
Setelah mandi, mereka berdua keluar, duduk bak Raja dan Ratu di meja makan yang sudah di sediakan. Maklum, tamu VVIP. Suasana romantis dengan pemandangan yang W.O.W B.G.T. Alias Wow bingitz!
Nurbaya yang jarang memakan makanan elit sedikit gugup. Ada sih, jika lagi menemani Satria, tapi tidak seromantis ini, apalagi sekarang statusnya Nyonya Muda keluarga Damrah. Agak gimanaaaaa gitu!
“Kenapa, Sayang? Apa makanannya tidak enak?” tanya Satria menghentikan suapannya, menatap Nurbaya yang makan sangat pelan dan terlihat canggung.
“Enak kok.” sahut Nurbaya mengunyah dengan anggun.
Satria menatap lama. Bahkan berhenti menyuapi makanannya, meletakkan sendok di piring.
“Kenapa kau melihatku begitu? Apa kau sudah selesai makan?”
Satria berdiri, menarik kursi yang berwarna bening hampir menyerupai kaca itu ke samping Nurbaya. “Mau aku suapi?” tanyanya menatap Nurbaya.
“Aku punya tangan, bisa makan sendiri.” jawabnya ketus, tapi masih menyuap dan mengunyah dengan anggun.
“Apa kamu mau aku menyewa tempat ini agar kamu bebas makan?” Menatap dengan sangat serius.
“Ngapain buang-buang uang, sok kaya banget, minta uang aja sama Kakek, tiket bulan madu aja dibeliin Kakek, beli sendiri dong.”
“Kau ini, mulutnya selalu pedas. Aku ini jelas-jelas kaya, sejak kecil sudah punya uang sendiri, masih saja bilang pemberian Kakek. Kalau tiket bulan madu ini, 'kan hadiah. Ngerti gak sih, tentang hadiah.” Satria langsung menyuap makanannya sampai penuh ke dalam mulut.
Pandangannya tak lagi melihat Nurbaya, tapi melihat lurus ke depan lalu ke piringnya.
“Gitu aja ngambeeeekkk.” goda Nurbaya.
“Gimana gak ngambek, suamimu ini sudah kerja sejak kecil, kau itu selalu saja mengatakan uang yang aku punya ini dari Kakek. Kau sendiri tahu, aku bekerja keras seperti ini untukmu, masa gak di puji sedikit pun!”
“Hahahahaha.” Tertawa terbahak-bahak, lupa dengan etika anggun tadi. Menepuk-nepuk lengan Satria. “Aduh, Tuan Muda Satria, Adik kecilku yang tampan lagi menggemaskan, cup, cup, cup, Aku terharu sekali dengan usaha kerasmu merayuku. Hehehehe.” Masih terkikik.
Satria merengut.
“Sayang, sini Kakak kasih tau, kau sangat menggemaskan kalau cemberut begini.” Nurbaya mencubit pipi Satria gemes.
Satria langsung menoleh, memegang kedua pipi Nurbaya.
Deg! Jantung Nurbaya berdetak cepat.
'Apa yang mau dilakukan Bocah Nakal ini? Jangan bilang dia mau mencium aku lagi di sini, apalagi kalau dia mau cium bibirku. Walaupun di sini cuma ada satu meja, yaitu mejaku sendiri. Tetap saja malu, di sini masih ada beberapa pelayan yang berdiri dan duduk di pojok sana serta dua pengawal pribadi. Aaaaaaaaaaah, jangan sampai!'
__ADS_1
“A-apa yang mau kau lakukan?” tanya Nurbaya terbata.
Satria mengernyitkan keningnya. “Istriku tercinta, aku ini suamimu, mulai sekarang jangan panggil dirimu Kakak lagi, ataupun Adik kecil lagi padaku. Panggil aku, Sayang, Abang, Mas atau Hubby.” Menatap manik mata Nurbaya dalam.
Eh? Ckckck. Nurbaya malu dengan pikirannya barusan. Ia terlalu memikir kejauhan. Kirain mau di cium. Hehehe.
“Tapi kenyataan, kau ini adik kecilku,” katanya dengan nada protes. Lalu melepaskan tangan Satria dari pipinya.
“Iya, umur kita berbeda. Tapi ingat, aku suamimu dan kau istriku, sekarang! Ingat itu!”
Terdengar seperti sebuah ancaman, Namun Nurbaya tak peduli.
Satria melanjutkan memakan makanannya, sesekali melihat Nurbaya yang makan lelet seperti siput, tak seperti biasanya. Hingga pada moment, Nurbaya kesusahan memotong daging sapi steak.
“Pfft!” Ia menutup mulutnya. Nurbaya melirik dengan sorot mata tajam.
“Sayangku, makan seperti biasa saja, aku menyukaimu apa adanya, jadi makanlah seperti biasa.” bisik Satria.
Tang! Nurbaya meletakkan sendok dan pisau pemotong daging steak itu dengan kasar. “Kau mengejekku!” Emosi.
Mengambil piring Nurbaya, lalu memotong daging itu. “Bukan Sayang, aku tidak mengejekmu, aku hanya ingin kau seperti dirimu sendiri. Makan seperti biasa, tak perlu makan sepelan itu. Kita bukan lagi hidup di masa kerajaan, yang ada etika pas lagi di depan raja, makannya di anggun-anggunin.” ucapnya santai, tanpa melihat mimik wajah Nurbaya yang merah padam.
“Jadi, makan seperti biasa saja. Aku suka dirimu apa adanya. Mengerti?” Tersenyum lembut.
Sekarang Nurbaya terlihat seperti anak penurut, sejak kapan Adik kecilnya itu menjadi se-dewasa ini? Bukan kali ini sebenarnya, tapi sudah lama ia dewasa lebih cepat dari umurnya, namun selalu bersifat manja dan kekanak-kanakan di depan Nurbaya hanya untuk mencari perhatian gadis itu.
“Ayo, makan lagi, aku suapi, ya.” Satria menyuapi makanan. Nurbaya memakannya.
“Lain kali kita gak usah makan di sini.” ucapnya sambil mengunyah.
“Kenapa?”
“Hm... Gak kenapa-kenapa.”
“Sayang, jangan terlalu banyak berpikir. Jangan pedulikan pendapat orang lain. Ingat, bahkan jika kau makan jungkir balik dengan tanganmu di depan semua orang. Aku masih menyukaimu, tidak akan ada yang berani protes sedikitpun. Jika ada, aku akan menyingkirkan orang itu.” ucap Satria bersungguh-sungguh.
Nurbaya tersenyum. “Ah, kau terkadang terlihat seperti lelaki dewasa yang pemberani.”
“Itu terdengar seperti ejekan.” Satria menyentil kening Nurbaya.
__ADS_1
“Kau!” Nurbaya membalas dengan menjewer telinga Satria.
Satria memegang tangan Nurbaya yang sedang menjewer telinganya itu, lalu menciumnya. “Lain kali, jangan jewer aku lagi, ingat etika sebagai seorang istri. Aku suamimu, jika kau tidak menghargai ku, bagaimana bisa orang lain akan menghargai ku. Paham? Cup!” Di akhir kalimat, sebuah kecupan lembut nan hangat mendarat di tangan Nurbaya.
Uhuk! Uhuk! Nurbaya tersedak.
Satria langsung memberikan minuman. 'Sejak kapan dia seperti ini?' Nurbaya tak menyangka kalau adik kecilnya sudah beranjak dewasa, perkataanya barusan tepat sasaran di ulu hati Nurbaya.
“Akhir-akhir ini, kau terlihat lebih dewasa, ya.”
“Aku sudah dewasa, Sayang. Ingat, aku suamimu, Imammu. Aku bukan asal menikah denganmu, aku menikahimu atas kesiapan ku lahir dan batin, bukan paksaan dari pihak manapun. Ini semua dari lubuk hatiku.
Deg! Deg! Deg! Jantung Nurbaya seperti berdendang bertalu-talu.
“Kau terdengar seperti seseorang yang mengatakan cinta.” ucap Nurbaya.
“Dasar tak peka!” ucap Satria ketus, tersenyum ironi.
Selama mereka makan, pelayan hotel telah merapikan kamar mereka se-rapi dan se-indah mungkin. Menaburi bunga-bunga mawar di atas kasur hingga lantai, persis seperti kamar pengantin. Wangi semerbak menyeruak jika seseorang memasuki kamar itu.
Setelah makan, Satria mengajak ke kamar kembali. Nurbaya awalnya menolak, ia ingin berjalan-jalan dan belanja. Namun, karena Tuan Muda yang nakal itu bilang ia pusing dan sangat kelelahan, mau tak mau Nurbaya menurut.
Dan sekarang mereka telah berada di dalam kamar yang di penuhi bunga-bunga, sedangkan dua pengawal pribadinya sudah berdiri siaga di depan pintu.
Nurbaya melongo dengan pemandangan yang ia lihat. Ia tiba-tiba saja sedikit takut, membayangkan sesuatu akan terjadi di sini!
***
Hehehehe😂
Hai Satria Lovers dimanapun kalian berada, semoga sehat selalu ya, patuhi protokol kesehatan, jangan lupa bahagia pastinya.
Semoga kalian terhibur dengan cerita receh yang tak mendidik ini💪
Jangan lupa dukung Author ya, dengan memberikan like, komentar positif, rate bintang 5, favorit kan ya, kalau ada rezeki boleh dong kasih vote🌹♥️
Yang belum like, boleh di boom like dari bab awal sampai Akhir, supaya Author tambah cemungutz lagi ngajakin kalian ngehalu ria😂
Terimakasih untuk yang selalu mendukung.🙏 Lup Yu💓 Salanghae🌹
__ADS_1