Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Karina


__ADS_3

Saat memasuki Rumah sakit Citra Medika kesan asri dan welcome ia rasakan. Dari security, resepsionis, suster sampai dokter yang sempat ia temui semua welcome sekali. Ia sempat takut kalau-kalau ada si pemilik rumah sakit memergoki dirinya sedang berada disini. Seperti sedang mengadakan studi banding. Mengamati semuanya dengan seksama.


Rina sudah saling mengenal dengan sang pemilik yang tidak lain adalah sepupu suaminya yang menggeluti dunia yang sama karena itu berasal dari kakek yang sama juga.


Rina bisa mengambil beberapa poin yang bisa diambil dan nantinya akan ia sampaikan pada suaminya agar mau berbenah. Bisa melayani para pasien dengan hati penuh kebahagiaan bukan setengah-setengah.


Kadang bingung juga rumah sakit itu tempat merawat orang sakit tapi tidak bisa dibilang itu pekerjaan di bidang sosial karena nyatanya kita selalu itung-itungan kalau mau melakukan suatu tindakan. Dari USG saja sudah pasang tarif apalagi untuk tindakan pembedahan dan yang lainnya. Harus dapat persetujuan dari keluarga dengan biaya yang tertera barulah tindakan selanjutnya akan dilakukan.


Huffttt....


Karina menarik nafasnya keras-keras. Apa yang bisa dia lakukan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan pelayanan medis tapi tidak berduit. Rumah sakit milik keluarga suaminya sampai saat ini belum bekerjasama dengan BPJS.


Alasan dokter Ibrahim suami Rina karena pasien BPJS biasanya diperlakukan semena-mena baik oleh dokter maupun para suster. Apalagi untuk BPJS kelas tiga. Dan ia ingin semua yang datang ke rumah sakit nya mendapatkan perlakuan yang sama dan setara. Praktis Rumah sakit Seger Waras yang kini dikelola suaminya lebih dikenal dengan sebutan rumah sakit para elit dan berduit.


Seiring berkembangnya zaman dari segi kualitas dokter maupun peralatan kedokteran selalu terupgrade dan selalu diatas kualitas dari aturan yang sudah diterapkan. Tapi di zaman seperti sekarang rumah sakit mana yang tidak bekerjasama dengan BPJS. Rina kadang merasa sifat suaminya itu mirip seperti abangnya. Dingin, ketus dan kolot.


Setelah puas berkeliling Rina akhirnya berkirim pesan dengan kakak iparnya. Menanyakan orang yang mau dijenguk ada di kamar apa. Tak sulit mencari kamar Dahlia seperti kata Laila. Mungkin karena sebagian besar hidupnya dia habiskan di rumah sakit membuatnya mudah memahami kode-kode yang ada di dalam sana.


Setelah berbincang-bincang sebentar Laila mengajaknya berpamitan saat mendengar suara adzan.


Pandangannya tiba-tiba mengarah pada antrian yang kebanyakan adalah ibu-ibu hamil. Ada seseorang yang menarik perhatiannya. Meskipun yang terlihat hanya punggungnya saja Rina yakin jika yang dilihatnya adalah abangnya Lukman.


Laila yang juga sedang melihat ke arah yang sama yang tadi dilihatnya segera menghalau pandangan kakak iparnya.

__ADS_1


"Ayo cepetan kak, kasihan anak-anak pasti sudah pada nungguin!"


Katanya sambil memeluk pundak Laila yang lebih tinggi darinya. Berusaha agar Laila tak melihat sosok yang diyakininya sebagai abangnya.


.


.


.


Rina memperhatikan gerak-gerik Laila sejak mereka pulang dari rumah sakit. Dia juga sempat melihat kakak iparnya itu mengusap perutnya sendiri saat semua mata tertuju pada Ani dan Zainal yang akan pulang. Ia yakin ada sesuatu yang coba disembunyikan kakak iparnya itu.


Saat rumah sudah dalam keadaan gelap dan ia yakin seluruh penghuni rumah itu sudah terlelap ia segera mengendap-endap keluar dari kamar setelah memakai sweater dan membawa serta ponselnya. Ia berjalan pelan-pelan menuju ke depan rumah hendak menunggu abangnya yang katanya pulang malam.


"Nunggu bang Lukman" Jawabnya sambil bersandar pada pundak sang suami yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Ada apa dengan abang?"


"Aku belum bisa cerita sekarang"


Beberapa lama kemudian mereka terdiam. Ibrahim menguap beberapa kali dengan kepala yang berada di atas kepala istrinya.


"Papi tidur aja dulu!" Kata Rina sambil menjauhkan kepalanya. Meskipun pundak dan bahu Ibrahim sangat nyaman untuk bersandar tapi ia ingin berbicara pada abangnya secara pribadi dulu karena semua masih samar-samar.

__ADS_1


Ibrahim menyandarkan punggungnya ke kursi kemudian merengkuh sang istri ke dalam pelukan nya.


"Pejamkan mata dulu kalau abang pulang mata nggak terlalu mengantuk" Katanya yang langsung disambut Rina dengan anggukan kepala.


Sampai suara derit pintu gerbang ada yang mencoba membuka barulah keduanya berdiri. Rina meminta suaminya masuk ke dalam dan dia sendiri melihat abang nya dari atas.


"Kenapa pulang malam sekali?" Rina bersedekap sambil mengeratkan tangannya sendiri agar tubuhnya lebih hangat.


Lukman yang nampak lelah mengernyit heran pada adiknya karena jam segini belum juga tidur.


"Kenapa belum tidur?" Lukman malah balik bertanya.


"Aku nungguin abang. Kenapa jam segini baru pulang?"


"Ada yang harus abang selesaikan. Ada masalah di sawah" Katanya sambil melangkah tak menghiraukan adiknya.


"Kenapa tadi abang ke rumah sakit?" Tanya Rina lagi karena tahu pasti abangnya tidak akan mau duduk berdua dan ngobrol dengannya.


"Kamu itu ngomong apa? Aku capek Rin....!"


"Ada yang berubah sama abang. Mungkin kak Lala juga merasakannya tapi dia memilih diam saja. Kalau Abang macam-macam aku mengadu pada bang Alif"


Lukman berlalu begitu saja tak menghiraukan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2