
"Ayah! Ayah kok cenyum-cenyum dali tadi. Ada memangnya kenapa?" Tanya Labib yang masih berguling-guling di atas karpet di ruang tengah karena menunggu sang bunda yang sedang menemani kakaknya Latif belajar.
"Memangnya ada apa yah? tanyanya yang benar begitu dek. Cobak diulang! " Lukman mengajari putra keduanya mengucapkan kalimat yang benar.
"Ayah kok cenyum-cenyum dalitadi. Memangnya ada apa yah? Ayah abis ketemu cama ciapa? kelihatannya bahagia cekali?" Labib malah bertanya lebih banyak dari yang diajarkan ayahnya.
"Pinter banget sih anak ayah ini. Padahal cuman diajarin satu kalimat aja" Lukman ikut tidur tengkurap sambil melihat putra keduanya.
"Abis ketemu capa yah?" Rupanya Labib tak bisa berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawabannya.
"Ohhh.... tadi abis ketemu.... Adalah..." Lukman senyum-senyum lagi saat mengingat wajah si gadis yang kulitnya nampak tak terurus dan kusam.
"Ayah ceneng ba.."
"Bisa diem nggak dek?" Latif yang sedang belajar di ruang tamu merasa terganggunya dengan celotehan adiknya. Sifatnya yang ketus dan garang persis seperti sifat Lukman. plek-plekan.
Dua orang beda generasi yang ada di ruang tengah hanya saling memandang tanpa mengeluarkan suara. Labib yang mendengar suara keras kakaknya langsung tahu kalau si kakak sedang marah. Ia menaruh jari telunjuk di depan bibirnya di depan wajah sang ayah.
Lukman tersenyum sambil memejamkan mata dengan posisi telungkup seperti tadi.
"Ayah capek ya?" Labib berbisik di telinga sang ayah. Lukman pun mengangguk meski sebenarnya fisiknya tak merasa lelah. Dia hanya ingin mendapat rayuan dan physical touch dari putranya yang super sweet ini.
__ADS_1
"Adek pijitin ya yah?" Tanya nya sambil berbisik lagi dan sang ayah langsung memposisikan dirinya untuk mendekati tembok agar si kecil bisa berpegangan.
Labib langsung berdiri dan mulai menginjak-injak tubuh Lukman dari pundak sampai ke kaki. Si kecil yang pengertian dan sabar ini membuat Lukman selalu bahagia tidak seperti putranya yang pertama. Sudahlah wajahnya sama persis seperti dirinya, sifat dan tindak tanduknya bukan sebelas dua belas tapi sama-sama sebelas. Benar-benar nggak ada bedanya. Sekali lihat saja orang bisa langsung tahu kalau itu putranya.
Kalau si kecil ini dia sweet. kulitnya putih, wajahnya persis seperti Laila. Jadi bisa dibilang ini Laila versi cowoknya. Hampir mirip dengan Doni hanya saja kalau om nya itu kulitnya lebih coklat dan hidungnya standar tidak mancung seperti Doni.
Laila yang menemani si sulung belajar sudah menguap beberapa kali. Anaknya ini memang kutu buku. Kalau anak seusianya lebih suka pegang gadget berbeda dengan Latif, dia selalu asyik saat memegang buku. Seperti candu tak bisa berhenti kalau sudah berhadapan dengan makhluk yang bernama buku.
Sampai yang mengajari atau menunggui nya belajar sudah capek dia masih betah saja belajar. Setelah belajar bersama dengan Bang Alif dan Maryam sekitar jam setengah sembilan dia akan pulang ke rumah dan melanjutkan belajar lagi di rumah. Dia hanya mau ditemani bundanya tidak mau sama ayahnya atau kakek neneknya.
Jadilah si kecil Labib yang pengertian itu mengalah seperti biasa. Merelakan bundanya untuk abangnya.
Labib sudah menguap berkali-kali tapi kali ini dia ingin sekali ditemani bundanya. Sudah lama rasanya sang bunda tidak menemaninya tidur. Ia mempertahankan posisi duduknya agar tidak tertidur karena badannya sempat hampir jatuh beberapa kali dengan mata merem melek khas orang mengantuk berat.
"Mau bobok cama bunda...." Matanya tinggal beberapa watt saja tapi dia masih bersikukuh ingin menunggu bundanya yang sedang menemani kakaknya.
Labib kemudian berdiri dan berjalan ke ruang tamu dengan memberanikan diri, takut-takut pada abangnya yang terkenal garang.
"Bunda.... Adik nantuk. Mau bobok cama bunda...!" Dia memeluk Laila sambil melirik si abang yang tak menoleh padanya.
"Bunda tidur duluan aja! Abis ini abang sudah selesai kok!" Kata Latif tanpa menoleh.
__ADS_1
"Beneran nggak papa kalau ditinggal sama bunda?" Sang ibu agak ragu juga.
"Hehem" Jawabnya dengan mata masih fokus pada buku.
Laila pun segera beranjak dari duduknya sambil menggendong si kecil ke kamarnya.
"Hali ini bubuk cama bunda teyus ya campek pagi....!" Labib sudah menenggelamkan kepalanya di antara leher sang bunda. Ia mengernyit keheranan mendengar permintaan si kecil yang tak seperti biasanya.
Lukman yang mendengar perkataan si kecil juga tumben di saja seperti tak keberatan.
Setelah istri dan anak keduanya masuk ke kamar Lukman pergi ke ruang tamu untuk menemani putra pertamanya.
Latif yang tahu ayahnya datang tidak mendongakkan kepalanya apalagi menyapa. Acuh saja. Sementara sang ayah jadi serba salah.
Lukman duduk agak jauh dari putranya memandangi si sulung yang sedang menatap buku dengan serius. Diam-diaman tanpa kata.
.
.
.
__ADS_1
Aku minta izin hari Senin atau Selasa baru up lagi ya soalnya ibuku mau mantu adikku yang paling kecil.
Makasih yang sudah sampai sejauh ini mendukung aku, love you