
Laila sedang duduk di ayunan di halaman rumah bang Alif sambil menatap halaman rumah suaminya yang dulu dipenuhi aneka sayur-sayuran. Karena kesibukan Lukman kini halaman itu tak seperti dulu lagi.
Pak Dirman sebenarnya suka juga berkebun tapi hasilnya tak sebagus jika dirawat oleh Lukman. Apalagi sekarang mertua Laila itu sedang pergi ke Jawa tengah untuk ziarah ke makam putra bu Jannah dan berlibur beberapa waktu di sana. Biasanya bisa sampai satu bulan lamanya. Praktis sekarang hanya disirami biasa saja oleh pak kebun mereka.
Labib yang sedang bermain mobil-mobilan di halaman itu tampak riang sekali. Bayi lelaki yang tampan dan tembem membuat semua orang menyukainya. Apalagi dia murah senyum seperti pamannya Doni.
Para penjahit yang sedang mengambil kain-kain yang akan dibawa pulang selalu menyapa si kecil, ada pula yang menyempatkan diri menggendongnya dan menoel-noel pipinya.
Para pekerja borongan itu juga menyapa Laila tapi sayangnya sang juragan seolah tak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya sedang menerawang ke masa lalu saat baru setengah bulan ia tinggal di rumah suaminya. Yang berarti usia pernikahan sirrinya sudah satu bulan saat itu.
.
__ADS_1
.
Pagi-pagi sebelum solat subuh Perutnya seperti diaduk-aduk dan rasa mual memenuhi rongga dadanya. Ia pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya di sana.
Lukman yang sedang berdzikir malam di atas sajadahnya segera berlari menyusul sang istri setelah mendengar derap langkah kaki milik istrinya ke kamar mandi dan sebentar kemudian terdengar Laila memuntahkan isi perutnya.
Lukman memijit tengkuk sang istri dengan lembut kemudian menyiram muntahan istrinya tanpa rasa jijik sekali. Ia tak bertanya pada istrinya dengan pertanyaan 'kenapa' karena tahu kalau Laila pasti kesakitan dan malas menjawab pertanyaan dalam kalimat panjang.
Laila mengangguk satu kali sambil memejamkan matanya. Perutnya sangat perih dan mulutnya terasa keju. Rasanya untuk bicara saja ia tak punya kekuatan lagi. Untungnya sang suami seperti tahu isi hatinya. Lukman segera membasuh mulut istrinya dengan lembut tanpa rasa risih sama sekali kemudian mengguyur kaki sang istri dan setelah itu menggendongnya untuk di bawa ke kamar.
Pelan-pelan ia menurunkan ibu dari kedua anaknya itu diatas tempat tidur. Wajah kesakitan istrinya membuatnya kasihan dan ia menyalurkannya dengan mencium kening istrinya selama beberapa detik agar bisa sedikit baikan. Lukman mengusap wajah Laila dan membersihkannya dari rambut yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Si cantik berkulit putih itu menatap wajah suaminya dengan rasa bahagia. Setelah kepergian kedua orangtuanya dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan adiknya. Karena itu ia kerap bermimpi punya suami kaya raya yang bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Tetapi Tuhan Yang Maha Baik justru mendatangkan Lukman padanya. Seorang suami yang begitu baik dan perhatian. Penuh kasih sayang dan kehangatan. Meskipun saat itu Lukman belum sekaya sekarang tapi dia bisa memenuhi kebutuhan istri dan adik dengan sangat baik. Berkat Lukman pula ia mendapatkan sebuah keluarga yang utuh dan harmonis. Punya ayah, ibu juga kakak dan adik.
Laila bersyukur atas semua karunia yang dia dapatkan semenjak bertemu dengan Lukman. Ia menyentuh perutnya dan berkata dengan pelan, " sakit..."
"Aku oles pakai kayu putih dulu ya"! Kata Lukman sambil melepaskan pecinya.
Lelaki yang gagah dan kekar itu menyingkap pakaian yang menutupi perut istrinya. Melihat perut sang istri yang putih mulus ia kemudian menciumnya dan berkata, "Jangan-jangan di dalam sini sudah ada dedeknya yank" Kata Lukman penuh pengharapan.
"Amiin.... " Gumamnya lirih sambil memejamkan matanya. Ia juga punya harapan yang sama tapi tidak yakin juga sebab kemarin dia memang makan banyak sekali dan mungkin perutnya memberontak karena tidak bisa mencerna semua makanan yang masuk ke dalamnya.
__ADS_1