Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Not now


__ADS_3

"Eh tidak dikunci pak RT"


"Mereka tidak takut digerebek warga rupanya"


"Kita giring ke kelurahan, pasangan kumpul kebo tidak tahu malu. Bisa-bisa kelurahan kita dapat bencana!!


"Ayo masuk, kita seret mereka!!"


Para warga terlihat gelap mata dan bersepakat meski tanpa kata untuk menggerebek pasangan yang dianggap sudah berzina.


Sementara itu Septi yang ketakutan terus memukul pintu kamar mandi sambil menggigit bibirnya. Tadi saat ia mengambil baju Lukman yang ada di sepeda motor para tetangga yang memang sudah memata-matai keduanya langsung terlihat saling menatap satu sama lain dengan sorotan menuduh.


Ada seorang wanita hamil dan seorang pria yang setiap hari bertemu tapi saat ditanya mereka bukanlah pasangan suami istri membuat warga curiga dengan hubungan Lukman dan Septi.


"Iya sebentar..." Kata Lukman sedikit kesal. Buru-buru Lukman membilas celana yang sudah ia cuci, tanggung padahal tinggal mensucikannya agar bisa segera dijemur dan dipakai lagi.


"Brak brak brakk!"


"Mas Lukman....!" Suara Septi terdengar putus asa dan ketakutan karena orang-orang diluar terlihat emosi seolah ingin merobohkan rumah yang ia tempati.


"Memangnya ada apa sih ramai-ramai di luar?" Gumam Lukman sambil membilas tubuhnya sendiri kemudian segera memakai handuk kecil yang tadi.


"Ada ap-...." Kata-kata Lukman terhenti karena tubuh Septi yang menempel di pintu langsung menabrak tubuhnya saat ia membuka pintu.


"Lihat mereka!!" Para warga semakin emosi melihat adegan intim yang ada di depan mata.


"Kita arak saja mereka!"


Lukman yang menahan tubuh Septi dengan memegang pundaknya terlihat oleh para warga seperti sedang memeluknya. Apalagi kini dia bertelanjang dada hanya memakai handuk mini yang tak bisa menutupi kakinya dengan sempurna. Benar-benar pemandangan yang diharapkan oleh warga yang ingin menggerebeknya.


"Ada apa ini?" Lukman tidak sadar dengan keadaannya sekarang malah memeluk Septi yang sudah berlinangan air mata dan menepuk-nepuk pundaknya.

__ADS_1


"Kita seret saja mereka!"


"Iya kita seret mereka!"


"Iya ayo!"


"Ayo!"


"Jangan banyak bacot lu!!"


Para warga segera menarik Septi dari pelukan Lukman.


"Jangan kasar dia sedang hamil!"


Kata Lukman emosi saat melihat Septi di tarik dengan paksa tanpa rasa iba.


"Diem lu! Nggak tahu malu!"


Mereka pun menarik kedua tangan Lukman yang setengah telanjang. Sekali sentak saja Lukman bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan para pria yang terlihat menatapnya dengan benci dan jijik.


"Masih banyak cincong lu!!"


"Gebukin saja!!"


Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil sapu lidi dan memukul kaki Lukman sekuat tenaga membuat pria yang hanya memakai handuk itu jatuh dengan kaki tertekuk ke depan sambil mempertahankan kaitan handuk yang melilit tubuh bagian bawah agar alat vitalnya tak terbuka.


Warga yang lainnya ikut mengambil barang-barang yang ada dan menggebuki Lukman dengan kalap.


"Tolong...berhenti!! Mas Lukman tidak salah apa-apa!!" Septi berteriak dengan tangan yang masih dibelenggu oleh warga.


"Tolong jangan main hakim sendiri!!" Wanita yang sedang hamil itu menangis histeris melihat Lukman tak melawan sama sekali karena berusaha agar aurotnya yang paling tersembunyi tak terlihat. Sebenarnya dengan kekuatan Lukman mudah saja baginya untuk melawan hanya saja dia tetap mempertahankan idealisme nya. Jangan sampai senjatanya terlihat oleh orang lain.

__ADS_1


"Bapak-bapak!! Berhenti jangan main hakim sendiri!!" Para pria yang terlihat memakai seragam desa datang dan melerai pengeroyokan yang tidak seimbang karena satu orang melawan banyak orang sekaligus.


Semua orang kini diam menatap para pamong desa sambil bernafas tersengal-sengal karena menggunakan seluruh kekuatan untuk menuruti emosi dan menggebuki Lukman.


Sedangkan si terdakwa jatuh tertelungkup dengan kaki tertekuk karena mempertahankan handuknya.


"Kenapa ini? Ada apa?"


"Ini pak pasangan kumpul kebo. Sudah lama tinggal disini sampai hamil tapi tidak mau menikah"


"Siapa namanya? Pendatang?" Salah seorang pamong desa berjongkok di depan Lukman ingin melihat wajahnya.


"Namanya Lukman. Dia ini sering kesini pak Kadus untuk mendatangi wanita murahan itu" Kata salah seorang sambil menunjuk Septi menggunakan dagunya.


"Kita nikahkan saja kalau begitu!" Kata kepala dusun yang umurnya masih terlihat sangat muda.


"Saya mau menikahinya nanti kalau dia sudah melahirkan, bukan sekarang" Kata Lukman dengan posisi kepalanya menelungkup ke lantai.


"Dugh!" Salah seorang yang wajahnya sangar dan terlihat paling emosi menghentakkan kakinya tepat di belakang lutut Lukman.


"Arghh.....!!!!!"


"Lelaki sia lan! Sudah salah tapi tidak mau tanggung jawab" Katanya sambil berkacak pinggang.


"Itu bukan anak saya, bukan saya yang melakukannya" Lukman membela diri.


"Persetan!! siapa yang mau percaya?!!"


Bentaknya lagi sambil bersiap menendang tubuh Lukman yang meringkuk kesakitan.


"Berhenti pak Tedi! Jangan main hakim sendiri! Dengarkan dulu penjelasannya!"

__ADS_1


"Angkat dia!" Kata si kepala dusun.


"Tidak! Tunggu dulu! Tolong ambilkan sarung saya! Saya akan jelaskan semuanya!" Jawab Lukman sambil menengadahkan kepala


__ADS_2