
Setelah datang ke rumah sakit Seger Waras aku tak bisa masuk ke dalamnya. Ada banyak Body guard di pintu masuk dan ketika mereka melihatku aku langsung dihadang. Rina rupanya tak main-main dengan mengirim bodyguard yang pandai silat sehingga aku tak bisa lepas dari cengkeraman mereka dengan mudah. Lagipula posisi kami sedang berada di rumah sakit sehingga aku tak mau ribut dan mengganggu para pasien yang menginginkan kesembuhan di situ.
Aku pun pulang dan tak mendapati anak-anakku di rumah. Hanya ada ayah dan ibu yang tutup mulut dan tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan. Di rumah abang pun tak ada orang. Hanya ada para pekerja yang tak tahu keberadaan si pemilik rumah.
Sepertinya mereka benar-benar marah kepadaku dan memboikot ku bersama-sama.
Ya Alloh... tak dianggap oleh keluarga itu sangat menyedihkan aku rela menggantinya dengan semua yang kumiliki sekarang ini asal mereka mau memaafkan dan menerimaku kembali.
"Bu, anak-anak kemana?" Tanya ku pada ibu tiriku.
Ibu menarik nafasnya kemudian berkata, "Tadi katanya mau ke bundanya"
"Sama siapa bu?"
"Tadi sama abang kamu perginya"
Hanya itu informasi yang bisa kudapatkan membuatku semakin kebingungan.
__ADS_1
Iya, Ani. Mungkin anak-anak sekarang di bawa ke rumah Ani. Tanpa menunggu lagi aku keluar dari rumah dan memacu kuda besiku agar bisa segera sampai di rumah adikku. Tapi sampai disana rumahnya lengang tak ada Ani ataupun ibu mertuanya. Perjalanan kulanjutkan lagi ke Swalayan TOP DW milik Zainal adik iparku, tapi lagi-lagi aku tak mendapat informasi apapun. Mobil milik Zainal juga tak kudapati ada di tempat parkir. Menurut security disana bos mereka hari ini memang belum datang ke kantor.
Mungkin karena frustasi tak ada tempat untuk melepas lelah, tanpa aku sadari kendaraanku menuju ke tempat Septi.
"Mas...." Dia tersenyum saat membuka pintu untukku.
"Masuk mas!" Katanya dengan wajah sedikit pucat. Aku yang sampai sejauh ini biasanya hanya duduk di teras depan tiba-tiba melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah dengan ringan.
"Kenapa wajahmu pucat begitu?" Tanyaku saat melihat mata sayunya yang terlihat lebih cekung dari biasanya.
"Nggak papa kok mas. Mungkin karena lagi nggak nafsu makan"
Ya Allah ternyata aku sudah berjalan terlalu jauh hingga membuatku menganggap hal seperti ini lumrah dan biasa.
Buru-buru aku berpamitan pada Septi dan meninggalkan uang bergambar proklamator dua lembar di atas meja. Aku takut setan akan menggodaku dan aku tak lagi bisa menahannya.
"Mas tunggu....!!" Septi menarik lenganku dan aku hanya menahan getaran-getaran halus yang merayap di kulit tanpa berniat melepaskan pegangan tangannya. Aku tahu aku salah tapi aku seperti tak kuasa untuk menangkis tangannya. Aku malah diam dan merasakan debaran jantung yang menginginkan lebih lagi.
__ADS_1
"Aku minta maaf sudah membuat semua kekacauan ini!" Septi lebih mendekat lagi dan tangannya yang lain ikut memegang tanganku juga. Mungkin karena aku diam saja membuatnya jadi lebih berani. Tapi aku seperti tersihir dan tak menampiknya tangannya.
"Mas Lukman sudah berbuat banyak padaku tapi aku tak bisa membalas apa-apa. Aku ingin menjelaskan pada Kak Laila kalau anak ini bukanlah anaknya mas. Aku.... aku ingin membalas semua kebaikan mas Lukman padaku" Katanya sambil menundukkan kepala.
"Ini bukan salahmu...!" Kataku saat melihat genangan air di matanya. Ia terlihat rapuh sekali.
Ia mendongakkan kepalanya dan air matanya menetes ke pipinya.
"Makasih untuk semuanya mas!" Katanya.
Kuulurkan tanganku untuk mengusap pipinya yang basah. Mata kami bertatapan cukup lama dan entah kenapa aku merasa tak berdaya saat dia mencium bibirku.
"WRENGGGGGG!!!!"
Aku berjingkat kaget mendengar suara deru motor yang melaju dengan kecepatan penuh.
"Ciiiiiiittttt... !!!!!"
__ADS_1
"BRruuakkkk!!!!"
Mendengar suara tabrakan aku segera berlari keluar menuju ke jalan raya meninggalkan Septi begitu saja.