
Satria masih terkikik di ruangannya, membayangkan tingkah istrinya tadi pagi. Nurbaya menjadi sangat manis, memasangkan dasinya. Ia masih ingat beberapa hari yang lalu.
“Sayang, kemarilah, bantu aku pasang dasi.” pinta Satria.
“Biasanya di pasangkan Ibu atau Sekretaris Dewa, Kan? Tuh, Sekretaris Dewa santai aja di bawah.” Nurbaya mengintip ke bawah dari jendela, melihat Sekretaris Dewa yang masih setia menunggu di samping mobil.
“Sekarang aku sudah menikah, kenapa harus minta tolong pada mereka. Ini tugasmu.”
“Enak aja, aku gak mau.” Nurbaya menjulurkan lidahnya.
Karena tak ingin telat, Satria mengalah. Jika seandainya ia tak buru-buru, sudah dijamin ia akan menggigit lidah yang memeletnya itu.
Satria tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi pagi.
Nurbaya bangun lebih awal, ia sudah mandi, sudah rapi dan wangi. Membangunkan Satria lembut bahkan mengecup pipi pemuda itu. Lalu menyiapkan air mandi, pakaian juga.
“Sini, aku bantu pasang dasinya.” Ia langsung memasangkan dasi, lalu memakaikan jas untuk Satria.
Satria masih tersenyum. 'Sepertinya menyenangkan juga kalau begini.'
Ia memencet tombol, tak lama Sekretaris Dewa muncul. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”
“Hm, aku ingin bertemu perempuan.”
Ucapannya yang ambigu itu membuat Sekretaris Dewa kebingungan. “Maksudnya bagaimana, ya, Tuan Muda?” Sekretaris Dewa bertanya kembali.
“Maksudku, aku ingin bertemu manager perempuan, ada?”
“Oh, Manager keuangan serta Manager personalia juga perempuan dan masih banyak perempuan, Tuan Muda mau yang mana?” sahut Sekretaris Dewa menggaruk kepalanya. Ia sungguh tak paham.
“Hm, panggilkan Manager keuangan, suruh dia datang ke ruangan ku.”
“Sekarang?” tanya Sekretaris Dewa memastikan.
“Hm,” jawabnya, lalu mengibaskan tangan.
'Ada apa, ya?' Sekretaris Dewa terus berpikir.
Tak lama, seorang wanita dewasa dengan pakaian kantor selutut berjalan memasuki ruangannya.
“Permisi, Pak. Saya Wulandari dari Manager Keuangan, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sopan sembari menunduk hormat.
Satria diam saja, masih menatap perempuan itu. Merasa di diamkan, ia pun melirik Sekretaris Dewa, sedangkan Sekretaris itu hanya diam mematung. Ia pun juga tak bisa memprediksi pikiran atasannya itu.
__ADS_1
Satria memainkan telunjuknya untuk memanggil, perempuan itu melirik Sekretaris Dewa, yang di lirik pun mengangguk. Perempuan itu akhirnya maju ke depan secara perlahan.
Lagi, Satria masih manggilnya dengan telunjuk untuk lebih mendekat. Perempuan itu menjadi semakin cemas.
Jarak mereka sangat dekat, apalagi saat Satria berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah perempuan itu. Ia sempat mengepalkan tangannya dan memajukan sedikit bibirnya sembari memejamkan matanya. Dengan perasaan harap-harap cemas.
Masih tak ada pergerakan apa-apa dari Satria, namun ia bisa merasakan nafas mint pemuda tampan itu. Ia jadi semakin berdebar.
'Apakah Pak Direktur ingin menciumku? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku. Biarkan aku merasakan sentuhan bibir hangat dari pria tampan ini.'
Satria berdehem lalu menjauhkan wajahnya, kembali duduk dan mengelus dagunya.
'Eh?' Wajah perempuan itu tampak kecewa sekaligus malu. Ida sangat berharap sekali tadi.
“Hm, itu...” Satria menyentuh bibirnya sendiri. Membuat perempuan itu kembali berdebar.
'Ya Tuhan, Maksud Pak Direktur ingin meminta izin menciumku? Imutnya, tak usah minta izin segala, cium saja aku langsung, aku sungguh rela.' Mata gadis itu berbinar-binar penuh harap, saat melihat Satria mengelus bibirnya sendiri.
“Warna merah di bibirmu itu apa namanya? Aku lupa? tanya Satria.
Eh?! Perempuan itu terkesiap. “Maksudnya gimana ya, Pak Direktur?” tanya perempuan itu, ia benar-benar sudah blank, ia masih membayangkan jika Satria ingin mencium bibirnya.
“Warna merah di bibirmu itu, apa namanya?” ucap Satria sekali lagi memperjelas.
“Lipstik, Pak.”
Doaaarr! Serasa hatinya meledak seketika.
Perempuan itu kaget, Satria bukan menginginkan ciuman bibir dengannya,, tapi menanyakan lipstik. Kasihan sekali, mirisnya. Perempuan itu masih mencerna perkataan Satria kembali.
“Baiklah, Pak. Kapan Anda membutuhkan lipstik itu?”
“Aku butuh sekarang.”
“Baiklah, Pak. Saya akan membelinya sekarang.” ucap gadis itu, kemudian ia berjalan gontai keluar.
'Aaaahhh, aku malu sekali. Hampir saja, aku kira Pak direktur ingin mencium bibirku.' Ia merutuki dirinya sendiri. 'Tetapi Pak direktur sangat tampan sekali, terlihat dewasa, tak seperti anak SMA. Aaaaahhh, kalau keturunan tampan dan kaya raya memang terlihat sangat menggoda. Hm...' Perempuan itu memegangi pipinya yang mulai memerah membayangkan wajah tampan Satria.
Tak lama, perempuan itu kembali dengan membawa lipstik berwarna merah menyala. “Pak, ini lipstiknya.” Perempuan itu meletakkan di atas meja kerja Satria. Pemuda itu mengangguk, lalu mengibaskan tangannya.
“Eh, tunggu, bagaimana cara memakainya?” tanya Satria sebelum perempuan itu beranjak pergi.
“Kak Dewa, kemarilah!” Satria memanggil Dewa.
__ADS_1
“Buka, terus putar sampai isinya keluar, Pak. Lalu dioleskan ke bibir.” jelas perempuan itu. Satria mengangguk. Lalu, mengibaskan tangannya kembali.
“Pakai ini!” perintahnya sambil melemparkan lipstik dihadapan Sekretaris Dewa yang berada di dekatnya.
“Ahh?? Pakai ini?” Sekretaris Dewa tampak terkejut hebat.
“Hu'um.” jawab Satria mengangguk, membuat kedua bola mata Sekretaris Dewa membulat sempurna tak percaya. Apalagi perempuan tadi yang belum keluar, sampai syok dengan mulut menganga.
“Cepat pakai!” perintah Satria lagi.
Sekretaris Dewa dengan terpaksa pun memakai lipstik itu. “Kurang jelas, kau harus memakainya tebal, setebal di bibir perempuan itu.” tunjuk Satria pada perempuan yang masih ternganga di ujung pintu.
Sekretaris Dewa mengoleskannya sampai bibirnya merah menyala. Satria mendekat, kemudian ia menunjuk dadanya sebelah kanan. “Cium di sini, sekarang!” perintah Satria.
Sekretaris Dewa dan perempuan itu terkesiap. “A-apa maksud Anda, Tuan Muda?” tanya Sekretaris Dewa terbata-bata.
Perempuan tadi sampai menutup mulutnya karena terkejut.
“Kenapa kau masih berdiri di sini? Cepat keluar!” usir Satria. Matanya melotot tajam pada perempuan itu.
“Maaf, maaf, Pak Direktur.” Perempuan itu bergegas keluar
'Ya Ampuuuun. Cakep-cakep, tetapi guy! Ah, kenapa makhluk sesempurna itu harus melenceng, Tuhan!' Perempuan itu benar-benar salah sangka.
“Tuan Muda, jangan aneh-aneh deh! Aku masih normal! Jika Tuan Muda sedang bertengkar dengan Nona, jangan bawa-bawa saya!” Sekretaris Dewa berdecak sebal.
“Siapa yang ingin bertengkar dengan istriku? Aku hanya ingin membuatnya cemburu saja.”
“Ayo cepat lakukan!”
“Ta...”
“Tak ada tapi-tapian, kau mau aku potong gajimu?” ancam Satria.
“Kau ini!”
Satria terkekeh. “Ayo cepat.”
Sekretaris Dewa pun mencium dada kanan Satria yang di lapisi kemeja putih. Jepret! Jepret!
“Hei! Apa yang kau lakukan, Tuan Muda?” seru Sekretaris Dewa. Ia sampai merinding membayangkan.
“Kenapa kau memotonya?” tanyanya dengan mata memelotot.
__ADS_1
“Suka-suka aku dong.” Ia langsung menyimpan hasil karya fotonya itu ke dalam saku celananya.
Sekretaris Dewa terhenyak tak percaya dengan mata masih melotot sempurna.