
Dunia terasa berputar melambat. Hembusan angin terasa menyegarkan, rumput hijau yang seolah memijit di punggung. Nafas hangat yang menyenangkan.
Lembut, hangat dan mendebarkan. Seolah ada sengatan yang mengalir di setiap pembuluh darah Nurbaya. Takut? Kemana rasa takutnya? Jijik? Kemana rasa jijiknya? Ada perasaan aneh yang menjalar.
Pengalaman pertama, bukan dengan kekasihnya, yang telah meminta dan menunggunya begitu lama, tetapi dari pemuda yang dia anggap Adik Kecil.
Entah berapa lama bibir itu beradu. Hingga Satria melepaskannya dan menatap manik mata Nurbaya yang masih terpana dengan kosong.
Satria tersenyum, lalu melepaskan tubuh yang ia peluk, duduk kembali di rumput sambil mengusap bibirnya. Nurbaya masih seperti patung hidup, tak sedikitpun merubah posisinya. Pikirannya masih menerawang.
“Tuan Muda, Tuan Muda.” terdengar suara panggilan dari Mona dari sana.
“Iya Bi. Aku di sini sama Kakak.” sahut Satria.
“Guru privat Tuan Muda sudah datang.” Mona memberitahukan.
“Kak, aku pergi dulu ya. Makasih.” bisik Satria lembut di telinganya, lalu meninggalkan Nurbaya yang masih membeku.
Satria berjalan ke arah Bi Mona. “Gurunya menunggu di ruang belajar apa ruang tamu, Bi?”
“Sudah Bibi suruh nunggu di ruang belajar, Tuan Muda.”
“Baiklah, kalau begitu saya ke sana dulu Bi.” Satria berjalan ke ruang belajar.
Sedangkan Mona berjalan mendekati Nurbaya yang masih tidur di rumput. “Aya, ngapain tidur di sini? Nanti bisa di gigit tungau, gatal-gatal deh.”
“Oi, Aya!” panggil Mona sekali lagi, sembari menepuk pundaknya.
“Aaaaaaa....!!!” Nurbaya tiba-tiba berteriak, membuat Bi Mona terkejut.
“Kamu ini?! Mau bikin Ibu jantungan?” Mona menjewer telinga Nurbaya.
Huh Hah Huh Hah! Ia menarik nafas sampai ngos-ngosan, karena terkejut di tepuk oleh Mona, Ibunya. Sekarang Ia harus menderita dengan jeweran di telinga.
“Jangan tidur di sini!” ucap Mona. Lalu berdiri pergi meninggalkan Nurbaya.
Nurbaya masih duduk membatu di daratan rumput hijau itu. Mencerna, mengingat, apa yang terjadi barusan? Itu sungguhan atau dia sedang berhalusinasi lagi?
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menepuk-nepuk pipinya. Kemudian yang terakhir, meraba bibirnya sendiri.
“Tadi apa yang di lakukan Satria?” Berpikir.
“Apakah itu tadi namanya ciuman bibir? Begitukah rasanya?” tanyanya dalam hati.
Ciuman itu terasa seperti kembang api yang meledak, menjalar dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Hangat, mendebarkan, dan menyenangkan.
“Seperti inikah yang di inginkan Erian?” Masih meraba-raba bibirnya.
Sesaat ia tersadar. “Bocah Nakal! Dia memanfaatkan ku! Dia mencium bibirku!!!”
“Satriaaaaa.........!!!!! Bocah Nakal! Awas kau!!!! Teriak Nurbaya melengking.
__ADS_1
Seolah sekarang sarang burung punai pun terkena gempa, lalu burung-burung pun terbang berhamburan, saking kagetnya mendengar teriakan Nurbaya.
Satria? Tentu saja sedang bahagia dan tersenyum simpul sekarang.
Nurbaya berdiri dan menepuk-nepuk bajunya, lalu berjalan dengan cepat.
Brak! Mendorong kuat pintu kamar Satria. Tak ada manusia yang terlihat, ia membuka pintu kamar mandi, ruang ganti pakaian, Zong, semua kosong, tak ada Satria.
Nurbaya berjalan dengan berkacak pinggang, sembari berkomat-kamit. “Awas kau Satria! Awas kau!”
Berjalan ke kolam renang. Tak ada!
Berjalan ke teras, berjalan ke ruang gym.
Berjalan ke dapur, hanya ada pelayan dan Mona di sana.
“Bu, Tuan Muda Satria di mana, ya?” tanyanya ramah, sedang menahan emosi. Padahal sekarang ia ingin meledak saking marahnya.
“Lagi di ruang belajar.” sahut Mona.
“Oh.”
“Kenapa?” tanya Mona.
“Hm, gak ada Bu. Cuma mau tanya masalah baju aja.”
“Baju yang mana? Kenapa dengan baju Tuan Muda?” Mona bertanya penuh selidik.
“Gak ada apa-apa kok, Bu. Tadi Tuan Muda memintaku mencuci bajunya.” jelas Nurbaya.
“Kau kan memang selalu usil pada Tuan Muda. Mana bisa aku percaya padamu,” kata Mona.
“Aku ke sana dulu, Bu.” sahut Nurbaya, tak ingin lagi berdebat dengan Ibunya.
Nurbaya berjalan ke ruang belajar, berdiri dan mengintip di pintu yang terbuka itu.
“Ah, ada Guru nya!” Nurbaya menggerutu.
Nurbaya akhirnya memutuskan merebahkan tubuhnya di kamar. Awalnya dengan emosi membuncah, ia ingin mendatangi Satria di ruang belajar, lalu memukuli sepuasnya. Namun melihat keseriusan belajar, ia tak mungkin menganggu, apalagi Ia hanya belajar 2-3 jam saja.
“Awas saja kau bocah! Beraninya kau mengambil ciuman pertamaku!”
“Awas kau Satria!”
“Awas kau!”
“Awas kau....” ucapan Nurbaya semakin memelan, matanya pun mulai tertutup.
**
Di ruang belajar. Satria tak bisa konsentrasi, pikirannya hanya di penuhi dengan Nurbaya, wajah Nurbaya, yang paling membuatnya gagal fokus adalah bibir Nurbaya. Di buku yang ia baca ada bibir Nurbaya, di pena yang ia pegang ada bibir Nurbaya.
__ADS_1
Meja belajar menjadi Nurbaya yang duduk dengan bibir sexsy. Nurbaya, Nurbaya, lagi, lagi, Nurbaya. Semuanya Nurbaya.
Saat ia menatap keluar pintu, Ia juga melihat Nurbaya. Ia pun sampai memukuli kepalanya. Padahal yang terakhir benaran Nurbaya loh, sedang mengintip dirinya.
“Satria.” panggil Guru Privatnya.
“Hm, iya, Bu.” sahut Satria.
“Ananda kenapa? Kenapa Ibu perhatikan sejak tadi tidak fokus, bahkan ini belum selesai. Apa Ananda sakit?”
“Sedikit kurang enak badan, Bu.” jawab Satria.
“Kalau begitu, jangan dipaksa dulu. Besok kalau sudah baikan Ibu datang lagi.”
Satria mengangguk. Dia memang kurang enak badan karena selalu berhalusinasi tentang Nurbaya. Setelah guru privat itu pergi, Satria langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang belajar itu.
Mengelus bibirnya. “Beginikah rasanya mempraktekkan teori yang ku dapatkan selama ini?” tanyanya dalam hati.
“Sungguh menyenangkan dan mendebarkan.” Satria meletakkan tangannya di dada.
“Kakak, apakah detakan jantungmu sama seperti detakan jantungku sekarang?”
Satria tersenyum, lalu memejamkan matanya.
Entah berapa lama pemuda berwajah baby face dengan alis mata tebal itu terlelap di ruang belajar.
“Woi bangun!” Nurbaya memukul-mukul pantatnya.
Satria terbangun dan membuka matanya, namun ia masih mengumpulkan nyawanya.
Masih tersenyum kecil, membiarkan seruan demi seruan dari bibir Nurbaya padanya. Membiarkan tangan Nurbaya memukul-mukul tubuhnya.
“Bangun! Apa yang kau lakukan tadi padaku, Hah?!” Nurbaya berkacak pinggang.
Satria masih diam dan tersenyum, Nurbaya pun kembali memukul. “Beraninya kau melakukan itu padaku!”
Satria menangkap tangan yang memukulnya, kemudian menariknya, hingga tubuh Nurbaya terjerembap ke dalam pelukannya. “Kakak bertanya kenapa aku berani melakukannya?” ucapnya dengan suara serak.
“Karena kau menginginkannya. Kau menginginkan laki-laki yang ahli kan? Aku bisa melakukannya.” Satria berkata dengan tersenyum mesum sembari matanya menyusuri seluruh wajah manis Nurbaya, terutama pada bibirnya.
“Dasar anak kecil nakal! Kau mengambil ciuman pertamaku, seharusnya aku melakukannya dengan pacarku.”
“Berarti pacar Kakak tidak ahli.” Satria mencebik.
“Siapa bilang?”
“Saya.” jawabnya, Nurbaya mendelik.
“Karena Kakak melakukan pertama kali dengan saya, masa sih pacaran sudah 6 tahun belum melakukannya disebut ahli?” Satria tersenyum mengejek.
“Anak kecil sok gaya, baru juga coba sekali, sok bilang ahli.” cibir Nurbaya.
__ADS_1
“Kakak mau melakukannya lagi?” tanya Satria sembari menyunggingkan senyuman.
“Dasar anak nakal! Beraninya kau berpikir mesum padaku!” serunya, lalu menjewer telinga Satria dengan kuat.