Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Lingerie


__ADS_3

"Silahkan istirahat dulu pengantinnya. Istrinya kasihan ditinggal sendiri. Pasti sudah nunggu dari tadi..." Salah seorang tetangga yang belum pulang dan memilih bergadang di tempat hajatan menggoda Lukman.


"Iya mangga atuh mas Lukman. Pengantin nggak boleh capek. Biar punya tenaga ekstra buat perang..."


"Masuk sana!" Bang Alif menatap Lukman dengan tatapan yang lain dari biasanya. Tatapan jahil seorang kakak pada adiknya. "Jangan lupa minum jamunya!" Katanya sambil menahan senyum saat Lukman berdiri hendak meninggalkan mereka membuat orang-orang yang sedang berkerumun di situ ikut terkikik. Ternyata bang Alif yang mereka segani juga bisa bercanda dengan keluarganya.


"Saya permisi dulu...." Kata Lukman sambil mengusap belakang lehernya karena mendapat bulliyan yang menyenangkan.


"Jangan dihabis-habiskan mas....."


"Pelan-pelan saja...."


Kata-kata absurd dari para tetangganya yang kebanyakan fans bang Alif itu kali ini terdengar merdu di telinganya. Ia merasa menjadi pengantin baru yang belum pernah itu-itu padahal kenyataannya sudah sering. Bahkan sampai sekarang sepasang pengantin itu tidak pernah melewatkan sehari pun untuk tidak inuk-inuk. Mereka bahkan mengeskplor berbagai gaya untuk memenuhi keingintahuan mereka terutama Lukman.


Begitu membuka kamar matanya yang tajam memindai tiap sudut dalam ruangan itu. Ia masuk dan menutup pintunya dengan pelan.


Greb!!


Sepasang tangan putih mulus memeluk perutnya dari belakang. Bau harum menyerebak memenuhi indra penciumannya. Tanpa menoleh pun Lukman tahu siapa yang sedang ada di balik punggungnya. Kehangatan menyeruak diantara kedua insan yang dimabuk cinta dan hari ini baru saja menggelar pesta sehingga bisa merasakan menjadi raja dan ratu meski cuma sehari.


Lukman memejamkan mata menikmati rasa indah yang merayap di kulitnya. Debaran jantungnya juga ikut menabuh genderangnya. Ada rasa menggelitik dan bergelora di dalam tubuhnya. Panas dan bergairah.


Lukman membalikkan badan kemudian melihat kekasih halalnya yang nampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hari ini adalah malam pertama mereka menginap di rumah milik keluarga Lukman dengan fasilitas yang lebih baik daripada di tempat kosan Laila dan adiknya.


Mata Lukman terbelalak melihat keindahan yang ditampilkan istrinya. Laila memakai pakaian minim, terawang dan pastinya merangsang yang dikenal dengan nama lingerie. Dalam sesaat Lukman mematung saking takjubnya.


Sang istri yang mempunyai tubuh seindah tubuh foto model majalah dewasa itu terlihat semakin menggiurkan. Lekuk tubuhnya sangat indah dalam balutan kain hitam yang semakin membuat kulitnya bersinar di tengah temaramnya cahaya kamar. Yang membuat Lukman menelan salivanya adalah saat melihat dada sang istri yang terlihat tumpah dan saling berdesakan ingin keluar dari sarangnya.


"Sayang.... " Kata-katanya tercekat di tenggorokan karena ada bagian dari tubuhnya yang berdiri tegak.


" Kalau mas tidak suka aku akan ganti baju..." Kata Laila sambil berbalik karena tatapan suaminya seperti tidak suka jika dia memakai pakaian yang kekurangan bahan itu.


Lukman membalikkan badan istrinya hingga tubuh mereka saling menempel. Mereka saling memandang tapi tiga detik kemudian Lukman memagut bibir yang tampak ranum dan selalu membuatnya menginginkan yang lebih dari itu.

__ADS_1


Darahnya berdesir menikmati setiap decapan yang kini membuatnya candu karena rasa manis dan kenyal dari milik sang istri. Keduanya terengah-engah setelah berciuman dalam waktu lama. Mengambil waktu sebentar untuk menghirup udara agar bisa mengulanginya lagi.


Lukman kemudian bersiap mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri dan bersiap mengulangi kenikmatan tadi.


Tok tok tok....!!


Laila dan Lukman yang mendengar ketukan pintu langsung membuka mata dan melepaskan tautan bibirnya.


Laila segera bersembunyi di balik pintu sambil memegang dadanya yang masih berdetak kencang tak karuan.


"Belum tidur kan?" Terdengar suara kak Mila yang berdiri di depan pintu.


"Belum..."


"Mana Laila?" Kak Mia celingak celinguk melalui celah pintu yang tidak dibuka sepenuhnya oleh si pemilik kamar. Ia mencari bayangan Laila untuk menggodanya.


"Ada..." Kata Lukman datar saja.


"Berikan pada Laila biar dia kuat. Ehm..." Istri bang Alif itu segera meninggalkan Lukman yang merasa heran ternyata kakak iparnya itu bisa sifat kekanak-kanakan juga.


Lukman menutup pintu kemudian membawa gelas tadi yang kemudian ditaruhnya di atas nakas. Ia membukanya kemudian duduk dan mencicipinya. Ternyata minuman susu telur madu dan jahe, STMJ bikinan sendiri. Terasa segar dan menghangatkan tenggorokan.


" Disuruh kak Mia minum. Katanya biar kuat" Lukman menepuk pahanya agar sang istri duduk di pangkuannya.


"Ugh... kak Mia dari tadi ngajarin aku yang enggak-enggak ....." Laila bermanja dengan mengadukan Kak Mia pada suaminya.


"Ngajarin apa?"


" Disuruh kak Mia pakai baju ini..." Kata Laila sambil memegang tali yang ada di pundaknya .


Tangan Lukman kini bergerak jahil menowel tali di pundak sang istri sehingga jatuh di lengan si cantik. Tangan dan bibirnya kini mulai menyentuh tempat-tempat yang disukainya.


" Di ajarin gaya apa?" Suaranya sudah terdengar berat.

__ADS_1


"Nggak sampai seperti itu juga kali ma-ss. Emph...." Laila menahan suaranya dengan tetap bersembunyi di balik leher sang suami.


"Belum mulai sayang.... !!" Lukman menggoda sang istri yang sudah melenguh padahal baru pemanasan.


"Mas.....!" Laila mencubit perut suaminya karena malu.


"Aku mandi dulu, tunggu ya sayang.." Kata Lukman setelah memberi kecupan pada leher putih milik sang istri dan menaruh tubuh istrinya di atas tempat tidurnya.


.


.


.


Setelah subuh Lukman mengulangi sesi bercinta yang sudah dilakukannya semalaman. Ia ketagihan karena tempat tidurnya yang luas dan empuk membuat istrinya melenguh dan mengatakan dengan jujur kalau sensasinya berbeda dan lebih bergelora.


.


.


.


Di ruang makan pagi itu suasananya terlihat berbeda. Ada anggota baru yakni Doni dan Laila yang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga besar pak Dirman.


"Layani suami kamu saja..!"kata pak Dirman saat Laila mau mengambilkan nasi untuk nya. Pak Dirman terlihat sangat bahagia karena semua anak-anak nya bisa berkumpul dan makan bersama di rumahnya.


Para wanita yang berada di situ terlihat berkaca-kaca melihat interaksi antara menantu dan sang mertua.


Masing-masing dari mereka merasa bersalah karena baru menyadari jika sudah menelantarkan sang ayah yang sudah menua karena masing-masing sibuk dengan urusan nya.


Kak Mia tak pernah melakukan hal seperti itu pada saat mereka makan bersama. Bahkan anak-anak nya pun tak pernah melakukannya. Mungkin Laila ingat orang tuanya. Yang pasti semua bisa merasakan jika pagi ini sang ayah sangat bahagia. Senyumnya terus mengembang dengan air muka yang memancarkan kebahagiaan.


Air muka kak Mia sedikit berubah seperti menyesal karena tidak bisa seperti Laila. Ada sedikit kecemburuan karena ia belum pernah melakukan hal seperti itu pada ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2