
Karena tak menemukan titik terang aku memutuskan pulang ke rumah barangkali anak-anak sudah kembali dan aku bisa mendapatkan kabar berita terbaru nantinya.
Aku memutuskan untuk mampir sebentar di kedai bakso di depan rumah sakit milik Ibrahim untuk mengisi perut yang terasa panas sekaligus untuk mengamati , barangkali aku melihat salah satu keluargaku keluar masuk rumah sakit yang masih saja di jaga oleh bodyguard bertampang sangar suruhan Karina. Semenjak menikah dengan Ibrahim gaya hidup adikku itu tak seperti seorang mafia saja.
Saat bakso yang kupesan datang aku langsung melahapnya. Seharian berputar-putar di jalanan membelah kota dan desa aku hanya sempat mengisi perut dengan gorengan di pinggir jalan membuat perut ku kini terasa keroncongan. Kupaksakan mulutku mengunyah makanan itu meskipun aku tak menyukainya.
Aku terbiasa hidup sehat dengan makan-makanan yang kaya serat dan sehat. Gorengan hanya sekedar nya saja. Kalau jajan bakso biasanya aku hanya mengantar Laila.
Laila.... aku benar-benar merindukan istriku sekarang. Gadis yang dulu membuatku berdebar-debar tak karuan. Badanku selalu panas dingin saat melihatnya. Bahkan membayangkannya saja bisa membuatku senyum-senyum sendiri. Kalau diingat-ingat sekarang, dulu aku seperti orang gila. Berharap bertemu dengannya tapi saat sudah melihatnya aku hanya bisa berpura-pura tidak menghiraukannya. Padahal hatiku sudah kebat-kebit ingin menikmati wajah cantiknya.
__ADS_1
Dari ekor mataku aku bisa melihat ia begitu kesal karena seperti tak memperdulikannya padahal aku berusaha sekuat tenaga agar tak melihatnya karena gemuruh di dalam dada. Hawa panas yang menyergap dari ujung kaki sampai ke ujung kepala kutekan mati-matian dan berharap bisa menyalurkannya dengan cara yang benar melalui pernikahan.
Bisa dibilang dia adalah gadis pertama yang bisa memporak-porandakan hatiku. Aku begitu ingin segera menyuntingnya agar bisa segera menjadi istriku. Bersyukur dengan rentetan kejadian di masa lalu yang bisa membuat pernikahanku di segerakan dengan alasan agar aku bisa menjaga dirinya padahal aku memang sudah punya niat untuk meminangnya hanya saja karena kejadian waktu itu membuatku emosi juga kesal pada preman-preman itu sehingga yang terucap seperti sebuah keterpaksaan padahal bukan. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku ingin melindunginya dengan segenap jiwa raga.
Ah.... benar..! Kalau diingat-ingat aku belum pernah melamarnya secara langsung dengan cara yang indah dan romantis. Maafkan aku sayang.....
Setelah menghabiskan bakso dan cukup lama juga aku duduk disitu tapi tak melihat ada tanda-tanda keluargaku aku membawa motorku ke masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit Ibrahim. Untungnya masjid itu terbuka.
Laila ....
__ADS_1
Kini aku baru merasa
kau sangat berharga
Tanpamu jiwaku terasa hampa
Denganmu hatiku tenang dan bahagia
Lalu perasaanku dengan Septi itu bagaimana? Apa ini juga disebut cinta? Entahlah. Pada mulanya aku tak berniat untuk membagi cinta apalagi berpoligami. Aku ingin menapaki setiap hari hanya dengan Laila dan anak-anak kami. Tapi karena ada miskomunikasi diantara kami Laila sampai menyuruhku untuk mencari madu dan mengizinkanku melaksanakan poligami.
__ADS_1
Septi hadir saat itu dan aku hanya ingin menunjukkan pada istriku kalau sebagai lelaki yang sudah beristri dan punya dua anak masih ada wanita yang mau menerimaku. Tapi setelah hubungan kami mencair dan membaik seperti sedia kala aku ingin meninggalkan Septi tapi ternyata dia sedang hamil dan aku tak bisa meninggalkannya begitu saja karena dia sendirian tak punya sanak saudara. Ternyata masa lalunya juga sangat memilukan.