
Laila menggenggam tangan Lukman dan menciuminya dengan perasaan sayang. Di atas pembaringan rumah sakit dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya untuk mempertahankan kehidupan pria kekar itu tampak tak berdaya. Lukman tertidur cukup lama kali ini. Semakin hari tanda-tanda vitalnya semakin menurun membuat Laila semakin bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri.
Ia marah pada Tuhan karena ia merasa sudah berdoa dengan segenap jiwa raganya tapi malah keadaan menjadi lebih buruk tak seperti yang ia harapkan.
Baru saja dokter mengatakan kalau setelah mencoba dua cara lagi dan tidak berhasil maka mereka akan angkat tangan dan menyerah.
"Bu, kita bisa mencoba dua treatment lagi yaitu imunoglobulin (pemberian imun tambahan dari luar) dan cuci imun tapi hasilnya juga fifty fifty. Kami juga tidak bisa menjamin seratus persen. Dan jika nantinya memang berhasil kami tidak bisa menjamin bapak akan kembali seperti dulu lagi. Biasanya butuh waktu sekitar dua tahun untuk pulih itupun biasanya ada yang cacat . Kalau dua step terakhir ini tidak berhasil kami menyerah"
Tubuh Laila luruh ke bawah saat mendengarnya. Ia tak bisa berpikir apa-apa lagi sekarang.
Di genggamnya tangan Lukman sepenuh jiwa. Mencoba berbicara entah suaminya bisa mendengar atau tidak yang penting ia sudah berusaha mencurahkan perasaannya.
"Abang..... aku minta maaf. Mungkin akulah yang menyebabkan semua ini. Aku kurang bersyukur pada Yang Kuasa. Sudah dikasih keluarga besar yang baik dan selalu mendukungku, juga suami tampan yang selalu menyayangiku. Dan aku dengan bodohnya malah meminta abang untuk mencari wanita lain yang mau dimadu. Aku minta maaf karena seiring berjalannya waktu ternyata aku belum siap jika harus berbagi cinta dengan wanita lain. Aku berusaha mempertahankan abang agar tetap di sisiku dan ternyata semua berjalan sudah terlalu jauh..." Laila mengatakannya sambil memandang Lukman yang belum sadarkan diri. Tidak air mata yang jatuh di pipinya seolah sudah tak ada emosi disana. Ia sudah lupa dengan rasa sakit dan kesal sebab kesalahan yang dibuat Lukman. Ia sudah benar-benar pasrah sekarang.
"Abang..... aku berharap Abang akan kembali sehat dan kita bisa berkumpul kembali nanti. Sekarang aku ikhlas membagi abang. Tak apa selagi abang masih bisa kulihat aku rela dengan takdir yang kuasa"
__ADS_1
"Tapi seandainya memang yang Kuasa akan memanggil abang kembali ke sisinya aku mau mengatakan rahasia yang seharusnya kuutarakan pada abang"
"Aku minta maaf..... saat aku tahu hamil kemarin aku tidak membagi kabar ini dengan abang. Aku sakit hati waktu itu dan Alloh membalas perbuatanku dengan mengambil bayiku"
"Aku juga minta maaf karena mobil putih Alphard itu adalah mobilku bang. Aku membelinya tanpa sepengetahuan abang. Aku minta maaf. Meski tahu kalau abang tidak suka mobil mewah tapi aku membelinya juga. Maafkan aku ya bang!"
"Aku akan menjualnya dan mensedekahkan mobil itu. Aku tak butuh mobil mewah tapi aku dan anak-anak butuh abang..."
"Maafkan kesalahanku bang... Abang mau kan memaafkan aku?"
" Sudahlah Rin...." Kata Laila tak ingin bertengkar dengan sang adik ipar dihadapan suaminya yang masih belum sadarkan diri.
"Abang.... aku pamit pulang dulu ya..." Katanya sambil mencium pipi sang suami yang sudah berjambang cukup lebat.
Laila segera berjalan perlahan-lahan meninggalkan ruang ICU dan menanggalkan pakaian khususnya yang segera diikuti Karina.
__ADS_1
Di luar ruangan ternyata ada Ani dan Zainal dengan putra pertama mereka yang baru dilahirkan beberapa hari yang lalu.
"Habis imunisasi?" Tanya Laila sambil mencium lengan si bayi.
"Iya. Kakak pulang bareng kita saja ya. Zul kangen kangen sama akung dan utinya" Kata Ani sambil tersenyum dan mukanya langsung berubah saat melihat Karina yang sedang mengerucutkan bibirnya terlihat sangat kesal.
"Kamu kenapa Rin?"
"Masa kak Lala minta maaf sama Lukman? Kalau aku yang jadi kakak aku akan berdoa semoga Alloh segera mengambil nyawanya agar aku bisa bernapas dengan lega!" Kata Rina bersungut-sungut.
"Rinaaa!!"
"Kakak itu bucin banget sih. Majnun tahu nggak?" Bentak Rina tak mau kalah.
"Sudahlah Rinn..... bagaimanapun juga itu abangmu. Ayah dari anak-anak ku. Aku juga mencintainya. Lebih baik aku masih bisa melihatnya daripada dia harus meninggal dunia. Biar saja dia poligami setidaknya aku masih punya suami dan anak-anak masih punya ayah" Kata Laila yang berjalan berdampingan dengan Ani.
__ADS_1
"Kakak itu bener-bener majnun. Sebutan Laila majnun itu cocok untuk kakak" Kata Rina sambil berjalan melewati kakak-kakaknya juga Zainal yang sedari tadi berjalan di depan para perempuan.