaya padaku, menyemangati ku dan mengingatkanku. Aku suka.” ucap Satria tersenyum, masih menatap lurus ke depan.
Nurbaya menatap wajah Satria, hatinya menjadi berdebar saat ini, perkataan pemuda ini menghangatkan hatinya, 'Sebuah Kepercayaan' Pemuda di depannya ini selalu percaya dengan apa yang ia katakan semenjak dulu, padahal ia sering berbohong dan hanya sebatas menghibur Satria saja.
Entah di hembus angin surga darimana, Nurbaya tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Satria, menggenggam erat tangan pemuda itu. Satria membalas genggaman itu juga.
“Aku tak suka melihat airmata mengalir dari mata Kakak. Aku hanya ingin melihat Kakak tersenyum bahagia. Jadi, jangan bersedih lagi, ya, Kak. Lupakanlah laki-laki yang telah menghancurkan kepercayaan Kakak itu.”
Satria mencium punggung tangan Nurbaya yang ia genggam.
“Aku sayang sama, Kakak.”
“Aku juga.” sahut Nurbaya.
__ADS_1
“Menikahlah denganku.”
“Ya.”
“Benarkah?” tanya Satria antusias, sampai Nurbaya mengangkat kepalanya dari bahu Satria.
“Benarkah, Kakak bersedia?” tanyanya lagi dengan semangat.
“Bersedia apa?” tanya Nurbaya tak mengerti.
“Yang barusan!”
“Melupakan Erian yang telah menghancurkan kepercayaan ku, kan?”
??!! Satria langsung meloyo kembali.
“Jangan bersedih seperti itu, Kakakmu ini hanya sedang patah hati sebentar, percayalah aku akan segera bahagia. Kaaaan, ada Adikku yang tampan ini selalu menghibur. Iya, kan?” tanyanya menggoda Satria.
“Hm,” Satria hanya mendengus. Ia ingin mendengar jawaban yang tadi, bukan yang ini.
“Kak,”
“Hm?”
“Menikahlah denganku.”
Nurbaya memiringkan kepalanya, menajamkan pendengarannya. “Kamu bilang apa tadi?” tanyanya.
“Aku ingin menikah dengan Kakak, menikahlah denganku.” Satria mengulang kembali perkataanya.
Nurbaya menatap Satria cukup lama, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahha, dasar bocah nakal, kau mau ngajakin, Kakakmu ini, menikah? Apa karena kamu melihat Erian menikah, kamu jadi ingin menikahiku supaya aku tidak bersedih?”
“Adikku Sayang, menikah itu bukan perihal main-main, ini menyangkut perasaan dan tanggung jawab.” Nurbaya menepuk pundak Satria. Lalu ia berdiri.
“Ayo kejar, Kakak. Kalau bisa,” katanya, lalu berlari.
Satria berdiri dari duduknya, “Kalau aku bisa mengejar Kakak, hadiahnya apa?” teriak Satria.
Nurbaya berbalik, berhenti sebentar, menunjuk bibirnya, lalu berlari. Satria tersenyum kecil, lalu mengejar Nurbaya.
Cukup lama mereka saling berkejaran, tertawa bahagia, hingga berakhir sebuah ciuman hangat penuh kasih sayang. Mereka sudah terlihat seperti sepasang kekasih, namun Nurbaya menganggap hubungan ini hanya sebatas adik kakak.
__ADS_1