
“Tuan Muda, apakah perlu bantuan saya untuk memindahkan Nona, sepertinya Tuan Muda keberatan untuk menopang kepala Nona. Apa saya berhenti dulu?” Pak Hamdan bertanya pada Satria, ia merasa Satria akan kesusahan jika menopang kepala Nurbaya dengan paha kecilnya itu.
“Tidak usah Pak, saya tidak apa-apa.” Tersenyum kecil dan masih membelai kepala Nurbaya lembut.
“Kau tidur nyenyak sekali Kak.”
**
Pagi hari, Nurbaya sampai di kampus.
“Aya, kau baik-baik saja?” Melani langsung mendatangi Nurbaya, lalu duduk di sebelahnya.
“Maafkan aku Aya, semalam aku terlambat datang...” ucap Melani pelan.
“Tapi tenang saja, aku sudah menghajar iblis betina itu.” terang Melani.
“Oh ya, semalam siapa yang membawamu? Aku mencarimu, untung ada yang lihat dan mengatakan padaku, kalau kau telah di bawa pulang.”
“Ya, itu anak majikan Ibu ku.” sahut Nurbaya tidak semangat.
“Wah, baik ya anak majikanmu.”
“By the way, semalam seperti apa kejadian yang sebenarnya? Pasti pria sial*n itu yang menggodamu kan? Semua orang tau, pria itu buaya buntung, cuma iblis betina bengkak itu tak pernah sadar diri dan berkaca.”
“Semalam saat aku di luar, di terasmu. Aku ditemui seorang pria yang cukup tampan, dia memperkenalkan diri, lalu kami berbasa-basi. Setelah acara puncak mulai, kami semua masuk ke dalam kembali.”
“Lalu?”
“Ya seperti biasanya, saat semua orang menari bersama, aku memilih pergi ke dapur, duduk di sana memilih cemilan. Lalu, Brian datang menghampiri, ia mengatakan suka dan tertarik padaku.”
“Trus kau terima?”
“Tentu saja tidak, aku tidak menjawab, aku dan dia baru kenalan, bagaimana mungkin tumbuh rasa suka, aku tidak sebodoh itu walau belum pernah pacaran sekalipun!”
“Aku hanya diam saja, kemudian dia memajukan wajahnya hendak menciumku, aku menghindar. Dia terus saja memojokkan ku, sampai aku tersandung dan terjatuh.”
“Dia menangkapku dan menindihku, dia hampir mencium bibirku, tapi seorang perempuan datang dan berteriak. Kemudian menamparku, tentu saja aku balas menampar lagi, makanya sampai ribut seperti itu. Karena aku malu, aku keluar. Namun, perempuan itu mengejar dan menarik bajuku.”
“Dia terus menarik bajuku, karena aku takut bajuku robek, aku mengalah, Ia terus menarikku bersama Brian kemudian dia mendorongku sampai aku terhenyak dan lutut ku luka.”
“Ak...” ucapan Nurbaya terpotong saat kedatangan seorang pria.
“Hai Aya, hai Melani.” sapa pria itu.
Pria berkulit kuning langsat, rambut sedikit ikal, bibir merah berisi, hidung mancung dan memiliki satu lesung pipi di sebelah kanan. Namanya Erian.
__ADS_1
“Hai juga.” Sahut Melani dan Nurbaya.
“Maaf ya Melani, semalam aku tak bisa ke rumahmu, aku ada sesuatu yang mendesak. Selamat ulangtahun ya.” ucap Erian sembari memberikan bingkisan kecil untuk Melani.
“Iya, tak apa-apa, aku mengerti kok Erian. Makasih banyak ya.” sahut Melani, ia mengambil hadiah dari Erian.
“Kenapa kamu terlihat tidak semangat begitu pagi ini Aya?” tanya Erian.
“Tak apa-apa, aku baik-baik saja.”
“Baik apanya, dia di teriaki penggoda suami orang oleh iblis betina bengkak semalam!” Melani menyahuti perbincangan mereka.
“Siapa?”
“Brian buaya buntung.” sahut Melani dengan menyedekapkan kedua tangannya di dada.
“Kok bisa? Aku akan menghajar pria itu! Ah, aku menyesal tak datang di pestamu kemarin Melani, kalau aku datang, tak mungkin Brian itu ada celah mengobrol dengan Aya.” ucap Erian geram.
“Tak apa, sudahlah. Emang kamu kenal juga dengan Brian?” sahut Nurbaya.
“Tau, dia itu pernah menggoda Adikku yang masih kelas 2 SMP.”
“Hm... Kalau kamu tidak apa-apa, kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?” Erian berdiri dari duduknya, memegang wajah Nurbaya dengan ke dua tangannya.
“Aku hanya bersedih, kenapa teman-teman yang lain dengan mudahnya terhasut, bahkan diantara kita yang ada di pesta semalam mengatakan aku wanita murahan dan banyak lainnya.”
“Iya, untuk apa menanggapi perkataan orang lain. Mending kita main? Kita bolos aja hari ini!” Erian menarik tangan Melani dan Aya.
Mereka menghabisi waktu bermain bersama di tempat bermain, Satria yang mendapat laporan kalau Nurbaya bolos dan pergi main juga ikutan bolos dari sekolah.
Anak kelas 6 SD itu membuntuti diam-diam bersama dua orang pengawalnya.
“Sial! Apa yang dilakukan pria sok tampan itu?! Akan aku patahkan tangannya!” Satria menggerutu.
“Paman, siapa pria kurang ajar itu? Beraninya dia menyentuh wajah Kakak!”
Satria melihat Erian menghapus sisa es krim di tepi bibir Nurbaya yang berlepotan. Erian juga menyuapi Nurbaya dan Melani cemilan. Mereka tertawa bahagia bersama.
“Dasar laki-laki rakus!” Satria masih mengomel.
“Paman, aku harus menarik Kakak pergi dari sini. Aku tidak suka melihat Kakak bergaul dengan pemuda itu!”
“Tapi Tuan Muda, kalau kita menarik Nona Nurbaya, dia akan bersedih. Bagaimana kalau Tuan Muda berpura-pura bertemu tanpa sengaja di sini dengannya. Agar Tuan Muda bisa bersama Nona.” usul pengawal.
“Aha! Itu ide bagus. Baiklah.” ucap Satria semangat.
__ADS_1
“Tunggu!” Satria terhenti saat ia hendak menemui Nurbaya.
“Ada apa Tuan Muda?”
“Bagaimana jika Kakak bertanya padaku, kenapa aku tidak di sekolah? Bagaimana kalau dia tau aku bolos dan mengawasinya? Kakak akan memarahiku!”
Hm...
Satria dan dua pengawalnya terdiam dan sama-sama berfikir.
“Tuan Muda bilang saja kalau ada tugas sekolah di sini.”
“Ya benar, begitu saja Tuan Muda.”
“Dasar bodoh! Tentu saja Kakak akan bertanya dimana guru nya? Tidak mungkin aku sendirian saja tanpa guru atau murid lain.”
“Maaf, Tuan Muda.”
“Tapi bisa saja Tuan Muda sendirian kan, secara Tuan Muda juara umum, karena pintar guru memberi hadiah 1 tiket bermain di sini.”
“Itu lebih tidak masuk akal lagi!”
Akhirnya, mereka hanya mengikuti Erian, Melani dan Nurbaya diam-diam.
Brugh!!! Auwch!!! Satria di tabrak gadis kecil sebaya dengannya.
“Maaf, maafkan saya tidak sengaja, saya buru-buru.” ucap gadis kecil itu.
“Ya, pergilah!” jawab Satria dingin.
Di lain sisi, Nurbaya melihat kearah Satria yang di tabrak oleh gadis kecil. “Eh, itu kan Tuan Muda Satria.” Nurbaya langsung berjalan mendekat ke arah Satria.
“Tuan Muda, kenapa bisa ada di sini?” tanya Nurbaya.
“A....Aku...”
“Sudah pulang sekolah?” tanya Nurbaya.
“I-iya.” jawab Satria terbata-bata
“Ah! Untung saja Kakak tidak marah.” ucap Satria lega dalam hati.
“Wah siapa ini? Imut sekali.” Melani langsung mencubit pipi gembul Satria.
“Imut kan?” tanya Nurbaya yang di jawab anggukan oleh Melani tanda setuju. Nurbaya pun juga ikut mencubit pipi Satria, kemudian menepuk pantat Satria.
__ADS_1
“Kakak, jangan! Aku sudah besar!” seru Satria malu.
Di depannya ada Erian yang membuatnya malu dan kesal.