Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Ujian


__ADS_3

Satria kembali sibuk dengan sekolah dan pekerjaannya. Hari ini ia akan ujian kenaikan kelas 3 SMA.


Seperti biasa, Satria ujian dengan santai, paling cepat keluar dan yang pertama selesai menyelesaikan jawaban soal. Setelah ujian, ia duduk santai di kursi taman dengan telinga memakai handset. Mendengar tutorial pelajaran untuk ujian selanjutnya.


“Hei, Sat.” sapa Anggun. Ia duduk di samping Satria.


Pemuda itu masih mengabaikan. Anggun menarik ujung lengan baju sekolah Satria. Pemuda itu menatapnya dengan lirikan.


“Mau makan di kantin?” tanyanya lagi. Satria membalasnya dengan mengernyit.


“Bareng, ya.” pinta Anggun dengan tersenyum. Satria bukannya menjawab, malah memejamkan matanya, lalu menyedekapkan kedua tangannya.


Anggun cemberut, menggoyangkan kakinya di rumput. Melirik Satria, berharap pemuda itu peka pada perasaannya. Namun Satria memang sosok cowok dingin di sekolah.


Tak lama Jimi dan Akbar datang. “Hei, kita....” ucapan Jimi terhenti saat melihat ada rambut perempuan dari bangku taman. Ya, bangku taman itu di kelilingi oleh bunga pagar yang cukup tinggi.


“Eh, tunggu! Kau yakin tak salah dengar tadi? Satria menunggu di kursi taman atau kantin?” tanya Jimi.


“Di kursi taman. Kenapa?” sahut Akbar.


“Lihat tuh! Seperti sepasang kepala laki-laki dan perempuan deh!”


“Kalo gitu, ayo kita pastikan!”


Jimi dan Akbar berjalan perlahan. Waspada jika malah menganggu orang pacaran. “Eh, hai, Anggun.” sapa Akbar setelah mereka dekat dan melihat Anggun yang menatap Satria, sedangkan pemuda itu malah memilih memejamkan mata dengan sombongnya.


“Lama banget sih!” Mendengus, melepaskan handset dari telinganya. Lalu memasukkan dikantong celananya.

__ADS_1


“Ayo!” seru Satria, Ia langsung berdiri dan berjalan terlebih dahulu.


Jimi dan Akbar mengikutinya, termasuk Anggun juga.


Satria memilih duduk di pojokan kantin paling belakang. Ia menatap tajam ke arah wanita yang bernama Anggun. Tanpa rasa malu mengikuti dia.


“Kamu mau pesan apa Sat?” tanyanya sok akrab. Satria diam tak menjawab.


Jimi langsung berdiri. “Seperti biasa, kan?” tanyanya menatap Satria. Pemuda itu mengibaskan tangannya. Jimi pun berdiri dan memesan ke depan.


Akbar pun juga menitipkan pesannya pada Jimi. Anggun di abaikan, sengaja, karena Akbar dan Jimi tau, kehadiran Anggun sangat membuat Satria terganggu dan risih.


Anggun dengan santainya membawa bakso serta jeruk es ke meja. Memilih duduk di samping Satria. Tak lama makanan yang di pesan Jimi diantarkan oleh pelayan kantin.


Nasi goreng dengan telur ceplok serta teh es di hidangkan di depan meja Satria, soto nasi serta bakso di meja Jimi dan Akbar, minuman mereka sama, teh es semua.


“Oh ya, sebentar lagi kita gak kerasa udah kelas 3 aja, terus gak kerasa tamat deh. Kamu mau kuliah dimana nanti, Sat?” tanya Anggun. Satria masih diam.


“Bla bla bla.” Anggun masih saja bertanya dan berbicara sendiri. Satria jelas-jelas tak menjawab satu kata pun. Bahkan Akbar dan Jimi hanya mengangguk dan berdehem menjawabnya. Mereka berdua tau, bagaimana sikap Satria.


Satria mengaduk nasi gorengnya kuat, lalu membanting sendok. “Berisik!” Satu kata di lontarkan Satria dari beberapa pertanyaan yang tak ia jawab.


Satria berdiri, lalu pergi. Anggun terdiam, wajahnya memerah padam. Bagaimana tidak? Hampir semua orang dikantin melihat Satria membanting sendok, lalu pergi.


Akbar dan Jimi meminum minumannya, kemudian juga pergi meninggalkan Anggun, menyusul Satria.


Anggun membentuk kepalan tinju. Malu dan marah bercampur menjadi satu.

__ADS_1


“Bro, tunggu!” Jimi mengejar Satria.


“Hm!” Ia mendengus kesal, namun langkahnya berhenti.


Akbar dan Jimi langsung merangkulnya. “Sorry, Bro, beneran kita gak ngajak dia loh! Kita kan tau, Lu udah nikah.”


“Hu'uh!” Jimi mengangguk setuju.


“Sudahlah, gak usah bahas dia. Mending bahas ujian.” Satria kembali memilih duduk di kursi taman.


Mereka duduk di kursi taman sembari membahas pelajaran, namun baru saja sebentar mereka di sana, bel masuk sudah berbunyi. Mereka kembali keruangan kelas, lalu ujian.


Jam terus berdetak menandakan waktu terus berputar. Bel pulang pun berbunyi. Satria berjalan santai menuju mobil. Di sana sudah ada Pak Hamdan yang setia menunggunya.


“Pulang atau langsung ke kantor, Tuan Muda?” tanya sopir paruh baya itu.


“Ke kantor, Pak.” jawabnya.


Satria membuka bajunya, mengganti pakaiannya menjadi jas di dalam mobil.


Satria pun sampai di kantor. “Pak, tadi aku gak sempat makan, belikan aku makanan dulu ya. Titipkan saja pada satpam nanti. Setelah itu Bapak bisa istirahat. Aku pulang sama Kak Dewa aja nanti.” ujar Satria.


“Baik, Tuan Muda.”


Satria pun masuk keruangannya melalui lift khusus. Sedangkan Pak Hamdan pergi ke restoran, membelikan makanan dan cemilan untuk Satria.


...***...

__ADS_1


__ADS_2