Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Jangan Bersedih


__ADS_3

Dianjurkan membaca bab ini setelah berbuka puasa ya🙏🙄 Adegannya so sweet, ok! Sorry🤧🙏 Jangan sampai batal puasa karena ngehaluin betapa sweetnya Belondong Satria ya.🤧🙏


___________________________


“Kurangnya kamu?” Nurbaya berjalan berputar mengelilingi tubuh Satria.


“Banyak.” sambungnya lagi.


“Misalnya, baju kotor yang kamu gantungin di anger lemari. Seharusnya, setiap baju yang kotor harus selalu kamu masukkan ke dalam ember baju kotor, supaya orang gak repot bedain mana yang bersih dan kotor!”


“Lalu, kamu belum ahli.”


“Ahli?” tanya Satria. Nurbaya menjawabnya dengan mengangguk.


“Ahli apa? Aku pintar, selalu berprestasi, aku bisa bekerja, padahal semua teman-teman sebayaku masih bermain dan menghabiskan uang orangtuanya.”


“Aku kuat, tubuhku sehat dan bugar, aku bisa berenang, ak...” ucapannya terpotong.


“Sssstt!” Nurbaya meletakkan telunjuknya di bibir Satria. “Biar Kakak kasih tau.” Ia tersenyum jahil.


Nurbaya memainkan telunjuknya di dada Satria. Sekarang gadis itu terlihat seperti wanita yang sedang menggoda, sungguh! Semoga saja Satria tidak blank.


Satria menatap telunjuk yang bermain di dadanya itu dengan serius, tak ada sedikitpun lengkungan di bibirnya. Ia masih menanti bibir Nurbaya berkata, mengatakan semua kekurangannya.


“Kau masih kecil Adik ku Sayang, kau tak akan mengerti dengan yang aku ucapkan barusan. Tunggu kau besar dulu, ya.” ucap Nurbaya mengedipkan matanya.


Entah tersambar angin puyuh dari mana, bibir Satria tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman. Entah senyuman apa itu.


Ia memegangi telunjuk yang bermain di dadanya itu. “Jadi, Kakak ingin aku menjadi Ahli?” tanyanya menatap tajam.


Sorotan mata yang tak pernah ia tunjukkan sekalipun pada Nurbaya selama ini.


“Kau tak akan mengerti Adik kecilku.” ucap Nurbaya menepuk bahunya.


“Kau akan mengerti nanti, betapa Ahlinya aku Kakak. Cup!” Ia mengecup pipi Nurbaya, lalu pergi sambil tersenyum.


“Hei!! Dasar bocah nakal!” pekik Nurbaya, ia baru saja kecolongan. Dia yang berniat menjahili Satria, malah dia yang kena getahnya.


Nurbaya, sadarlah! Satria bukan Satria kecil yang dulu lagi, dia sudah remaja!


BIP!!! Mesin cuci pun berhenti berputar, menandakan cucian sudah selesai. Nurbaya mengambil jas dan kemeja itu, lalu menjemurnya.


Lagi, Cup! Satu kecupan mendarat di pipinya. Kemudian Satria berlari menjauh. “Anak nakal!” teriak Nurbaya.


Blek! Blek! Satria meledeknya.


“Awas saja kau, akan ku pukuli pantatmu sampai memerah.” gerutunya, ia sedang mengejar Satria.

__ADS_1


Dan sekarang, mereka seperti kekasih yang sedang main kejar-kejaran. Satria terkekeh karena berlari zig-zag, sedangkan Nurbaya nafasnya ngos-ngosan.


Satria mendekat, lalu mengeraskan otot-otot nya, menyerah, agar dipukuli Nurbaya. Namun gadis itu tak jua kunjung memukulnya, malah memilih duduk di rumput hijau itu. Satria juga duduk di sampingnya, menyender ketubuh kecil itu.


“Berat tau, jauh-jauh sana!” usir Nurbaya.


“Aku ngalah deh Kak, pukul aja.” Satria meletakkan tangan Nurbaya di lengannya. Nurbaya diam dan masih cemberut.


“Kalau begitu, Kakak mau pukul yang mana? Atau mau cubit pipiku?” Meletakkan tangan Nurbaya di wajahnya.


Nurbaya menepis dan menarik tangannya. Membuang wajah. “Kakak...” panggil Satria lembut.


“Maaf.” lirihnya.


“Pukul saja aku, jangan marah ya.” Satria membujuk Nurbaya.


“Kakak mau pukul yang mana? Lengan, pantat atau mau mencubitku?” Meletakkan kembali tangan Nurbaya di wajahnya.


Nurbaya menatapnya, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Satria. Deg! Jantung Satria sempat berdendang ria. Oh, apa yang akan terjadi?


Hap! Nurbaya menggigit pipi Satria. Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Satria melongo. Parah! Satria sempat berpikir macam-macam tadi.


Pemuda itu mengelus pipinya dengan cemberut. “Eh, ngapain cemberut?! Katanya aku boleh ngapain aja!” ketusnya.


“Iya, gak apa-apa kok, Kak.” jawab Satria.


Satria hanya menatap saja. Membiarkan wajahnya dimainkan Nurbaya. Tak apa, bahkan babak belur, hancur lebur pun tak apa, demi Nurbaya. Lebay!


“Kakak.” panggil Satria lembut, ia memegangi kedua tangan Nurbaya yang mencubiti wajahnya.


“Hm?” Nurbaya berhenti dan menatapnya.


“Kamu cantik.”


Deg!


Sesaat Nurbaya terdiam, menelan salivanya. “Baru tau?” balasnya dengan sombong.


Satria tersenyum, membelai lembut punggung tangan yang masih berada di wajahnya.


“Padahal aku sudah cantik sejak lahir, huh!” Mendengus, menarik tangannya dari wajah Satria.


“Waktu Kakak lahir, aku belum ada di dunia ini.” seloroh Satria, Nurbaya mencebik.


“Namun, semenjak pertama kali aku melihat Kakak dengan pakaian putih rok abu-abu, Kakak terlihat seperti Ibu peri. Rambut panjang Kakak yang cantik setiap sore hari, senyuman indah Kakak setiap kali bertemu denganku. Kakak terlihat seperti bidadari.”


“Sentuhan dan pelukan Kakak membahagiakanku, dengan pujian Kakak aku selalu bersemangat.” ucap Satria lembut menatap Nurbaya dalam.

__ADS_1


“Kakak wanita paling tercantik di seluruh dunia yang pernah aku lihat setelah Mama, bahkan lebih cantik dari Nenek, walaupun Kakek bilang Nenek paling cantik.” sambung Satria lagi.


Mata Nurbaya berkaca-kaca mendengarnya.


“Oh, Adik Kecilku, Kakak paham, Sayang. Sini peluk sama Kakak.” Nurbaya langsung memeluknya.


“Jangan bersedih, Kakak akan selalu ada bersamamu. Kamu gak sendirian, ada Kakak, Ibu Kakak, Nenek dan Kakekmu. Harus kuat. Laki-laki gak boleh cengeng.” Nurbaya mengelus punggung Satria yang ia peluk.


Manusia dengan dua perasaan yang berbeda. Apakah ini cinta atau hanya sebatas rasa kesepian?


Menurut Satria ini adalah cinta, namun bagi Nurbaya ini adalah ungkapan kesepian.


Nurbaya terus mengelus pucuk kepala Satria dalam pelukannya. “Kakak.” panggil Satria lagi dengan lembut. Ia melepaskan pelukan Nurbaya, menatap manik mata gadis itu.


“Aku suka Kakak.” ucapnya sungguh-sungguh.


Nurbaya tersenyum. “Iya Sayang, Kakak juga sayang sama kamu.” Meletakkan tangannya di pipi Satria, Ibu jari tangan yang berada di pipi, sedangkan jari lainnya berada di leher pemuda itu.


“Kak, aku cinta sama kamu.” ulang Satria lagi.


“Iya, Kakak tau. Kakak juga.” balas Nurbaya.


Satria terdiam dengan wajah malas. Lalu mendekatkan wajahnya pada Nurbaya. Sekali lagi ia ucapkan. “Aku cinta kamu, Kak. Cup!” Satu ciuman mendarat mulus di pipi Nurbaya dengan lembut.


“Iya, Adik kecilku, Kakak juga sayaaaaaang dan cinta sama kamu. Cup!” Nurbaya membalas mencium di pipi Satria juga.


Satria tersenyum. Entah senyuman apa itu? Apakah senyuman patah hati atau... Entahlah, hanya dia yang tau!


“Aku cinta sama kamu, Kak.” Woaahhhh! Sekali lagi, Satria penuh semangat. Ia mengutarakan perasaannya sekali lagi!


“Dasar Nakal, cinta, cinta, cinta mulu.” Nurbaya mode galak. “Rasain nih!” Nurbaya menggelitik Satria, sampai ia tertawa terpingkal-pingkal.


“Kakak ampun, ampun!” seru Satria. Ia tak tahan lagi, “Kak geli, geli Kak!”


“Biarin, siapa peduli!” Nurbaya terkekeh-kekeh.


“Kalau Kakak masih menggelitik ku... Hahahaha. Aku akan... Hahahaha, aku akan memelukmu, Hahahahaha. Aku akan menciumimu ahahahaha.” ancam Satria tertawa geli.


“Coba saja!” cibir Nurbaya.


Dengan kekuatan penuh. Kini Satria membalik badan. Dan...


Ya, sekarang posisi Satria di atas tubuh Nurbaya. Dan apa yang terjadi? Ya, berondong nakal itu sungguh-sungguh melakukan ancamannya.


Ia mencium bibir Nurbaya. Gadis itu terkejut dengan mata melotot, kondisi tubuh tegang. Syok berat pasti!


Satria menggenggam jari jemari Nurbaya, mencium bibirnya lembut.

__ADS_1


__ADS_2