Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
First kiss


__ADS_3

Di dalam kamar mandi rumah sakit nampak Laila sedang berusaha membuka baju yang masih melekat di raga Lukman. Membuka kancing bajunya satu persatu dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada getaran-getaran tak kasat mata yang memantik jiwa nakalnya. Desiran halus juga ikut merayap saat kulit keduanya bersentuhan.


Laila mencoba mengingatkan diri sendiri jika dia bukan lagi satu-satunya. Harus tahu diri dan jangan berharap lebih. Lihat kedepannya bagaimana nanti.


Di atas kursi roda, Lukman yang tak bisa bergerak memperhatikan setiap gerakan istrinya. Di dalam sanubarinya ia merasa amat sangat bersalah karena sudah menyia-nyiakan istrinya. Kini disaat ia tak bisa bergerak tanpa bantuan seseorang hanya istrinya seorang yang begitu sabar dan telaten merawatnya bahkan membersihkan hajatnya meski dia sudah menyakitinya.


"Mmmmmma-affff...." Lukman memandang manik mata bulat milik sang istri yang kini meredup sinarnya seakan tak punya cahaya. Dan ia tahu itu semua karena dia sebagai kepala keluarga tidak becus mengurus istri dan anaknya.


Laila yang sudah berhasil melepas baju kemudian mengambil sabun cair yang ada dan mulai membalurkan pada tubuh kekar Lukman.


"Untuk...?" Laila melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat si penanya yang menatapnya penuh damba.


"ssssseeeemmmmuuuaaaa" Katanya penuh penyesalan dan itu terlihat dari raut wajahnya.


Laila tak menjawabnya dengan kata-kata hanya menyunggingkan senyum dengan sejuta makna. Tubuh kekar Lukman sungguh memantik gairah Laila yang sudah lama didiamkan tanpa sentuhan. Ingin sekali ia mencium bibir tebal lelaki di depannya tapi rasa gengsi terselip di ujung hatinya. Tunggu nanti jika dia yang menginginkannya.


Ia pun melanjutkan menyabuni lengan juga ketiak Lukman.


"Leeeeeeeeeppppppas!!" Lukman memandang sarung yang masih melekat di tubuhnya. Rasanya pasti risih sekali.


Laila menelan ludah mendengar permintaan suaminya. Ia bukannya tak pernah melihat sebelumnya bahkan mandi bersama juga kerapkali mereka lakukan bersama. Tapi mukanya malah merah merona seolah dia adalah gadis yang baru pertamakali kali melihat alat vital pria.

__ADS_1


"Sikat gigi dulu ya bang..." Katanya sambil menaruh pasta gigi di atas bulu sikat gigi. Ibunda Labib dan Latif itu membantunya menyikat giginya dengan pelan seperti saat ia mengajari anak-anak nya untuk melakukan hal yang sama.


Setelah satu pekerjaan usai ia kemudian mengurai gulungan sarung di perut sixpack milik suaminya. Ia berusaha bersikap biasa seolah hatinya tak mendambakan mesra yang sudah lama tak didapatnya.


"Maaf ya bang...." Suaranya mencicit saat tangannya harus mulai merayap di sela-sela pusat didih sang suami. Merogoh ke dalam bagian-bagian yang harus dibersihkannya karena sarung yang dipakai Lukman masih tertinggal di ujung pahanya. Ia juga harus melakukannya dengan hati-hati karena selang air kencing yang masih menancap di ujung kepala ******** suaminya.


Lelaki itu melekatkan pandangannya pada si wanita yang terlihat salah tingkah. Laila berharap acara memandikan suaminya cepat selesai agar ia bisa terbebas dari pandangan suaminya yang membuat dadanya berdebar-debar tak karuan.


Laila membasahi kepala suaminya karena Lukman juga minta keramas dengan kalimat yang terbata-bata. Bagaimanapun keadaannya Laila merasa semakin mencintai suaminya. Mungkin benar dia memang sudah tergila-gila pada lelaki yang kini lumpuh tak bertenaga.


Laila mengangakat tubuh Lukman untuk melepas sarung yang basah. Bukan perkara mudah tentu saja karena badan kekar Lukman berbanding terbalik dengan badan Laila yang ramping dan seksi. Tapi itulah kemurahan Tuhan yang diluar nalar. Kerapkali saat kita berada dalam keadaan terjepit kita bisa melakukan sesuatu yang ketika kita sudah sadar malah terheran-heran. Bagaimana bisa tadi aku melakukannya.


Laila mendorong Lukman keluar dari kamar mandi dan meminta Rina yang masih berada disana untuk memindahkannya ke atas ranjang.


"Anak-anak sebentar lagi ke sini kak...." Kata Rina pada Laila.


"Kamu tungguin abangmu dulu! Aku mau mandi sebentar..." Kata Laila sambil membenarkan bathrobe Lukman yang menyingkap.


"Aku mandi dulu ya bang, abis ini baru pakai baju...." Katanya sambil mengulas senyum kemudian bergegas ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama untuk mandi apalagi di saat darurat seperti ini. Asal kena air saja agar badan jadi segar dan suci. Ia Menaruh baju-baju kotor ke dalam keranjang dan menjemur handuk yang basah di tempatnya setelah itu barulah ia keluar.

__ADS_1


Indra penciuman Lukman bisa merasakan bau harum yang menguar dari tubuh indah milik sang istri begitu ia keluar dari kamar mandi. Ia pun memandang istrinya lekat-lekat tak ingin mengedipkan mata jika ia bisa. Ingin sekali ia memeluk tubuh yang dulu selalu memberikan kehangatan tiap malam padanya tapi sekarang ia hanya bisa menelan ludah karena tak punya daya apa-apa. Apalagi sang istri belum bisa memaafkan kesalahannya dengan sempurna. Lukman tahu itu karena saat tadi ia mengucapkan kata maaf Laila hanya diam saja tak menjawabnya.


Laila memakaikan baju juga sarung pada Lukman dengan hati-hati. Ia selalu mengulas senyum saat mata mereka saling bertabrakan secara tak sengaja.


"Mmmmmmmaaaaaaaaaafff.....!" Kata Lukman lagi saat Laila menutup kakinya dengan selimut setelah membalur telapak kaki suaminya itu dengan minyak kayu putih.


Lagi-lagi Laila tak menjawab hanya menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman.


Mata Lukman berkaca-kaca karena menyadari kesalahannya sungguh mencabik-cabik sebongkah daging dalam rongga dada istrinya yang sulit untuk disembuhkan dengan mudah dan ia tahu harus berusaha keras untuk meluluhkan hati istrinya dengan keadaannya sekarang.


Ia memutar otak dan mencari cara agar istrinya bisa tersenyum dengan bahagia tidak terpaksa seperti saat ini.


"CCCCiiiiiuuuuuummm!!!" Akhirnya ia mendapatkan ide gila karena yakin istrinya tak akan menolak permintaannya.


Ia pun memajukan bibirnya sampai berbentuk seperti ***** ayam yang membuatnya wajahnya tampak lucu.


Laila refleks tersenyum mendapati sifat manja suaminya. Ia pun mendekatkan bibirnya pada bibir yang seksi, padat dan berwarna gelap milik Lukman. Laila yang hanya berniat memberi ciuman sekilas pada suaminya kini terpaksa mengikuti permainan gilan sang suami yang kini mencengkeram pinggang kirinya.


Dengan posisi Laila yang membungkuk keduanya saling bertukar saliva larut dalam kerinduan disertai desiran halus nan lembut yang membuai keduanya. Merasakan benda mungil yang kenyal juga dingin nan segar karena baru saja terguyur air membuat sensasi menggelitik yang tak ingin segera disudahi. Rasanya bahkan lebih manis dari madu sampai menimbulkan reaksi panas dingin yang membuat bulu kuduk keduanya meremang.


Dari balik pintu Karina menyaksikan hal itu dengan berderai air mata. Ia berdoa sepenuh hati sepenuh jiwa memohon pada Yang Kuasa agar mengampuni dosa kakaknya. Semoga kakak iparnya bersedia membuka ruang maaf untuk abangnya. Semoga kehidupan rumah tangga abangnya baik-baik saja bisa kembali seperti semula. Ia mengusap pipinya yang basah saat melihat dua keponakannya datang bersama ayah ibunya.

__ADS_1


__ADS_2