Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Keinginan Satria


__ADS_3

Tengah malam, Satria masuk ke dalam ruangan kerja Arnel.


“Satria!” ucap Arnel terkejut. “Kenapa kau belum tidur?” Ia bertanya sembari menutup file yang ia baca.


“Kakek lagi baca apa?”


“Ini tentang data perusahaan. Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam, pergilah masuk ke kamarmu, segera tidur!” perintah Arnel.


“Aku tidak bisa tidur Kek.”


Arnel menatap Satria tajam. “Ada apa? Kau mau apa?” tanyanya penuh selidik.


“Aku ingin punya uang sendiri Kek.”


Arnel mengambil benda pipih di sakunya, kemudian mentransfer angka dengan beberapa nol di handphone nya itu.


Drrrt Drrrt Drrrt... Pesan masuk di handphone Satria.


“Itu Kakek sudah transfer uang tambahan untukmu.” ucap Arnel, kemudian ia menyimpan handphone nya kembali.


“Itu uang Kakek! Aku ingin punya uang sendiri.” sahut Satria.


“Apa bedanya? Antara uang Kakek dan kamu, itu sama. Semua yang Kakek dan Nenek punya akan menjadi milikmu juga.” Arnel berkata serius, menatap Satria.


“Aku ingin menjadi laki-laki mandiri Kek. Mendapatkan uang dengan hasil kerjaku sendiri.” ucap Satria. Arnel pun terkejut mendengarnya.


“Tunggulah setelah kamu tamat SMA atau tamat Kuliah, Kakek akan menyerahkan anak perusahaan untuk kamu kelola. Sekarang kamu belum dewasa, kamu masih Sekolah Dasar.” jelas Arnel.


“Itu tidak masalah Kek. Aku ingin Kakek ajarkan semua tentang perusahaan mulai besok, aku ingin mengetahui semuanya, aku akan belajar sampai aku bisa menggantikan Kakek. Aku akan menjadi laki-laki mandiri yang memiliki uang sendiri.”


Arnel menghela nafasnya.


“Baiklah, jika kau ingin begitu cucu ku. Kakek akan selalu mendukung keinginan mu.” Arnel tersenyum, lalu menepuk pundak Satria.


“Mulai besok, Kakek akan menempatkan satu orang sekretaris kepercayaan untuk mendampingi dan mengajarimu tentang perusahaan kita.”


“Belajarlah semampu mu, jangan terlalu memaksakan diri. Yang terpenting, kamu harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan mu. Karena kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini. Kamu mengerti?” ucap Arnel menatap Satria dalam.


“Aku mengerti Kek. Terimakasih banyak.”


“Iya.” Arnel memeluk Satria sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya.

__ADS_1


“Sekarang tidurlah, kau harus berangkat ke sekolah pagi-pagi.”


“Baik, Kek.” Satria pun pergi keluar dari ruang kerja Arnel, Ia langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya dengan senyuman yang merekah.


Sedangkan Arnel masih menatap keluar pintu ruangan yang telah di tutup Satria tadi. “Tidak ku sangka, rupanya aku sudah semakin tua. Cucu yang sangat ku sayangi itu sudah mulai ingin berjuang sendiri. Rasanya aku belum siap melihatnya dewasa.” Arnel berkata pelan, lalu menghela nafasnya.


“Semoga saja kau selalu bahagia cucu ku.” Arnel mengemasi meja kerja nya. Lalu memilih keluar dan masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Aira sudah tertidur lelap. Arnel mencuci wajah, kaki dan tangannya, lalu tidur memeluk Aira.


“Hm...” Aira menggeliat dan terbangun.


“Kamu sudah selesai?” tanya Aira dengan suara parau nya.


“Belum, tapi aku merasa lelah.”


“Tidak apa-apa Suamiku, jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja, rezki dan keberuntungan sudah ada jalannya masing-masing.”


Cup! Arnel mengecup bibir Aira. “Ya. Aku tahu Sayang. Jangan kawatir, aku tidak akan sakit.”


“Baiklah, aku berdo'a untuk kesehatan dan keselamatan mu, karena aku dan Satria tidak punya sandaran kecuali dirimu.”


“Ya, aku tau Sayang. Tapi Humaira bersama Ronald di Luar Negri.” sahut Aira berwajah lesu.


“Do'a kan saja mereka segera memiliki anak.”


Aira dan Arnel sama-sama berwajah lesu setelah membahas Humaira putri bungsu mereka.


“Tadi Satria masuk ke ruangan kerjaku.”


“Untuk apa?” tanya Aira.


“Dia ingin belajar tentang perusahaan. Dia ingin mencari uang dengan hasil kerjanya sendiri. Padahal, tadi aku mengira dia meminta uang jajan tambahan.”


“Lalu?”


“Ya, aku menstrafernya.”


“Bukan itu maksudku. Maksudku, tentang dia yang meminta padamu ingin belajar tentang perusahaan.”


“Oh itu. Kamu tau kan Sayang, aku tak bisa menolak permintaan sekecil apapun untuk Satria?” ucap Arnel menatap Aira.

__ADS_1


“Hm.”


“Aku akan meminta Dewa mendampingi dan mengajari Satria mulai dari besok.” jelas Arnel menatap Aira lembut.


“Baiklah, semoga saja keputusan ini yang terbaik.” ucap Aira, lalu membalas pelukan Arnel yang sejak tadi memeluknya.


Ia membenamkan kepalanya di dada Arnel kemudian memejamkan matanya.


**


Hari-hari di lalui Satria dengan di dampingi binaragawan, Sekretaris Dewa dan beberapa guru privat, hingga ia tamat Sekolah Dasar.


Satria meminta sekolah di SMP yang berada di dekat tempat kuliah Nurbaya. Awalnya Arnel menolak, ia menginginkan Satria sekolah di ELV SCHOOL. Di sana ada murid dari SMP sampai SMA milik keluarga Damrah berkeluarga. Namun, ia bersikeras dan akhirnya Arnel pun mengizinkannya.


Sejak SMP pertumbuhan tubuh Satria bertambah dengan sangat banyak. Ia bertambah tinggi dan tubuhnya pun mulai berbentuk dan berisi. Kecerdasan nya yang luar biasa itu membuatnya sering ikut bersama Arnel saat rapat saham.


Kelas Dua SMP, Satria sudah mulai diberikan tugas untuk menyelesaikan satu proyek dan itupun berhasil. Setelah keberhasilan itu, Arnel mempercayakannya untuk menjalankan cabang kecil Damrah Groub yang di dampingi oleh Sekretaris Dewa.


Kemampuan Satria sangat luar biasa, disiplin, rajin, dan pintar. Namun, ada satu kekurangan yang dimilikinya menurut banyak orang, yaitu sifat dingin dan kejam keluarga Damrah.


Satria yang masih kecil dan masih SMP itu, dengan tidak punya perasaan bisa menghukum keras siapapun yang melakukan kesalahan. Baginya, kesempurnaan dalam bekerja adalah penting, seperti Arnel. Itulah contoh yang dipegang teguh oleh Satria dalam bekerja.


Satria hanya bicara kepada Dewa, dia tidak ingin mengeluarkan suaranya saat sedang rapat atau apapun itu. Hanya menunjuk, mengangguk dan menggoyangkan tangan. Dewa sebagai Sekretaris nya telah mempelajari sifat atasannya itu. Lebih kurang hampir sama dengan Arnel direktur utama Damrah Groub.


Tatapan tajam mata Satria membuat semua orang takut dan merasa terintimidasi, walaupun yang ditatap tajam Satria sudah tua. Jiwa pemimpin Satria terlihat sangat kental.


Berbeda saat ia bertemu dengan Nurbaya dan melihat Nurbaya bersama pria lain. Dia akan berubah menjadi anak laki-laki kecil yang sesuai dengan usia aslinya, bahkan lebih manja dan menyebalkan.


Contohnya sekarang!


Setelah ia melakukan rapat saham di kantor cabang, Ia bergegas melihat tutorial yang di kirim oleh guru privatnya untuk materi pelajaran di sekolah. Setelah mempelajarinya, ia bergegas menuju kampus Nurbaya dan menunggu gadis itu di parkiran.


“Erian aku pulang dulu ya.” ucap Nurbaya tersenyum manis dan malu-malu.


“Iya, makasih ya.” ucap Erian tersenyum dan menyibakkan rambutnya, Ia masih memegang tangan Nurbaya.


Mata Satria tak lepas menatap tangan yang sedang berpegangan itu.


“Cepatlah masuk Kak! Aku sudah pegal nih menunggu!” ucap Satria ketus.


“Ya sudah, kalau begitu pulang saja duluan!” sahut Nurbaya tak kalah ketus.

__ADS_1


__ADS_2