Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
like a mafia


__ADS_3

"Tok tok tok!"


"Permisi bu Septi, kami diperintah pak Lukman untuk menjemput ibu"


Septi yang sedang mengintai di balik jendela langsung kaget mendengar nama Lukman dibawa-bawa. Ia ingat pesan Lukman kalau dia tidak boleh membukakan pintu pada orang yang tak dikenalnya. Tapi sudah beberapa hari ini setelah peristiwa ketahuan istrinya Lukman tak kelihatan batang hidungnya.


Mungkinkah dia terluka, begitu pikirnya.


Apa benar dua orang tampan berperawakan kekar di depan adalah utusan Lukman untuk menjemputnya? Septi menarik nafas dan membuangnya secara kasar. Ia kemudian memilih untuk membuka pintu daripada berdiam diri di rumah dan tak mendapatkan berita apa-apa. Meskipun hatinya ketakutan tapi ia berusaha bersikap secara wajar. Hatinya berdoa semoga mereka benar-benar orang-orangnya Lukman dan tidak berniat jahat padanya.


Pernah mengalami kepahitan hidup membuatnya takut jika keadaan itu akan menghampirinya kembali.

__ADS_1


"P-pak Lukman nya ada dimana sekarang?" Katanya dengan suara gemetaran meski sudah berupaya bersikap datar namun ternyata sulit untuk mengendalikan lidah sendiri.


"Mari ikut kami! Kami akan mengantarkan ibu!" Kata salah satu dari mereka kemudian berjalan di depannya sedangkan yang satu lagi memandangnya dengan tajam sambil mengarahkan kepalanya agar Septi segera berjalan.


"Jalan atau kami akan menyeret anda!" Kata pria yang berdiri di belakangnya mengancam dengan tatapan tak bersahabat membuat Septi seketika menciut nyalinya dan berjalan sesuai arahan mereka.


"Masuk!" Perintah si tampan yang kini lebih mirip dengan psikopat sambil menggeser pintu mobil berjenis Van di hadapan mereka.


Ketika sudah duduk kedua tangan Septi kemudian di belenggu, mulutnya diplester dan matanya ditutup dengan kain. Meskipun mencoba berontak tapi kekuatan Septi yang tak seberapa tak bisa mengubah apa-apa.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan akhirnya mobil berhenti di tempat yang terasa asing dan sepi.

__ADS_1


"Turun!!" Bentak Salah satu pria sambil menyeret lengan Septi. Ia kemudian di gelandang menuju suatu tempat yang terasa sunyi. Membuat bulu kuduk Septi berdiri karena ia sangat ketakutan tapi ia tak bisa berbuat apa kecuali pasrah dan ikut saja.


Terdengar suara pintu berderit yang membuatnya seperti sedang di bawa ke alam lain. Suasana horor yang menakutkan. Septi bahkan berpikir apa mungkin hari ini adalah hari kematiannya karena suara-suara hewan yang jarang di dengarnya seperti burung hantu dan lolongan anjing hutan yang identik dengan kegelapan malam terdengar di sana.


Ikatan tangannya dilepaskan begitu juga dengan plester yang menutupi mulutnya. Penutup mata Septi kemudian dilepaskan dan matanya yang masih berusaha untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam retinanya melihat samar-samar kursi yang sedang bergerak ke kiri dan ke kanan dengan posisi memunggunginya. Septi berusaha lari kemudian menggedor-gedor pintu besar dan tinggi menjulang yang kini sudah tertutup kembali.


"Tolong.... tolong buka pintunya....!" Katanya meminta dengan menghiba. Ia membalik badannya dengan takut-takut ia menatap kursi yang kini sudah berhenti tak bergerak. Septi memandang sekeliling ruangan yang ternyata sangat besar tapi kosong tak berisi banyak perabotan. Hanya ada meja kursi tempat bekerja di ujung ruangan. Udaranya pun terasa lembab seperti ruangan yang sudah lama tak terpakai.


Septi berjengit kaget saat kursi tadi kini bergerak perlahan-lahan menghadap ke arahnya. Ia ketakutan jangan-jangan yang berada di depannya bukanlah manusia.


Seorang wanita yang memakai topi lebar khas pantai tetapi berwarna hitam juga memakai kacamata dengan warna yang sama kini sedang bersedekap dan memandanginya.

__ADS_1


"Kenapa? Takut?" Rina kemudian melepaskan kaca mata hitamnya dan berdiri dari tempat duduknya.


__ADS_2