
Malam itu adalah Sabtu malam Minggu. Rina dan Ani yang sudah berkeluarga datang mengunjungi kakaknya. Tapi kali ini mereka bercengkerama di rumah Lukman. Pak Dirman dan istrinya Bu Jannah masih berada di Jawa tengah. Belum tahu sampai kapan karena mereka merasa kerasan dan betah tinggal disana. Hawanya sejuk dan lagi mereka bisa bantu-bantu di pesantren yang ada di kaki gunung Merapi dan Merbabu. Mencari ilmu sekaligus mengisi hari-hari tua dengan sesuatu yang sedikit berarti.
Ani mengajak Rina dan kak Mia berada di rumah ayahnya untuk memberi dukungan pada kakak ipar mereka. Ingin tahu sebenarnya keadaan rumah tangga abangnya itu bagaimana.
Kasak kusuk itu dimulai ketika Zainal yang menjalin kerja sama dengan Lukman melihat gelagat aneh dan menyimpulkan kalau kakak iparnya itu ada main di belakang istrinya. Ia melihat bagaiman Lukman memperlakukan seorang gadis yang katanya pegawainya tidak seperti biasanya. Zainal mengenal Daniah sekretaris nya Lukman tapi yang bernama Septi ini ia baru melihatnya.
Lukman juga mengatakan kalau dia memang baru bekerja padanya tapi Lukman memperlakukannya secara istimewa. Setelah urusan mereka selesai Zainal minta undur diri karena ada rapat dengan para karyawannya.
Tapi setelah dia sudah selesai dan hendak turun ke bawah, dari lantai atas dia melihat abang iparnya itu sedang berbelanja dengan gadis yang bernama Septi. Zainal yang tahu kalau abangnya itu cukup menjaga diri dengan wanita yang bukan keluarganya merasa heran. Tatapannya berbeda dan senyum yang jarang terukir di wajahnya juga berkali-kali dilihat oleh Zainal. Dengan hati-hati ia pun menyampaikannya kepada sang istri.
Dan seperti biasa mulut seorang wanita lebih cepat merambat daripada cahaya. Apalagi ini menyangkut soal harga diri wanita, mereka merasa kalau kaumnya tak boleh ditindas. Geng para istripun langsung bereaksi dan ingin memberi pelajaran pada abang mereka sendiri tapi yang terjadi justru pernyataan Laila yang membuat mereka menganga tak percaya.
"Kami menikah karena ayahnya Latif ingin menolongku. Dia tidak mencintaiku hanya melakukannya atas dasar kemanusiaan saja. Mungkin sekarang mas Lukman baru menyadari hal itu dan ingin mencari cinta sejatinya. Aku sendiri yang mengizinkannya untuk mencari yang kedua. Asal Mas Lukman tak berniat meninggalkanku aku rela melakukan apa saja. Termasuk dimadu. Aku masih punya tempat tinggal, aku masih bisa bersama anak-anak dan aku masih bisa bersama kalian itu sudah lebih dari cukup" Laila menjelaskan panjang lebar dengan tegar di depan saudara-saudara iparnya tanpa menangis sama sekali seolah ia memang wanita tegar yang tak akan tergoyahkan hanya karena berbagi suami.
"La....!"
"Kak....!"
__ADS_1
"Kak......!"
"Aku harap kalian menghormati keputusanku. Jangan ada yang membicarakan hal ini padanya. pura-pura saja seakan tidak terjadi apa-apa!" Kata Laila lagi.
"Kau ini bodoh atau apa sih kak? Cinta itu harus dibangun bukan datang sendiri. Kalau abang sudah tidak cinta lagi pada kakak maka kakak harus membuatnya jatuh cinta lagi. Sudah selama ini dan abang baru sadar kalau dia tidak mencintai kakak. Apa-apaan itu?. Nggak ada yang kayak begitu. Di dunia ini namanya pria akan tertarik pada wanita yang menggodanya. Kalau kakak tak ingin menggoda bang Lukman dan hanya berdiam diri dan pasrah saja, abang juga bisa tergoda dengan wanita-wanita yang mendekatinya. Kakak harus tahu kalau abang itu pria tampan apalagi sekarang dia sudah beruang. Gadis-gadis jaman sekarang tidak akan perduli apakah pria itu sudah berkeluarga atau masih bujang? Usaha kak, jangan diam saja!!!" Rina yang juga merasakan hal yang sama di awal pernikahannya meluapkan emosi pada kakak iparnya karena tak berbuat apa-apa menghadapi kemelut rumah tangganya.
"Rin....!"
"Rinaaa istighfar.....!!" Kak Mia menatap mata Rina dengan tajam membuatnya berpaling sambil ngos-ngosan.
" Abang datang!" Kata Ani saat mendengar deru mesin mobil Lukman.
Mereka pun membubarkan diri karena tak ingin melihat dan berbicara dengan Lukman. Ketiganya kembali ke rumah bang Alif yang sedang berbincang dengan para lelaki. Dokter Ibrahim suami Rina dan Zainal suami Ani.
Melihat ketiga saudaranya yang tak menyapanya membuat Lukman heran tapi ia acuh saja sampai dia bertemu istrinya yang sepertinya habis menangis karena terlihat bulu matanya masih basah.
"Kenapa mereka kemari?" Tanya Lukman.
__ADS_1
"Ingin berbincang denganku" Jawab Laila.
"Mana anak-anak?"
"Ada di sebelah. Ada pak Zainal sama Pak Baim disana" Kata Laila menjelaskan.
Lukman ingin bergabung dengan mereka tapi ia urung melakukannya karena ingat disana pasti juga ada bang Alif.
Entah bagaimana abangnya itu tahu kemelut yang terjadi dalam hatinya saat Septi baru tiba disana. Saat hari dimana Septi masuk ke dalam mobilnya dan akhirnya ia mengizinkan gadis itu untuk tinggal disitu bersama Yuli dan ibunya untuk bantu-bantu dan setelah itu ia sering mengajaknya keluar saat ada meeting. Bukan lagi mengajak sekretaris nya malah mengajak Septi kemana-mana.
Ia masih takut ketemu dengan Bang Alif karena saat itu abangnya bilang, " Man, jangan bermain api kalau tidak mau terbakar!"
Saat itu ia hanya diam meskipun abangnya sudah kembali pulang ke rumahnya. Malam itu bang Alif menunggunya pulang dan saat melihatnya ia pun segera menghampirinya dan mengatakan kata-kata absurd macam itu.
Lukman memejamkan matanya sambil berbaling terlentang.
Aku tidak sedang bermain api, aku sedang mencari istri. Bukankah poligami itu diperbolehkan oleh agama lalu letak salahku dimana? Lagipula istriku sendiri yang mengusulkan pertama kali dan aku ingin membuktikan pada Laila bahwa masih ada wanita yang mau menerima diriku apa adanya, batin Lukman.
__ADS_1