
"Kak ayo kak buruan...." kata Karina kepada Laila sambil masuk ke ruang tamu mengambil box peralatan medis yang sudah dirapikannya tadi.
" Eh... tapi aku belum siap-siap..." Laila ikut panik karena Laila dan Ani terlihat buru-buru.
"Ambil tas sama sepatu saja kak, yang lainnya bisa sambil jalan" kata Ani yang masih bisa berpikir cepat.
"Abang lagi mode garang kak, jangan bikin dia kesal ya kak..." Karina mengatakannya sambil bergegas berjalan ke arah mobil.
Doni yang ikut panik kemudian segera berlari masuk ke kamar kakaknya untuk mengambil tas dan sepatu milik kakaknya.
Ani menggandeng tangan Laila dan membukakan pintu depan di samping pengemudi. Laila menatap Lukman dengan kesal tapi tak berani protes apalagi bersuara.
Lukman yang seperti acuh tak acuh dan terlihat hanya memandang ke arah depan menahan bibirnya agar tak terbuka. Rasanya ia ingin meledakkan tawanya karena ulah Laila yang hanya menatapnya tanpa bersuara sambil mengerucutkan bibirnya.
'Kau pasti kesal dan mau marah kan.....' Ia mengusap wajahnya agar bibirnya tak terbuka untuk tertawa dan menyalahi otaknya.
'Stay cool Lukman...!' perintah otaknya.
"Ini kak, ayo naik buruan!" kata Doni yang sudah membawakan tas dan sepatu kakaknya.
ceklek brum brum brum.....
Lukman menyalakan mesin mobilnya karena Laila hanya diam berdiri di depan pintu mobil sambil melihat dirinya.
Laila naik juga akhirnya meskipun bersungut-sungut dan sumpah serapah sedang dia ucapkan dalam hatinya untuk Lukman yang bertindak seenaknya saja.
'Dasar culun
tua
tak tau diri
seenaknya saja
awas kau ya'
Laila memonyongkan bibirnya membuatnya terlihat semakin comel dan menggemaskan.
"Oh iya minum obat yang ada di meja ya, pakai juga salepnya. Kalau masih terasa nyeri kamu minta diantar ke rumah sakit saja sama bang Lukman . ok?" Ani menjelaskannya lewat jendela mobil pada Doni yang mengangguk bahagia serasa punya keluarga besar yang memperhatikannya. Banyak yang sayang padaku sekarang, batinnya kegirangan.
"Sekolah yang bener ya adik kecil... jadi anak pinter! Jangan lupa sarapan dulu biar semangat!" Karina melongokkan kepalanya di jendela di belakang kakaknya.
Doni yang semula tersenyum kemudian merengut ketika Karina berbicara seolah-olah dia adalah anak kecil.
"Hati-hati ya bang....!" Mata Doni berkaca-kaca melihat kakaknya naik mobil seperti yang pernah dia inginkan. Laila memang pernah berkata ingin sekali naik mobil dan berkeliling kota. Dan akhirnya sekarang ada seorang laki-laki baik yang datang ke rumahnya membawa mobil dan mengantar kakaknya ke tempat kerja.
"Kamu yang pinter sekolahnya"
__ADS_1
'bikin kakakmu itu bangga...!' Lanjutnya tapi hanya di dalam hati saja.
Tatapan tajam Lukman yang selalu menakutkan siapa saja yang melihatnya, menurut Doni justru itu tatapan sayang Lukman padanya.
Remaja yang cengeng itu mengusap ujung matanya yang berair dan melambaikan tangannya yang lain.
'Semoga semua keinginanmu terwujud kak...!' Doni berdo'a setulus hati untuk kakak satu-satunya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya.
Mobil Lukman pun mulai keluar dari gang dan memasuki jalan besar.
"Ini kak..." Ani memberikan sisir dan kaca miliknya untuk Laila yang rambutnya setengah basah gara-gara abangnya yang keras kepala.
Lukman tiba-tiba memberikan sapu tangan miliknya pada Laila yang sedang memegang sisir. Gadis itu diam dan hanya melihat sapu tangan itu karena tidak mengerti apa maksudnya.
Ani segera mendekatkan tubuhnya ke depan dan menyahut sapu tangan itu kemudian menggunakannya untuk menggosok rambut Laila dengan lembut.
" Itu masih baru kan bang? Bukan bekas ingus abang kan? " Tanya Karina sambil menelisik wajah Abang nya dari arah belakang.
"Jangan ngadi-ngadi kamu...." Jawab Lukman sengau.
"Ya barangkalli....!!" Rina malah semangat untuk menggoda abangnya.
"Ini baru kok kak... tenang aja. Tuh masih bau harum kok...." Ani mencium sapu tangan milik Lukman untuk meyakinkan gadis yang baru dia kenal agak tidak jijik karena perkataan Karina. Dan memang tercium bau sabun yang harum dari sapu tangan milik abangnya.
" Biar saya saja...." Kata Laila sambil memegang sapu tangan milik Lukman.
"Saya dua puluh satu kak...." Jawab Laila merasa sungkan.
"Seumuran denganku kak..." Kata Karina dengan riangnya.
"Panggil Laila saja..." Kata Laila yang kini menyisir rambutnya.
Lukman dengan gerakan cepat mengambil sapu tangannya yang ada di pangkuan Laila dan menaruhnya di pojok dashboard.
" Abang nggak penasaran dengan bau rambutnya kak Lala kan?" Rina menyimpulkan perbuatan abangnya.
" Nggak lah. Itu.... biar celananya nggak basah aja... " Ngeles rupanya.
"Yakin.... cuma karena itu aja?" Karina belum menyerah rupanya.
"Apaan sih... ?sudah doong!. Kak Lala nanti jadi nggak nyaman lho...." Ani menengahi perdebatan kakak beradik itu.
" Jadi cowok yang gentle dong....!" Kata Rina, belum ingin menyudahi rupanya.
"Apa? orang nggak ada perasaan apa-apa juga?" Lukman mencoba berkelit.
" Jangan didengerin ya kak..! Mereka emang kerjaannya kayak gitu kak. Rameee aja. Ini lipstiknya kak!" Ani menyodorkan lipstik miliknya pada Laila.
__ADS_1
"Ngapain pake' lipstik segala?" Satu-satunya pria yang ada di dalam mobil itu menyela.
" Biar fresh aja ya kak. Nggak ada niat buat nggodain orang kok...." Ani yang berprofesi sebagai dokter itu memang sudah biasa memakai lipstik agar saat melayani pasien dia terlihat segar dan bisa menyalurkan semangat kepada para pasiennya.
Laila yang mendengarnya jadi merasa tertohok karena dia yang memang terbiasa memakai make up tujuannya untuk menggoda cowok yang kaya agar tertarik padanya.
Lukman berhenti di depan sebuah restoran yang cukup ramai meskipun hari masih pagi. Rumah makan ala Chinese dengan nama Paradise.
Seperti mimpi, Laila merasa senang sekali bisa berada di dalam sebuah restoran. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di sebuah restoran. Meski ia kikuk tapi ia tak dapat menyembunyikan senyuman bahagianya.
" Sini kak !" Karina menepuk kursi di sebelahnya agar Laila duduk disana.
"Ani mana?" Tanya Lukman pada adiknya Karina.
"Beli burger di outlet sebelah" Jawab Rina.
"Pesenin dua lagi" Kata Lukman sambil mengangsurkan uang pada gadis berkepang yang langsung ngacir meninggalkan Laila dan kakaknya.
Laila jadi salah tingkah nggak tahu harus berbuat apa. Dia mati kutu di depan cowok yang rambutnya super klimis itu.
Lukman menyodorkan buku menu pada gadis yang duduknya berseberangan dengannya.
"E-mi ya?" Gumamnya saat melihat menu-menu yang memang didominasi gambar mi.
" Nasi hainan dua, la ji zi satu, sama cap cay satu terus sama empat teh tawar anget" Kata Lukman pada pramusaji yang sudah siap mencatat pesanan.
Laila hanya menatap Lukman sekilas, ia merasa kalau Lukman melakukan semua ini bukan karena tertarik padanya melainkan hanya karena kasihan saja. Jadi dia pun tak ingin menyela ataupun bertanya. Terserah lah pasrah aja udah.
Tak berapa lama pesanan Lukman si pria garang ini sudah terhidang di meja. Tanpa bertanya terlebih dahulu dia mengambil sedikit la ji zi(ayam pedas yang di potong kecil-kecil) dan menambahkan cap cay ke piring Laila.
Lukman seperti merasakan sesuatu yang berbeda dari Laila. Dari cara diamnya gadis itu ia tahu ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Tapi dia diam saja, tak ingin menghibur atau bertanya.
Saat si bujang dan si gadis ini makan, kedua adiknya datang sambil menenteng kresek berisi burger dan duduk di samping mereka.
Ani dan Karina pun bisa merasakan hawa yang tak menyenangkan di antara mereka tapi kedua gadis itu tak berani bertanya.
"Enggak makan?" Tanya Laila pada Ani dan Karina.
"Kita jarang sarapan kak. Biasanya sih makan roti aja...."
" Kakak makannya yang enak kita tungguin kok..."
"Saya yang jadinya nggak enak..." Jawab Laila jujur.
" Nggak papa kak.... kakak makan aja...!" Kata Karina.
" Bang ini buat...?" Ani menunjukkan pesanan abangnya tadi dan Lukman hanya menunjuk Laila dengan dagunya.
__ADS_1
' Aku terlihat sangat menyedihkan ya sampai dia berbuat seperti itu padaku?' Laila menelan ludahnya karena dadanya kini mulai terasa sesak. Kini ia mulai yakin jika pria yang terlihat culun itu sesungguhnya sama sekali tak tertarik padanya, dia melakukan semuanya hanya karena rasa kasihan saja.