
Dua hari setelah itu Lukman masih bersikap sama seperti sebelumnya membuat Laila mulai menurunkan egonya. Mungkin ia melakukan kesalahan yang belum ia sadari dan suaminya juga tak mau memberitahunya secara langsung. Maka ia pun mulai intropeksi.
Pagi itu Laila meminta pada Kak Mia untuk mengawasi para pekerjanya dan sekalian minta jagain Latif kalau sudah pulang sekolah nanti kalau-kalau dia belum pulang karena Laila berencana ke tempat Lukman bekerja. Ingin berbaikan dan minta maaf. Laila juga penasaran dan ingin mendapat penjelasan tentang kesalahan apa yang sudah dia lakukan.
Setelah berpamitan pada mertuanya juga, Laila mengendarai mobilnya bersama si kecil Labib. Laila sekarang sudah mahir mengendarai mobil, dia juga sudah punya SIM sendiri. Berbeda dengan kak Mia yang kemana-mana masih nyaman di antar jemput saja terutama oleh bang Alif.
Laila sudah memasak makanan spesial untuk sang suami di bantu oleh ibu mertuanya tadi, merasa yakin kalau suaminya akan bahagia menyambut kedatangannya karena jarang-jarang ia melakukannya.
Pernah dulu saat ulang tahun Lukman, Laila datang ke sawah tempat Lukman bekerja dan suami Laila itu sangat bahagia menyambut kedatangannya. Kali ini pun pasti sama, begitu pikirnya. Laila tersenyum sambil mengajak putranya bercanda.
"Ayah pasti seneng kita kesana...." kata sang ibu sambil melihat putranya yang duduk di bangku belakang melalui kaca spion tengah.
"Ayah pasti ceneng.... !!" Kata si kecil yang cadelnya itu hanya di beberapa huruf saja .
"Iya. Nanti disana ada kerbau nggak ya?"
"Kelbau? apa itu bunda?"
"Kerbau itu yang kayak sapi tapi warnanya hitam dan bertanduk " Jawab sang bunda riang gembira.
Akhirnya keduanya sampai di tempat yang dituju. Di sana sawah membentang dengan tanaman yang mulai menguning menutupi sebagian bumi menyejukkan pandangan. Orang-orang an sawah sudah ada di berbagai penjuru untuk menghalau burung yang ingin mencicipi padi yang mulai masak di pohonnya. Beberapa lahan ada yang ditutupi semacam jala yang rapat agar tanaman padi mereka tak habis di makan makhluk yang bernama burung jalak dan saudara-saudara nya.
Di sebelah sawah ada sungai kecil yang mengalir dengan suara air yang bergemericik merdu sekali.
Laila menghentikan mobilnya di jalan yang agak jauh dari kantor dan gudang milik sang suami.
Laila kemudian memutar dan membelokkan mobilnya agar posisi kendaraannya itu bisa langsung ngacir nanti jika waktunya pulang jadi dia tidak perlu susah payah lagi.
"Ya.... ndak ada kerbaunya dek..." Kata Laila sambil mengambil anaknya yang ada di tempat duduk nomer dua dengan tempat duduk dan safety belt yang khusus untuk bayi.
__ADS_1
Labib hanya diam saja tak menanggapi ibunya. Matanya sibuk melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang dia lihat setiap harinya.
"Masya Allah ya bunda...." Kata Labib saat melihat keindahan alam yang disuguhkan di depan matanya.
"Iya Masya Alloh indahnya.... " Kata Laila mengikuti kata-kata putranya. " Masya Allah pintarnya anak bunda..." Katanya sambil mencubit hidung si kecil.
Suasana cukup sepi karena jam segitu biasanya para pekerja juga suaminya sedang ada di sawah. Laila kemudian menggendong putranya ke arah sawah untuk melihat para pekerja di sana juga untuk mencari suaminya.
Laila sangat suka suasana di persawahan seperti itu. Mengingatkannya saat dia dan Lukman harus jalan kaki berduaan karena motor Lukman kehabisan bahan bakar saat awal-awal perkenalan.
Ia masih ingat bagaimana Lukman memakaikan jaket untuk menutupi kakinya yang waktu itu memakai rok span di atas lutut.
"Permisi ibu-ibu...." Laila menyapa para ibu yang sedang berisitirahat di tepian sungai sambil makan bersama-sama di daun pisang yang di pincuk.
"Pak Lukman di mana ya bu?" Tanya Laila sambil mengedarkan matanya ke dangau yang ada fi tengah-tengah. Melihat barangkali suaminya ada di sana.
"Tadi masih ada di kantor" Kata salah satu dari mereka.
"Nggak usah makasih bu. Saya mau kasih kejutan buat bapak" Kata Laila dengan sopan.
"Lama nggak kesini bu, si aden sudah besar rupanya. Mana tambah ganteng saja wajahnya"
"Iya bu sibuk sekali, jadi tidak bisa sering-sering kesini " Laila menjawab pertanyaan ibu tadi dengan muka ramah.
"Kalau begitu saya ke sana dulu ya ibu-ibu. Makasih sebelumnya." Kata Laila sambil mengulas senyum kemudian berbalik kembali ke rumah kecil yang dipakai kantor oleh lukman juga sebagai tempat istirahatnya.
"Itu siapa?" Beberapa dari mereka tidak mengenal Laila karena dia memang jarang sekali datang ke tempat kerja suaminya
"Istrinya pak Lukman itu..." Jawab si ibu yang sudah lama ikut bekerja pada Lukman.
__ADS_1
"Wah.... sudah cantik seksi lagi. Rejeki nomplok deh pak Lukman " Para ibu-ibu itu memperhatikan Laila yang berjalan memunggungi mereka. Gaya Laila memang nampak elegan meskipun dia memakai kerudung tapi busana muslimnya tidak kampungan.
" Itu kayaknya nggak ada yang asli " Salah satu ibu ada yang berani mengatai istri atasannya.
"Maksudnya?" ibu-ibu yang lain jadi kepo.
"Ya.... dengan uang kan semua bisa dirubah. Yang asalnya hitam bisa jadi putih. Yang asalnya kecil bisa dijadikan besar, Yang jelek kalau punya uang juga bisa jadi cantik" Jelasnya panjang lebar.
"Hussh.... nggak baik ngomong begitu! Itu bukan urusan kita. Terserah dia lah. orang duit-duitnya dia" Kata si ibu yang mengenal Laila.
"Ayo balik kerja kerja!!!"
Laila berjalan mengendap-endap saat tiba di kantor milik suaminya. Ia ingin memberi kejutan pada suaminya yang kini sedang ada di dalam rumah yang menjadi kantor juga tempat istirahat nya. Dari luar Laila bisa mendengar suara sang suami sedang berbicara dengan seseorang, mungkin pegawainya.
"Mas mau makan yang manah? Yang inih....apa yang inihh....?"
Bola mata Laila seakan ingin meloncat keluar mendengar suara seorang gadis yang mendayu-dayu seperti sedang merayu.
Dan apa katanya tadi makan ini atau ini? Pikiran Laila sudah kemana-mana. Itu seperti perkataan intim antara dirinya dengan sang suami. Ia biasanya yang berkata begitu saat merayu sang suami dan biasanya sambil menunjuk dada nya yang sebelah kanan dan kiri.
'Apa-apan ini? ' Laila tersulut emosi dan segera membuka lebar-lebar pintu yang memang tidak sepenuhnya tertutup, lebih tepatnya membanting pintu.
BRAKKK!!!!!
Pemandangan yang dilihat oleh Laila sungguh tidak pernah terbersit dalam pikirannya. Lukman, suaminya sedang duduk menghadap meja yang penuh makanan dan seorang gadis sedang duduk dalam pangkuannya.
Mulut Laila terbuka saking shock nya. Beberapa saat ia dan Lukman saling berpandangan.
"Bunda...." Suara Labib menyadarkan Laila dari alam sadarnya. Buru-buru ia menutup mata Labib agar putranya tak melihat ayahnya yang sedang memangku seorang gadis.
__ADS_1
Tiga detik kemudian Laila langsung berlari meninggalkan suaminya yang masih terpaku dan sama terkejutnya dengan dirinya.