
"Kakak mandi saja...!" Kata Ani karena melihat Laila yang kembali duduk dengan para tamunya.
"Emmm... itu... tapi.... anu..." Laila merasa sungkan jika harus meninggalkan tamunya untuk mandi.
"Nggak papa , kakak mandi aja!" kata Karina menyahut.
" Ehm ehmm..." Lukman yang duduk di teras berdehem dengan keras dan itu membuat Laila langsung berdiri meninggalkan ketiga tamunya.
Sepeninggal Laila, lagi-lagi Ani dan Karina saling berpandangan. Mereka merasa kalau ada sesuatu diantara abangnya dan Laila, gadis yang baru mereka kenal. Pantas jika abangnya tertarik pada gadis yang tubuhnya memang sangat menggoda kaum adam.
Karina kemudian membersihkan luka yang ada di lengan, buku-buku jari dan di wajah Doni dengan antiseptic.
Doni menatap wajah gadis manis di depannya, terlihat menggemaskan. Ada rasa bahagia dan sesuatu yang berdebar di dadanya saat melihat Karina. Tanpa disadari Karina , Doni menatapnya sambil
tersenyum malu-malu.
Ani kemudian meminta Doni melepaskan seragam putihnya agar bisa memeriksanya. Doni merasa malu pada gadis berkepang pinggir yang sudah duduk di depannya sambil merapikan alat-alat yang tadi dipakainya.
"Lepas aja! kita sudah biasa kok lihat orang telanjang!" kata Karina dengan ekspresi datarnya.
"Maksudnya?", Doni kaget mendengar pernyataan gadis manis itu.
" Terkadang kami memeriksa sekujur tubuh pasien apalagi kalau di meja operasi. Sudah buruan! Nanti kamu telat lho sekolahnya!" kata Karina.
" Hah......kamu dokter juga?" kata Doni termangu mendengar kata-kata Karina.
" Hehe...kita belum kenalan ya? Aku Karina seorang perawat . Panggil aja kak Rina!" kata Karina sambil melepas sarung tangannya dan menaruhnya di plastik terpisah.
Ani kemudian memakai stetoskopnya dan memeriksa dada dan perut Doni. Ada sedikit memar yang berwarna keunguan di sekitar paru-parunya.
"Apa ini sakit?" tanya Ani sambil sedikit menekan luka memarnya.
"Sedikit" jawab Doni
"Kalau batuk atau bersin , sakit?"
"Enggak"
"Yakin?"
" Iya beneran enggak sakit kok kak dokter..."
" Kalau makan kunyah yang benar dan pelan-pelan agar tidak sampai tersedak biasanya akan terasa nyeri di daerah itu. Ini di pukul ya?" tanya Ani sambil menunjuk dada Doni.
"Nggak kena langsung kok kak dokter. Aku menahannya dengan tangan ku" kata Doni.
Ani melihat sosok anak muda itu kemudian tersenyum sambil memeriksa punggungnya apa ada cedera tulang atau yang lainnya sambil berkata, " panggil kak Ani saja!"
" Kamu kelas berapa dek?" tanya Karina dengan senyum cerianya.
"kelas 9" jawab Doni sambil cemberut karena panggilan Karina. Ia kecewa karena ternyata gadis itu jauh lebih tua darinya.
__ADS_1
.
Di depan halaman ada seorang ibu yang berbadan tambun berjalan mendekat ke arah Lukman. Wajahnya dipoles make up berlebihan. Bukannya tampak elegan tapi malah terlihat aneh dan norak.
"Permisi masnya.... saya mau nagih uang kos-an sama Laila. Masnya ini calonnya Laila ya? Oh ya perkenalkan saya yang punya rumah ini, panggil saja saya Santi!" katanya sambil mengulurkan tangannya.
Lukman tak menjabat tangannya hanya berdiri kemudian menganggukkan kepalanya.
"Berapa bu?" tanya Lukman langsung.
Doni yang mendengar suara pemilik rumah itu kemudian keluar rumah sambil mengkancingkan bajunya.
" Bu Santi, yang bulan kemarin kan sudah dibayar sama kakak?" Sahut Doni.
"Yang bulan ini kan belum?" kata bu Santi
"Kan batasnya akhir bulan, ini masih pertengahan bulan lho Bu.,"kata Doni lagi
"Udah.... mumpung ada calon kakak ipar kamu. Lumayan kan kamu sama kakak kamu nggak usah pusing mikirin bayar kos-kosan bulan ini.
"Nanti akhir bulan saya bayar Bu...."kata Doni.
"Berapa bu?" tanya Lukman sambil mengeluarkan dompetnya.
" Cuma 800 ribu kok mas...." kata bu Santi.
"Jangan bang!" kata Doni sambil menarik-narik lengan kemeja Lukman.
" Maaf ya mas nya, soalnya saya butuh bayar ini itu. Oh ya... mas nya namanya siapa?"
"Saya Lukman bu" Kata Lukman sambil menganggukkan kepala dengan hormat.
"Oh ya, makasih ya mas Lukman , saya permisi dulu ya! sering-sering aja main ke sini nggak papa yang penting jangan lama-lama. Bisa-bisa digerebek warga nanti. Mari mas Lukman", kata bu Santi sambil mencium uang yang ada di tangannya kemudian mengipas-ngipaskannya di depan wajahnya.
" Iya silahkan Bu..."
" Nanti kurangi dari gajiku saja bang!" kata Doni
"Gampang. Kamu sudah sarapan?" tanya Lukman.
"Belum ini aku mau buat mi. Abang mau mi rasa apa? aku buatin...." Katanya tersenyum dengan riangnya.
Lukman menghela nafasnya pelan. kemudian memberikan uang 50 ribu pada Doni.
" Beli makanan sana, jangan makan mi terus...!"
" Nggak tiap hari juga kok bang. Ini kebetulan aja pas ada abang kita mau makan mi..." Sahutnya berbohong karena setiap hari mereka pasti makan mi. Entah untuk pagi atau malamnya.
"Buruan cari sarapan, terus sekolah yang bener!" kata Lukman sambil menaruh uangnya di saku kemeja putihnya Doni.
"Bang , masak Abang nggak ada perasaan dikit gitu sama kakakku? Dia memang mata duitan tapi dia baik kok bang..,.!" Remaja itu mencoba merayu Lukman lagi.
__ADS_1
Lukman mengusap kening Doni ke atas menahan rambut poninya agar tidak menutupi keningnya kemudian
cetakkk....
"aaaahh.....h" Doni mengerang kesakitan karena Lukman menyentil keningnya dengan amat sangat keras.
Ani dan Karina yang sejak tadi masih membereskan peralatannya langsung berlari ke teras.
"Kenapa??"
"Ada apa bang??"
"Hem...," Lukman hanya menjawab hem saja,
" Sudah berangkat sana !" kata Lukman pada Doni.
"Abang mau ngantar kakak?" tanya Doni pada Lukman.
"Hem...." Lukman mengeluarkan suara tanpa membuka mulutnya sambil memalingkan muka.
"Aahh..... aku jadi terharu..... makasih bang...." Doni yang merasa sangat bahagia kemudian memeluk Lukman dengan erat merasakan perhatian dan kasih sayang dari orang lain selain kakaknya sendiri.
"Lebay...."kata Lukman sambil membuang muka tapi tak mencoba membalas ataupun melepaskan pelukan Doni.
Doni melepaskan pelukannya dari Lukman dan mengusap sudut matanya yang berair.
"Duh sweetnya...." kata Karina sambil mengusap kepala Doni.
"Kamu kok nangis ....?" Karina memiringkan kepalanya ke arah Doni yang sedang mengusap matanya.
"Enggak kok, ngapain cowok nangis?"katanya berkelit dan mencoba menetralkan hatinya yang berbunga-bunga karena Karina memperhatikannya tapi ia juga kesal karena gadis manis itu memperlakukannya seperti seorang anak kecil.
Laila sudah selesai mandi dan memakai seragam kerjanya, hanya saja kali ini ia memakai celana panjang hitam bukan rok sepan seperti biasanya. Ia bergegas keluar karena mendengar sedikit keributan. Kini ia berdiri di bibir pintu dan menyaksikan keuwuan Lukman dan adiknya dengan rasa terharu.
"Wow..... cantiknya kakak ku. lihat bang! kakakku cantik kan bang?" Doni berdecak kagum saat melihat kakaknya yang terlihat anggun tidak seksi seperti biasanya. Ia menggoyang-goyangkan lengan Lukman dengan semangat empat lima.
Semua mata melihat Laila yang tampil sederhana.
Lukman yang penasaran pun melihat dengan ekor matanya ke arah Laila. Ia melihatnya sekilas dari atas sampai bawah.
Rambutnya masih basah dan berantakan, belum disisir rupanya tapi wajahnya terlihat fresh meski belum tersentuh make up seperti biasanya. Laila yang tadi keluar dengan tergesa-gesa lupa kalau belum menyisir rambut apalagi memakai make up nya.
Tapi sungguh itu terlihat menggemaskan di mata Lukman yang kini hatinya berangan-angan sedang mencubit pipi gadis itu. Padahal ia hanya melihat sekilas saja tapi bayangannya melekat di otaknya. Dan apa itu? dia memakai celana panjang? Rasanya hatinya benar-benar bahagia karena Laila ternyata mau berubah juga.
'Nanti, hanya aku yang boleh melihat seberapa seksinya kamu'
Eh,... Lukman tersadar dari kicauan di dalam hatinya kemudian melangkah dengan kakinya yang panjang menuju mobilnya
"Ayo berangkat!", kata Lukman.
"Kak ayo kak buruan...." kata Karina yang tahu bagaimana sifat abangnya yang keras kepala dan tak suka dibantah. Ia buru-sambil masuk ke ruang tamu mengambil box peralatan medis yang sudah dirapikannya tadi.
__ADS_1
" Eh... tapi aku belum siap-siap..." Laila ikut panik karena Laila dan Ani terlihat buru-buru.