Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Lukman


__ADS_3

Lukman menyugar rambutnya dengan kasar. Ia sudah sangat lelah. Seharian dia harus lari kesana kemari. Mengurus banyaknya masalah yang sebenarnya bersumber dari hati.


Mungkin ini untuk pertama kalinya dia melepaskan anak buahnya untuk menyelesaikan masalah tanpa dirinya sendiri yang turun tangan. Lukman yang tidak mudah mempercayai orang lain kali ini sudah frustasi dan menyerahkannya begitu saja pada para pegawainya. Di luar dugaan masalah selesai begitu ia kembali.


Pak Supri melaporkan kalau mereka sudah mendapatkan pinjaman gabah dari juragan tanah yang ada di kawasan situ maupun dari luar kota untuk melanjutkan pengiriman dengan kolega yang sudah bekerja sama dengan perusahaan nya. Ternyata tak sesulit yang dia duga. Ya meskipun kerugiannya terbilang fantastis tapi masih ada wibawa atas nama perusahaan yang dipimpinnya.


Begitu ia menginjakkan kakinya di teras rumah ia malah mendapatkan interogasi dan ceramah dari adiknya. Ia tidak berbohong cuma berkelit saja saat Rina bertanya. Ia masih yakin kalau apa yang dia lakukan masih di jalur yang benar. Menolong wanita yang membutuhkan bantuan.


Begitu masuk ke ruang tamu yang gelap ia disambut tatapan tajam dan Lukman tahu dari siluet tubuh nya itu adalah adik iparnya. Suami Karina yang usianya lebih tua dari dirinya.


Tak ada yang menyapa, Lukman hanya melihat sekilas saja. Terlalu kentara dari tatapan matanya kalau Ibrahim ingin mencecarnya tapi ia tak ingin meladeninya. Tak ada yang perlu dia jelaskan apalagi fisiknya butuh istirahat sekarang.


Masuk ke dalam kamarnya ia tak menemukan sang istri di atas pembaringan mereka. Ia memilih ke kamar mandi dan membersihkan dirinya barulah setelah itu ia pergi ke kamar anak-anaknya.


Lukman melihat kamar tidur putra-putranya. Ada Aliyah keponakannya yang cantik yang tidur di atas tempat tidur Latif. Sedangkan Labib tidur dalam pelukan Laila di tempat tidur yang lainnya.


Latif pasti tidur di ruang tengah dengan Ali seperti biasanya saat mereka berkunjung ke rumah ini. Lukman mengusap rambut Aliya yang menutupi kening dan matanya. Keponakannya ini campuran adiknya juga adik iparnya. Fifty fitty.


Ia menundukkan badan di depan tempat tidur Labib kemudian mencium keningnya putra kecilnya. Pria yang sudah matang itu kemudian menggendong istrinya yang tertidur dengan lelap. Ada perasaan bersalah menghampiri sudut hatinya. Namun lagi-lagi dia berkilah bahwa apa yang dia lakukan tidaklah salah.

__ADS_1


Tadi selepas dari sawah dan mendapat laporan kalau semua sudah diselesaikan ia mengemasi barang-barang milik Septi yang ada di kamarnya. Ia berniat mencari kos-kosan untuk tempat tinggal Septi yang tidak jauh dari rumah sakit. Berjaga-jaga seandainya ada apa-apa tidak perlu pergi jauh-jauh.


Sore itu kebetulan jadwal dokter kandungan sedang praktek. Dia pun mengajak Septi untuk memeriksakan kandungannya agar wanita itu tahu ada kehidupan di dalam perutnya dan tidak punya keinginan untuk menghilangkan janin yang tak bersalah.


Lukman menidurkan Laila perlahan-lahan di atas ranjang mereka. Ia yakin Rina melihatnya saat tadi ia sedang berada di rumah sakit bersama Septi. Entah ada urusan apa sehingga adiknya itu ada di rumah sakit Citra Medika, Lukman tak ingin menanyakannya. Yang pasti ia harus menyiapkan jawaban agar keluarganya percaya dia sedang dalam misi menolong orang, wanita lemah yang tak punya sanak saudara yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah dan meminta pertolongan.


Selepas memeriksakan kandungan Septi yang diwarnai drama dengan berpura-pura menjadi suami Septi ia kemudian meminta wanita itu untuk kembali lagi ke kamarnya. Ia akan mengurus administrasi sekaligus mencarikan tempat tinggal untuknya.


Memang benar disana banyak kontrakan yang disediakan penduduk setempat. Dari yang harian sampai yang bulanan dengan variasi harga yang sesuai dengan kualitas tempat tinggalnya juga dilihat dari jarak tempat itu dengan jalan besar.


Sekitar jam sembilan malam ia mendapatkan tempat yang dirasanya pas untuk Septi. Tidak terlalu jauh dari jalan besar dan itu satu rumah yang biasanya di sewakan untuk satu keluarga kecil yang dipilihnya untuk Septi.


Lukman kemudian mengurus administrasi rumah sakit karena Septi sudah diizinkan untuk pulang. Membayar semua tagihan tanpa keberatan. Septi juga di beri buku KMS untuk jadwal pemeriksaan kandungan selanjutnya.


Lukman harus menaruh ponselnya di resepsionis sebagai jaminan saat meminjam kursi roda karena Rumah sakit tidak mau percaya begitu saja.


Setelah mendorong Septi ke rumah yang disewanya ia kembali lagi ke rumah sakit untuk mengambil barang-barang milik Septi. Gangnya terlalu sempit dan tidak mungkin mobilnya bisa masuk ke sana. Dan alasan yang lainnya karena kalau dia mengantarkan Septi menggunakan mobil ia pasti harus membantunya naik turun mobil dan itu pasti harus bersentuhan dengannya.


Lukman masih menjaga dirinya meminimalisir agar tidak bersentuhan langsung dengan lawan jenis termasuk dengan Septi.

__ADS_1


Setelah menata barang-barang Septi dan semua keperluan Septi sudah dia sediakan Lukman kemudian berpamitan pulang.


Sorot mata Septi tampak sedih tapi ia tak menghalangi Lukman untuk pulang. Dia tahu diri dimana posisinya. Di bantu sedemikian rupa tapi ia tak bisa membalas apa-apa. Meski sebagian besar hatinya menginginkan Lukman menemaninya tapi ia masih bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


Lukman juga merasa kasihan tapi tidak mungkin jika dia menemani Septi. Ia harus pulang untuk bertemu keluarga nya.


"Loh, mas Lukman mau kemana? Istrinya ditinggal sendirian mas?" Tanya mang Ujang si pemilik kontrakan yang tinggal di sebelah.


"Maaf pak. Septi itu bukan istri saya. Dia pegawai saya pak" Lukman menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman.


"Oh.... kirain suami istri. Kayak mas nya perhatian banget tadi"


Lukman hanya tersenyum kecut menanggapi mang Ujang. Ia tak melihat ke arah Septi lagi karena karena takut tak bisa menahan diri untuk terus mengasihi si gadis berwajah sendu yang kini sedang berdiri di ambang pintu dan menatapnya.


Lukman tidur memeluk Laila tapi pikirannya masih tertinggal di kontrakan Septi. Hatinya berdoa semoga dia baik-baik saja dan tidak ada orang yang mengganggunya.


Pagi itu Lukman menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Selepas solat subuh di masjid ia mengaji sebentar kemudian membangunkan Latif dan memandikan Labib.


Suasana rumah lebih ramai dari biasanya karena ada Rina dan keluarga kecilnya disana. Lukman maupun Rina tak saling menyapa. Mereka secara tidak langsung mendeklarasikan peperangan. Sedang Laila meski tubuhnya terasa lemah tapi dia memaksakan diri untuk ikut membantu di dapur sampai semuanya selesai.

__ADS_1


Lukman berpamitan pada istrinya saat akan berangkat mengantar Latif dan Maryam ke sekolah sekalian dia berangkat kerja.


Semuanya tampak normal-normal saja di penglihatan Rina dan suaminya. Hanya Labib yang sepertinya tak rela ditinggalkan oleh ayahnya.


__ADS_2