Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Geblek


__ADS_3

"Kau tahu Man, di dunia ini banyak wanita yang menderita. Di seluruh penjuru dunia ada saja orang yang berbuat semena-mena pada makhluk mulia yang bernama wanita. Apa kau ingin menolong mereka semua?"


"Dia tidak punya siapa-siapa bang!" kataku


Bang Alif mendengus kesal mendengarnya.


"Kau tahu, wanita-wanita di daerah peperangan itu keluarganya di bunuh kemudian dia digil** oleh para tentara yang menyerang mereka. Wanita-wanita itu kemudian hamil tapi dipaksa bekerja tak ada batasnya. Kau tidak ingin ke sana menolong mereka?"


"Aku mengenalnya bang, apa aku harus diam saja saat dia menderita dan tidak tahu harus kemana?" Aku masih kekeh membela diri.


"Kau lebih memperhatikan wanita yang tidak punya status apa-apa denganmu dan melupakan istrimu sendiri."


"Kau ini lelaki macam apa Man?"


"Astaghfirullahaladzim Lukman!!!"


"Bayangkan istrimu periksa kandungan sendirian sedangkan kamu mengantar wanita lain untuk periksa kandungan."


"Otakmu kemana Man????!!!!"


Aku benar-benar kaget mendengar kemarahan abang yang disertai umpatan.


"Di alam kubur nanti malaikat Munkar Nakir akan bertanya keluargamu. Anak dam istrimu bukan tetangga atau anak buahmu. Kewajibanmu menjaga mereka dari api neraka"


"Kau ingin orang lain masuk surga dan kau biarkan anak istrimu masuk neraka begitu ??!!!"


"Astaghfirullahaladzim..... Ya Alloh.... astaghfirullahaladzim.... Mohon ampun atas ucapanku ya Alloh. Semoga engkau menjaga kami dari api neraka. Mengumpulkannya kami kembali di dalam surga" Bang Alif memejamkan matanya beberapa saat sambil membaca istighfar dan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

__ADS_1


Aku hanya diam saja menunggu ucapan bang Alif selanjutnya.


"Dulu ada seseorang yang datang pada ulama salafus solih dan mengadu kalau dirinya sudah tak tertarik saat melihat istrinya. Hubungan suami istri rasanya hambar.


" Orang solih itu kemudian bertanya


apakah istrimu sudah tidak cantik lagi? Dia menggeleng."


"Apakah istrimu sudah terlihat tua?


Tidak, jawabnya."


"Apakah istrimu terlihat gemuk?


pria itu menjawab, Tidak juga,dia masih sama seperti dulu."


"Seperti itulah dirimu. Wanita itu terlihat merana dan kau merasa wajib mengulurkan tangan padanya padahal janin istrimu sendiri keguguran dan kau ikhlas-ikhlas saja.


"Atau mungkin kau perlu menceraikan istrimu agar kau tahu bagaimana menderitanya dia, hamil tanpa didampingi suami agar kau berkewajiban menolongnya!" Bang Alif mengucapkannya dengan mendengus sebal.


"Bang!!" Aku tak terima dengan kata-kata nya. Enak saja menyuruhku menceraikan Laila.


"Aku pilih poligami. Aku yakin aku bisa adil!" Kataku percaya diri.


"Dasar geblek!!! Lakukan saja semaumu! Sudah habis kata-kataku. Yang penting aku sudah mengingatkan." Kata Bang Alif kemudian pergi meninggalkan aku begitu saja.


"Bodoh dipelihara!" Ibrahim tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan.

__ADS_1


" Siapa dulu yang pernah mengancamku agar tidak main-main dengan adiknya. Memaksaku untuk berjanji agar setia menjaga hati dan cinta hanya untuk adiknya".


"Sekarang lihatlah siapa yang mempermainkan siapa?"


"Cih"


"Apa kurangnya kak Laila?"


"Cantik, putih, tinggi, langsing, Bohay?" Ibrahim mengatakannya dengan tersenyum sinis.


"Kurang ajar!!!! Diam kau brengsek!!! " Aku tak terima mendengar istriku dipuji sedemikian rupa oleh Ibrahim.


Adik ipar tak tahu diri itu masih bersandar di dinding sambil bersedekap.


"Lihatlah adikmu itu, apa yang bisa dilihat darinya. Badannya kecil dan rata tapi aku bisa menerima dia apa adanya. Bandingkan dengan istrimu yang punya body aduhai..!" Katanya sambil tersenyum kecut membuatku semakin meradang.


"Diam kau bedebah!!!" Aku pun berdiri dan berjalan padanya bersiap untuk meninjunya.


"Itu kenyataan. Punya istri sempurna malah disia-siakan. Meninggalkan batu permata demi mengambil batu kali. Stupid!!" Ejeknya. Dia tak takut malah memprovokasiku.


Dengan sekuat tenaga aku melayangkan tinju pada mukanya tapi dia bisa menangkap tanganku dengan mudah.


"Brakkk!!"


"Ibra!! Jangan buat keributan di rumah sakitku!" Ronald, pemilik rumah sakit berdiri di depan pintu dengan menatap tajam pada kami berdua.


Ibrahim menghempaskan tanganku sampai aku hampir saja terjatuh.

__ADS_1


"Maaf pa Ronald!" Kataku sambil sedikit membungkukkan badan dan pergi meninggalkan mereka. Biar itu diurus oleh Ibrahim sendiri.


__ADS_2