Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Wibu


__ADS_3

Sebenarnya Laila dan kak Mia bersepakat membidik pangsa pasar untuk para wanita dan keluarga dari kalangan menengah. Tapi entah kenapa butiknya itu lebih sering mendapatkan pelanggan dari kalangan atas. Mungkin karena Kak Mia dan Laila selalu berusaha memberikan yang terbaik. Memberi masukan untuk setiap permintaan gaun yang diinginkan bukan melulu mencari cuan dari para pelanggan.


Orang-orang berduit yang datang ke butik itu mengatakan bahwa mereka mengetahui butik baru Laila dari para kolega dan sahabat-sahabatnya. Padahal kak Mia juga kerap memposting lewat berbagai akun media sosial agar dikenal masyarakat luas dan mereka bisa menggunakan jasa mereka tapi yang datang justru wanita-wanita elegan dengan tampilan sempurna yang turun dari mobil-mobil mahal.


Yang tak disangka-sangka oleh Laila, ia bahkan mendapatkan undangan dari pihak pemerintah untuk ikut menyemarakkan pagelaran busana yang mengusung tema batik full day dalam rangka memperingati hari batik nasional. Padahal butiknya baru berjalan sekitar enam bulanan tapi ia mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Tentu itu menjadi hadiah indah untuknya karena hal itu tak pernah terbersit dalam bayangannya, tak pernah menduga jika dia bisa melangkah sejauh ini.


Matanya berkaca-kaca saat mendapatkan undangan yang langsung dikirim oleh orang-orang berseragam pemerintahan. Ia pun bergegas menuju ke ruangan kak Mia untuk membagi kabar bahagia ini.


"Ka....k....!!!!" Laila memasuki ruangan kakaknya tanpa mengetuk pintu dan mendapati Bang Alif sedang memangku kak Mia. Mereka tengah berciuman dengan mesra membuat Laila membelalakkan matanya.


"Ma-maf..." Secepat kilat ia menutup pintu karena merasa tak enak hati karena telah menganggu momen indah mereka.


Dadanya ikut berdetak kencang padahal ia tak melakukan kesalahan. Ia tak menyangka kalau bang Alif ternyata sama seperti suaminya juga.


"Ternyata orang alim juga sama kalau sama istrinya..." Cicitnya sambil memegang dada.


"Kapan bang Alif datang? Kok tiba-tiba sudah di dalam sana" Ia masih menggumam sendiri.


Ceklek


Pintu ruangan kak Mia terbuka dan kepala kak Mia menyembul dengan jilbab yang disampirkan dengan asal di kepalanya.


"Nitip Ni'am ya La... kalau-kalau dia nangis...!"


Ctekk


Tanpa menunggu jawaban dari Laila, kak Mia menutup pintunya kembali dan kali ini tak lupa untuk menguncinya juga. Membuatnya menelan ludah. Hari memang beranjak siang tapi hawa mendung yang menyelimuti sejak pagi memang paling menyenangkan kalau bergelung bersama pasangan. Tiba-tiba saja dia jadi ingin bertemu Lukman.


Buru-buru ia mengambil handphone karena ingin berbicara dengan suaminya. Ingin bercerita tentang kedua kakaknya yang sedang mengunci kamar di dalam kantornya.


Ujung matanya melihat ada orang yang masuk ke dalam butik dan itu membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon sang suami. Ada seorang gadis cantik berkerudung biru yang kelihatan lebih muda darinya sedang berjalan bersama seorang pria tinggi besar yang memanggul bocah kecil di punggungnya. Yang menarik perhatiannya mereka bertiga berkulit putih dan bermata sipit.


"Selamat datang di FOUR EL...."


Serempak para karyawan menyambut kedatangan tamu dengan salam khas mereka membuat gadis cantik bermata sipit itu menyunggingkan senyuman.


Laila memberi isyarat pada para pegawainya kalau dia yang akan melayani tamu kali ini.

__ADS_1


"Ada yang bisa dibantu ci?" Laila mengangsurkan tangan mengajak bersalaman yang disambut baik oleh si gadis. Sedang si pria berpakaian lengkap di sampingnya hanya menganggukkan kepala sehingga Laila menyimpulkan kalau dia tak ingin bersalaman dengan wanita.


"I(baca: ai) mau pesan baju....." Ia menutupi mulutnya dengan tangan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan terlihat tidak nyaman dengan apa yang mau dia katakan.


"Mari ikut ke ruangan saya saja..." Laila cepat tanggap. Ia tahu kalau kliennya kali ini butuh privasi untuk mengatakan desain pakaian yang diinginkan.


"Aku tunggu di sini saja..." Kata si pria sambil duduk di sofa yang disediakan kemudian mendudukkan lelaki kecil yang pendiam mirip seperti putra pertamanya.


Laila memberi isyarat pada pegawainya untuk menghidangkan teh selamat datang juga beberapa camilan yang memang disediakan untuk para tamu yang menunggu agar mereka tidak jenuh.


Di dalam ruangan nya Laila mulai berkenalan dengan klien barunya. Menyebutkan nama masing-masing kemudian duduk saling berhadapan dengan meja kerja sebagai perantaranya.


"I dapat rekomendasi tempat ini dari Ci Karin...."


"Ci Karin...?" Laila mengernyitkan keningnya. Sepertinya ia tidak punya kenalan orang yang bernama Karin.


"Katanya butik kakak iparnya. Itu Ci Karin.... istrinya dokter Ibrahim yang punya rumah sakit Seger Waras..."


"Owh.... Rina.... Ya ampun.... maaf ci...nama adiknya sendiri kok lupa. Kami di rumah biasanya memanggilnya Rina..."


"Haha,... suami saya sama abang kami biasanya manggil suaminya Rina itu Baim bukan Ibra...".


"Ooh.... Sama seperti suami I kalau begitu. Orang-orang biasanya manggil I Fiyah tapi koko panggil I Aya. Katanya itu panggilan kesayangan..."


"Dari Sofiyah jadi Aya... cute.... Romantis banget suaminya...."


"Romantis apanya kak? Dia orangnya jutek kadang malah aneh banget... "


"Sama dengan suami saya kalau begitu. Jadi sekalinya romantis itu jadi pingin nangis.... Terharu begitu..."


"Iya bener ....!!! ih kok kita sama sih kak....! Eh... I panggilnya kakak nggak papa kan?"


"Iya nggak papa. Adik-adikku panggil aku kak Lala....." Jelas Laila.


"Kakak panggil I nonik saja...!" Kata gadis bernama Sofiyah sambil tersenyum dengan mata semakin menyipit bahkan seperti terpejam.


"Oh ya.... nonik mau bikin baju kayak apa dan dalam rangka apa?"

__ADS_1


"Hehe... maaf kak... Keasyikan ngobrol sampai lupa tujuan datang kesini....! Ehm.... itu kak.... !" Sofiyah melipat bibirnya merasa malu untuk mengutarakan maksudnya.


"I mau bikin baju kayak gini kak....." Sofiyah mengambil ponselnya dan menunjukkan gambar baju yang diinginkannya.


Bola mata Laila membola saat melihat baju yang diinginkan klien barunya ini ternyata terinspirasi dari kartun.


Sejenak Laila menatap gambar-gambar kartun dari kartun disney juga kartun jepang. Ia melihat ke arah Sofiyah kemudian melihat ke gambar yang ada di ponsel.


'Wibu rupanya' Batin Laila.


"Bukan kak.... Itu kesukaan suami I. Dia suka saya pakai kostum kartun kalau mau tidur. Especially kalau dia pingin pijat plus-plus..." Ujar Sofiyah terkikik geli dengan ucapannya sendiri. Ia seperti tahu apa yang ada dalam benak Laila.


"Hah....?" Laila sampai ternganga mendengarnya. "Bukan pakai lingerie?"


"Enggak.... dia biasa aja kalau I pakai lingerie. Justru semangatnya kalau I pakai yang kayak gini kak....."


"Ooh....." Laila membeo mendengar penjelasan Sofiyah karena ini pertama kalinya dia mendengar sesuatu yang berbeda.!!


"Jadi mau bikin yang mana saja?" Tanya Laila. Ia merasa tertantang untuk membuat sesuatu yang belum pernah dikerjakannya.


"Itu semua kak.... "


"Hah?!!"


"Hihi.... I nggak buru-buru. Satu-satu aja nggak papa kak.... I masih punya beberapa di rumah." Jelasnya.


Laila menelan ludah karena tokoh kartun yang ditunjukkan ada banyak. Ia pun menggulir gambar-gambar tadi satu persatu sambil menghitungnya. Sepuluh.


"Maaf sebelumnya... Saya belum pernah membuat pakaian seperti ini sebelumnya jadi.... bagaimana kalau saya buat satu dulu. Saya kurang yakin soalnya..." Jawab Laila agak ragu.


"Iya nggak papa kak.... Yang ini aja kak...."


Sofiyah menunjukkan gambar kartun putri jasmine dan aladin pada Laila.


"Loh... ini sama kostum Aladin nya juga?" Tanya Laila agak ragu.


"Iya kak. Sepasang" Jawab Sofiyah sambil mengulum senyum tahu jika Laila merasa heran.

__ADS_1


__ADS_2