Berondong Nakalku

Berondong Nakalku
Manja


__ADS_3

Satria pertama kali melihat Nurbaya memakai baju putih abu-abu saat ia di gendong Bi Mona, di rumah keluarga Damrah saat mayat kedua orangtuanya terbujur. Ia melihat gadis yang sering ia lihat dalam handphone saat mereka melakukan video call. Ia terus menatap Nurbaya sampai gadis itu hilang dan muncul kembali di sampingnya dengan baju duka.


Gadis yang dijanjikan orangtuanya untuk bertemu itu memang baik, selalu mengajaknya bercerita, menggendongnya, memberi cemilan. Namun, gadis itu sangat usil, dia selalu mencubiti pipi Satria, menggigitnya bahkan mempermainkannya.


Satria kecil yang belum terlalu hafal sifat Nurbaya hanya diam dan menurut saja, namun lama kelamaan ia sangat paham sifat gadis itu. Nurbaya adalah gadis manja nan cengeng, aslinya. Ia sering di bully di sekolahnya karena anak pembantu sekolah di SMA elit, Elv School.


Gadis itu hanya sok jagoan dan usil pada Satria saja. Sebagaimana Nurbaya yang bersifat palsu begitu, Satria juga bersifat palsu, penurut, manja dan bertindak anak-anak di depannya. Padahal kenyataannya, ia bersifat dingin pada semua orang.


Seperti cerita itik siburuk rupa, Satria menjadikan dirinya sebagai itik. Memperjuangkan gadis yang ia sukai. Diam-diam, ia akan membayar orang untuk memukuli siapapun yang membully Nurbaya.


Satria kecil yang masih belum tahu memilih benar dan buruk itu, malah memperburuk keadaan, Nurbaya semakin dibully, karena orang yang memukul sipembully tidak membela Nurbaya, Ia hanya memukul karena dapat uang dan akhirnya Nurbaya semakin di bully.


Sore itu, mata Nurbaya bengkak. Ia berbohong, katanya dia kelilipan, jelas-jelas ia baru saja menangis karena bukunya di robek. Satria tau itu.


Hari-hari semakin berlalu, Satria selalu melindungi Nurbaya diam-diam, bahkan saat gadis itu kuliah, siapapun yang mendekatinya akan ia ganggu, hingga terakhir gadis itu dekat dengan Erian. Bi Mona saat itu hanya bisa menghibur Satria, menurutnya cucu majikannya ini hanya memiliki rasa suka seperti Kakak, karena Satria yatim piatu sejak kecil, jadi dia merasa kesepian.


Jodoh siapa yang tau, Erian malah menikah dengan wanita lain, padahal Nurbaya dan Erian sudah merencanakan pernikahan mereka sejak lama. Yang lebih membuat Bi Mona terkejut lagi, tak lama kemudian Tuan dan Nyonya Besar melamar putrinya, Nurbaya untuk Satria.


Bi Mona tersenyum kecil duduk di samping Satria yang sedang makan, anak yang ia sayangi menjadi menantunya.


“Ibu, tak makan juga?” tanya Satria.


“Sudah, Nak.” jawab Bi Mona tersenyum.


Satria, Arnel dan Bi Mona berbincang-bincang ringan di meja makan sampai Nurbaya datang. Gadis itu memakai jacket, menutupi tubuhnya yang terlihat kacau dengan tanda-tanda merah.


“Pagi, Nyo.. Eh, Nek.” ucapnya gagap, Ia masih belum terbiasa memanggil Nenek dan Kakek pada Aira dan Arnel.


“Siang juga.” sahut Aira tersenyum. Nurbaya nyengir.


Aira hanya memakan buah-buahan yang telah di potong sembari menemani Satria dan Nurbaya makan. Ia hanya merindukan cucunya, sudah 2 Minggu lebih tak berjumpa, puas bercerita ia pun pergi, begitu pula Bi Mona juga melanjutkan kegiatannya.


Setelah makan, Satria mengajak Nurbaya kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


“Ayo,” katanya sembari mengedipkan mata.


“Ngapain ke kamar?”


“Mau manja-manja, atau kamu mau aku manja-manja di sini? Banyak orang yang bakalan lihat loh!” Di gigitnya telinga Nurbaya.


Dari pada bikin malu, Nurbaya pun mengangguk. Ia tahu Satria pasti tak akan malu di depan orang lain, beda dengan dirinya, ia akan sangat malu.


Mereka pun masuk ke dalam kamar.


Satria menduduki sofa, menepuk sebelahnya agar Nurbaya duduk di sampingnya. Nurbaya pun menurutinya. “Sayang, kau tahu? Aku sangat merindukanmu.” Ia mencium jemari tangan Nurbaya.


“Apa kau merindukanku?” tanyanya sambil membelai lembut wajah Nurbaya.


“Enggak tuh!”


“Tega banget sih, Sayang. Ya udah, gak apa-apa, biar aku saja yang rindu.” Satria tersenyum kecil. Ia tahu Nurbaya berbohong.


“Berarti kalau nanti aku ke Korea sekitar satu bulan, berjumpa dengan keluarga Ibuku, pasti Istriku ini tak kesepian, kan?!” sindirnya.


“Aku sangat sibuk, Sayang.” Nurbaya masih cemberut mendengar alasan itu.


“Aku pikir kamu marah.”


“Marah kenapa?” Satria bertanya kebingungan.


“Ya... Hm, karena malam pertamaku tak berdarah. Kau terlihat mengabaikan ku sejak kejadian itu.”


Satria menatap Nurbaya cukup lama, lalu, Pletak! Ia menjentik kening Nurbaya.


“Wajar saja istriku ini sering remedi waktu sekolah dan pernah tinggal sekolah waktu SD, rupanya ia selalu memikirkan hal-hal aneh terlebih dahulu.” selorohnya terkikik.


Nurbaya mengelus keningnya.

__ADS_1


“Setiap wanita memiliki selaput dara berbeda-beda, ada yang tipis dan tebal, tak semua orang berdarah pada malam pertamanya. Yang tipis mungkin cepat robek dan cenderung berdarah, sedangkan yang tebal tak langsung robek secara full hingga ia tak berdarah.”


“Ada beberapa penyebab malam pertama tak berdarah, salah satunya saat pasangan melakukannya dengan rileks, sehingga **** * terlumasi dengan baik, maka saat Mr. P masuk tanpa menyebabkan kerobekan yang berdarah. Atau ada juga yang bilang, **** * mengendur.”


“Mengendur?” Nurbaya menatap Satria.


“Aku lupa bahasa lainnya, Sayang. Intinya dia tak robek, dia kan elastis. Apalagi kalau yang tebal, palingan itu akan robek saat melahirkan. Itu yang pernah aku baca sih.” Satria menggaruk kepalanya.


Satria mengangkat dagu Nurbaya. “Aku menikah denganmu, bukan mencari dan merasakan darah perawanmu, tetapi aku menikahimu karena ingin selamanya bersamamu sampai ajal menjemputku. Jadi, tak ada hubungannya dengan berdarah dan tak berdarah.”


“Satu hal yang harus kau tahu, aku mencintaimu, aku percaya kalau malam itu adalah malam pertama kita, malam pertama bagiku, malam pertama bagimu, aku merasakannya menjepit.” ucapnya tersenyum kecil diujung kalimat.


“Menjepit?” pertanyaan polos Nurbaya pun keluar. Satria terkikik. Wajahnya pun memerah, sedikit malu karena Nurbaya malah tak paham maksudnya.


“Ya, rasa perawan berbeda dengan yang kita lakukan tadi malam. Mengerti?” Nurbaya masih menatap Satria dengan mata polosnya.


“Waktu malam pertama, apa kamu merasa sakit?” Nurbaya mengangguk. “Lalu, tadi malam apakah masih sakit?”


“Sedikit.”


“Tadi pagi?” Nurbaya menggeleng.


“Ya begitu, karena udah gak perawan lagi, jadi gak sakit lagi.” jelasnya, Nurbaya mengangguk.


“Sekarang jangan mikir macam-macam lagi ya, aku selalu percaya dan mencintaimu. Tak mungkin aku marah dengan hal sepele begitu. Suamimu ini pintar, tahu!” Ia mencubit hidung Nurbaya.


Nurbaya memeluk Satria, pemuda itu malah melepaskan pelukan Nurbaya, lalu menggendong Nurbaya ke atas ranjang. “Ayo latihan lagi, biar gak terasa sakit di sini.” ucapnya dengan tersenyum mesum.


“Kamu gak capek?” Nurbaya bertanya saat Satria sudah bermain-main di tempat favoritnya.


“Enggak, aku sengaja libur hari ini. Menghabiskan waktu bermanja-manja dengan kesayanganku.” Langsung melahap bibir Nurbaya.


Nurbaya melepaskan pagutan itu, lalu mendorong tubuh Satria. Ia membuat posisinya di atas Satria. Pemuda itu tersenyum, Nurbaya mulai aktiv, meraba dan menciumi tubuh Satria dengan posisi di atas tubuh Satria.

__ADS_1


Hingga sayang dan cinta mereka pun menyatu di bawah selimut. Biarkan saja ranjang bergoyang menjadi saksi cinta mereka berdua. Selamat bermandikan cinta!


__ADS_2