Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Menarik Dimata Pria Lain


__ADS_3

Nurbaya berdiri mematung saat Aira masuk ke dalam mobil, yang di kendarai oleh Pak Hamdan. Sedangkan ia di minta menunggu Satria. Mobil itu pergi melaju terlebih dahulu meninggalkannya.


Brum! Brum! Brum! Bugatti Veyron berwarna black berhenti di depannya. “Ayo masuk, Sayang.” Satria mengedipkan matanya.


“Kenapa kau membawa mobil?”


“Aku ingin berdua saja dengan calon istriku, sekalian mencoba SIM baru ku.” Satria tersenyum. Ya, dia baru saja berumur 17 tahun dan baru saja selesai mengurus SIM.


Nurbaya masuk ke dalam mobil. “Mau aku pasangkan sabuk pengamannya, Sayang?” tanya Satria mendekat.


“Aku bisa sendiri. Kamu kesambet apa sih? Biasanya aku juga pakai sendiri.” ketus Nurbaya.


“Kesambet dirimu.” Mengedipkan matanya dengan jahil.


Perjalan mereka kurang mulus, karena Pak Hamdan lupa mengecek minyak, sehingga Satria harus berhenti di SPBU. Selang menunggu, Nurbaya keluar dari mobil, hendak membeli minuman.


Mata Satria menatap tajam ke arah Nurbaya, apalagi saat melihat gadis itu mengobrol dan tersenyum pada laki-laki yang berada di sana. “Pak, kemarilah!” Ia memanggil seseorang yang memakai baju parkiran.”


Sepertinya orang itu tengah beristirahat, Ia baru saja keluar dari Musholla SPBU. “Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?” sahut laki-laki itu sopan.


'Pak?' Satria termenung mendengar, saat ia di panggil Pak, ia padahal belum tua. 'Kenapa tak panggil Dik, atau Nak?' pikirnya.


“Bapak bisa bawa mobil ini untuk mengantri? Saya hendak ke toilet. Saya mohon.” pintanya memohon.


“Insyaallah, bisa, Pak,” kata laki-laki itu. Satria langsung keluar menyerahkan kunci dan beberapa lembar uang merah.


“Isi full.” perintahnya, lalu berjalan pergi.


Laki-laki itu sempat heran, arah toilet dengan arah Satria berjalan sangatlah berbeda. Namun ia tak ingin ambil pusing, ia memilih masuk ke dalam mobil keren itu. Ia amatlah senang, sudah lama ia tak menyentuh mobil sebagus ini. Walaupun bisa menyentuhnya saat memarkir saja. Itu adalah suatu keberuntungan juga, menurutnya.


Satria langsung memegang pinggang Nurbaya, saat sampai di sampingnya. Gadis itu mengernyit, risih dan malu. “Kenapa kau di sini? Bukannya kau membeli minyak?”


“Aku minta tolong seseorang.” Ia membuka jacket yang ia pakai, langsung memasangkan di tubuh Nurbaya, bahkan topi jacket itu juga di pasangkan.


Satria terus berjalan, ke arah sudut, di sana ada orang menjual pulsa, kartu dan masker. Pemuda itu langsung membeli masker dan memasangkannya pada Nurbaya.


“Aku pengap pakai masker,” kata Nurbaya menolak, Ia membuka masker itu.


“Aku bilang pakai!” Satria memaksa.


“Untung berada di luar, kalau di rumah sudah ku cakar dirimu ini!” gerutu Nurbaya mengalah.

__ADS_1


“Iya Sayangku, kau boleh mencakar ataupun lainnya saat kita di rumah nanti, apapun boleh.” Satria hendak mencium pipi Nurbaya, langsung di dorong kuat oleh Nurbaya, hampir saja pemuda itu terjatuh, tapi dia dengan sigap menguasai diri.


Mobilnya pun selesai di isi minyak.


“Makasih banyak, Pak.” ucap Satria menyelipkan 2 lembar uang berwarna merah.


Mata laki-laki yang menolongnya itu langsung berbinar. “Terimakasih banyak, Pak.” Ia mencium uang itu, meletakkannya di kepala kemudian di dadanya. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Ya Allah.”


“Semoga Bapak di beri kesehatan, panjang umur dan bertambah banyak rezkinya.” sambungnya lagi.


“Aamiin.” jawab Satria dan Nurbaya serempak.


“Sekalian Pak, do'ain supaya pernikahanku dengan calon istriku ini lancar. Aku akan menikah 3 hari lagi dengannya.” ucap Satria membanggakan calon istri yang duduk di sampingnya.


“Selamat ya, Pak. Semoga perjalanan Bapak lancar. Setelah ini, jangan kemana-mana lagi Pak, gak baik calon pengantin pergi-pergi begini.”


“Ya, makasih sarannya, Pak. Permisi. Tiiiinn!” pamit Satria yang di akhiri dengan klakson.


Nurbaya mengernyit sembari menyunggingkan senyumannya. Sejak kapan Satria mengobrol se-ramah itu dengan orang lain? Apa pemuda itu salah minum obat? Begitulah pikiran Nurbaya.


“Jangan lepaskan jacket dan maskernya jika tidak berada dalam mobil.” ucapnya tiba-tiba, saat Nurbaya melepaskan masker dan jacket.


“Loh? Kenapa?”


Eh? Nurbaya melongo.


Ia meletakkan punggung tangannya di kening Satria. “Kamu gak lagi demam, kan?”


“Siapa yang demam? Aku lagi menjaga perempuan ku! Karena perempuan itu akan sangat menarik dan menggoda di mata pria lain. Aku tak ingin kecantikanmu menarik pria lain. Cukup aku saja yang tergoda, tidak untuk pria lain.”


“Hahahaahaha.” Nurbaya tertawa lepas. Sampai ujung matanya mengeluarkan airmata.


“Apanya yang lucu?!”


“Tak ada. Ehehe.” Masih saja terkekeh kecil di ujung kalimatnya.


“Aku berkata serius Aya, aku tak ingin kau di lirik pria manapun!”


Plak! Nurbaya menyentil kening Satria yang sedang mengemudi.


“Awwh! Aya apa yang kau lakukan? Aku sedang menyetir!” Mengelus kening dengan satu tangannya.

__ADS_1


“Kau sekarang sudah tak sopan lagi ya?”


“Tak sopan?”


“Iya, kau sekarang berani memanggilku dengan nama, siapa yang menyuruhmu besar mulut begitu? Dari dulu sudah aku katakan, jangan panggil aku Aya, tapi panggil KAKAK!” ucap Nurbaya menekan panggilan kakak, sembari menjewer telinga Satria.


“Aduh, Nurbaya, aku kasih tau ya, aku akan menjadi suamimu, kamu yang seharusnya memanggilku Abang atau Mas begitu. Bukan aku yang harus memanggil istriku, Kakak!” jelas Satria.


“Siapa yang akan menikah denganmu bocah nakal! Aku tau ini cuma akal-akalanmu saja, aku tak percaya kita akan menikah.”


Ckiit!!! Satria merem mendadak.


“Aduuuhh! Hati-hati dong, bawa mobilnya!”


Satria langsung mencengkram bahu Nurbaya. “Kamu bilang ini hanya akal-akalan?” Ia tatap Nurbaya dengan serius.


“Iya, akal-akalan bocah nakal sepertimu. Aku tak akan percaya, pikirkan saja pakai akal sehat, mana mungkin Tuan Besar menikahkan cucu semata wayangnya, pewaris Damrah Groub menikah dengan anak seorang pembantu yang jauh lebih tua darinya. Mau di letakkan dimana muka keluarga Damrah.”


Satria menyipitkan matanya, lalu melepaskan cengkraman tangannya di bahu Nurbaya.


Menghela nafas. “Baiklah, Sayang.” Ia tersenyum tipis, membelai wajah Nurbaya.


Kembali melajukan mobil, Satria diam tanpa mengatakan sesuatu sampai di butik temannya Aira.


“Kok lama banget sih sampenya?” Aira menyambut mereka dengan pertanyaan.


“Habis minyak.” jawab Satria dingin. Langsung merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang tersedia.


“Ini Jeng, calon cucu saya.” Aira memegang tangan Nurbaya memperkenalkan. Mereka pun saling berkenalan.


“Mari Nak, Aya.” Teman Aira itu langsung mengajak Nurbaya ke ruang ganti.


Nurbaya mencoba 3 gaun nikah, Satria di buatnya terpesona setiap Nurbaya memperagakan pakaian itu pada Satria dan Aira.


“Kamu cantik banget.” pujinya.


“Cocok, cantik banget.”


“Emang dasarnya, Sayangku ini cantik, semua yang dipakai terlihat sangat cantik.” puji Satria dengan mata berbinar.


Jeng Rita, teman Aira yang menjadi desainar butik ini, tercengang melihat sifat Satria. Pemuda yang ia kenal itu pendiam, dingin bukan seperti ini. 'Apakah ini efek mau kawin?' Jeng Rita pun tersenyum simpul.

__ADS_1


“Cantik semua kan, Nek? Kita beli semua aja, ya?” ucap Satria semangat.


“Satu aja, yang di pakai pas menikah cuma satu. Nanti saja beli baju lagi, untuk resepsi pernikahan kalian, setelah kamu lulus SMA.” jelas Aira.


__ADS_2