
Haredang!
Warning! Bab ini diperuntukkan untuk 21+
Dilarang keras bagi anak dibawah umur apalagi jomblo akut, takut halu😂🙏🌹
Please, skip untuk dibawah umur!
Bab ini memberikan pengaruh jelek yang tidak mendidik, jadi tolong skip!
🔞🔞🔞
_____________________
Nurbaya mendorong tubuh yang melahap bibirnya dengan rakus itu, ia benar-benar kehabisan nafas, apalagi dengan keadaan yang baru saja tersadar dari tidurnya lelap.
“Kamu....” ucapan Nurbaya terpotong kembali, karena mulutnya sudah di sapu kembali dengan bibir dan lidah yang bergerilya di bibirnya.
“Hm, mhm...” Suara penutup yang terdengar dari bibir Nurbaya, hingga sekarang hanya terdengar suara deru nafas yang memburu dan sedikit alunan suara merdu yang merangsang telinga kaum Adam yang mendengarkannya.
Seseorang yang langsung menerobos ke dalam kamarnya, langsung menciumnya dengan rakus, bahkan kini telah menanggalkan pakaian atasnya, bermain-main dengan dadanya, leher dan bibirnya. Ia tak menyangka. Kini tubuhnya melemah tak bertenaga, tapi hasratnya tinggi membuncah dari tenaganya yang hilang.
Ia kalungkan tangannya di tengkuk pemuda itu, “Aku sangat merindukanmu.” ucapnya lembut dengan suara desahan yang menghipnotis cucu kaum Adam yang bernama Satria itu.
Satria membelai lembut wajah Nurbaya, memberikan kecupan yang dalam hangat dan menuntut. Menciumi bibir, dagu dan meninggalkan tanda kepemilikan di leher dan dada Nurbaya.
Nurbaya meremas lengan Satria, merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dalam tubuhnya, suaranya sudah mulai menggila tak beraturan, matanya semakin sayu tak karuan, belum lagi tangan Satria semakin nakal menjelajahi pinggang, pinggul, paha, dan tempat yang paling sensitif baginya.
“Ah...” Suara yang cukup terdengar nyaring dari biasanya. Pertanda Nurbaya sudah berada ditingkat tak waras lagi. Satria tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun menembus pertahanan Nurbaya dan membenamkan tubuhnya bersama cinta dan rindu yang ia pendam dua minggu terakhir ini.
Ranjang mereka juga ikut bergoyang mengikuti irama dua manusia yang sedang dimabuk asmara itu. Rasanya sungguh berbeda sekali, mungkin dicampur dengan rasa rindu yang membuncah, Nurbaya tak sedikit pun mau melepaskan pelukannya, bahkan lebih agresif menciumi Satria, hingga mereka berdua sama-sama mencapai surga dunia.
Mereka terkulai lemas, Satria menarik selimut dengan kakinya, lalu mengambil dari jari kakinya, menutupi tubuh mereka berdua. Ia lihat Nurbaya lebih dahulu tertidur dari pada dirinya yang jelas-jelas lebih kelelahan.
__ADS_1
“Selamat malam, Sayang. Love You. Cup!” Ia mengecup jemari tangan Nurbaya. Lalu tidur saling menghadap, sembari masih menggenggam jemari itu.
Pagi-pagi sekali, Nurbaya terkesiap. Ia melihat suaminya tidur disampingnya sedang memegangi tangannya.
‘Ya Tuhan, apakah ini serius?' Ia mulai meraba wajah tampan Satria yang tertidur lelap.
Ia juga melepaskan tangannya perlahan, menepuk-nepuk pipinya, mencubit lengannya. ‘Ini bukan mimpi, berarti, semalam kami melakukannya?' Nurbaya membuka selimutnya, melihat tubuh mereka berdua benar-benar polos.
‘Jadi, ini nyata?' Ia masih tak percaya.
'Bukankah kata Pak Wo, dia akan pulang beberapa hari lagi?' Masih berpikir.
“Mhm,” Satria menggeliat, tangannya langsung meraba-raba, dengan setengah mata terbuka, ia rangkul tubuh Nurbaya yang masih mematung ke dalam pelukannya.
Membenamkan wajah Nurbaya di dadanya. Ia pun membelai lembut pucuk kepala Nurbaya. “Aku masih ngantuk.” ucapnya. Nurbaya hanya terdiam. Kemudian tak lama, ia malah membalas pelukan itu, menciumi dada Satria.
“Sayang, jangan menggodaku di pagi hari. Juniorku sangat sensitif di pagi hari. Apa kau siap kalau dia meminta jatah lagi.” Satria mengangkat dagu Nurbaya.
Menciumnya sampai Nurbaya benar-benar terangsang hebat, Ia melakukan gaya baru, memulai teori yang pernah ia baca, menaikkan kedua kaki Nurbaya di atas bahunya, memegangi kedua tangan Nurbaya dan membuatnya bersilang, lalu membenamkan tubuhnya dengan irama cinta mereka.
Pagi yang indah untuk mereka. Selamat bersenang-senang.
Nurbaya terbangun kembali jam 11 pagi, setelah melakukan olahraga ranjang. Ia tak melihat Satria, namun pintu kamar mandi terkunci rapat. “Sayang, kamu di dalam? Aku mau buang air kecil, buka pintu dulu.”
Ceklek! Pintu dibuka, tampak Satria mandi hanya memakai celana d*lam. Sedikit malu, sampai wajah Nurbaya merona menatapnya. Ia bahkan tak sadar, jika dirinya bugil sekarang.
“Kenapa menatapku begitu?” tanyanya melotot pada Satria.
“Apa kau ingin menggodaku lagi?” Sahut Satria dengan senyuman jahil.
Eh? Ia baru saja sadar setelah melihat pantulan tubuhnya dari cermin. Ia segera menutup dada dan bagian sensitifnya, Ia hendak berlari keluar. Namun dicegah Satria.
“Katanya mau pip*s. Atau mau p*pisin aku seperti semalam dan tadi pagi?” goda Satria sembari mengedipkan matanya.
__ADS_1
“Ah, tiba-tiba saja, p*pisku hilang karena kau!”
“Kalau begitu, sini aku bantu, Sayang.” Satria langsung mengelus tubuh bugil Nurbaya. Memainkan dada empuk dan mengecup bibirnya.
“Jangan, tak baik kita melakukannya lagi.” tolak Nurbaya dengan nafas tersengal-sengal.
“Aku sudah mandi, aku hanya membantumu p*pis. Jika aku masih ingin lagi, nanti sore kita bisa main lagi. Tapi sekarang aku lapar, harus makan dulu mengisi tenaga untuk memuaskan istriku yang sangat bertenaga ini.” Menggigit kecil telinga Nurbaya.
Wajah Nurbaya merah padam, malu. “Mau aku bantu pipis, atau pipis sendiri?” tanyanya masih menggoda.
“Cepat selesaikan mandimu! Bagaimana pipisku bisa keluar, kalau masih ada orang!” serunya.
Satria menyiram tubuhnya dengan shower untuk terakhir kali, lalu membuka ****** ******** di hadapan Nurbaya. Memperlihatkan jamur yang terkulai lemas, namun tetap besar dan membuat Nurbaya menelan salivanya, semalam ia tak melihat benda itu karena cahaya lampu yang remang, apalagi Satria tiba-tiba menyosornya tanpa rencana.
“Apa kau masih ingin melihatnya, Sayang?” tanya Satria menggoda.
“Siapa yang ingin melihat, cepat pasang handukmu, lalu keluar!” ucapnya dengan wajah memerah.
Satria melilitkan handuk di pinggangnya, lalu mengecup bibir Nurbaya sekilas.
Setelah Satria keluar dari kamar mandi, Nurbaya langsung meletakkan kedua tangannya di dada. “Ya Tuhan, jantungku berdetak tak karuan, sepertinya aku punya penyakit lemah jantung deh, mungkin gara-gara aku jarang bergerak dan bermalas-malasan setelah menikah.” pikirnya.
Satria tersenyum melihat tingkah laku Nurbaya, tak sia-sia ia bergegas melakukan perkejaannya di Belanda, apalagi mendengar laporan dari Kepala Pelayan kalau Nurbaya akhir-akhir ini terlihat murung dan menanyakan kapan ia pulang. Tentu saja itu membuat Satria bergegas memutuskan untuk pulang.
Seharusnya ia pulang beberapa hari lagi, namun ia tak tahan, ia sudah sangat rindu. Ia sampai di bandara jam 1 dini hari. Dengan sigap Pak Tanto telah standby di sana, ia membawa pulang Tuan Muda nya dengan ngebut sesuai keinginan Satria.
Ia bergegas masuk, mencuci tubuhnya dan memeluk Nurbaya yang sangat ia rindukan, hingga terjadilah malam dan pagi yang penuh cinta.
‘Akhirnya kau dapat jatah juga, ya.' Ia berkata sendiri pada juniornya. Lalu kembali terkikik.
'Baiklak, ayo kita pakai baju santai dulu. Nanti kita akan bersenang-senang lagi. Sekarang kita harus isi tenaga dulu.' Satria membuka lemari dan memakai baju santainya.
***
__ADS_1