
Seminggu setelah itu Lukman seperti biasa ingin mengamati tokonya yang sepertinya berjalan biasa-biasa saja. Adiknya Ani ikut bersamanya untuk menemani abangnya juga untuk bertemu kekasihnya yang merupakan anak dari pemilik dari supermarket yang menaungi beberapa stand atau toko kecil seperti yang disewa oleh abangnya.
Zainal, si bujang tampan dan manis yang tahu kalau pacarnya akan datang itu menunggu pacarnya dengan semangat 45.
Setelah keduanya bertemu mereka berbincang sebentar kemudian mengekori Lukman ke toko kecil yang dikelolanya.
Sepasang kekasih itu berjalan beriringan sambil sesekali membicarakan hal-hal yang ringan.
Stand toko Lukman yang disewanya itu diisi dengan berbagai accecoris pria karena ia ingin meniru bang Alif yang sukses dalam bisnis ini. Lukman mempunyai tiga karyawan yang bergantian menjaga tokonya dan diantaranya adalah Doni sebagai cadangan. Lukman mengatur jam masuk kerja Doni berbeda dengan dua karyawan lainnya karena Doni masih sekolah. Jam kerja Doni adalah setiap siang setelah pulang sekolah kira -kira jam empat sampai jam sembilan malam dan khusus hari libur ia diminta untuk masuk pagi.
Lukman geram karena mendapat pengaduan dari anak buahnya yang saat ini sedang menunggu stand tokonya yang mengatakan bahwa Doni tadi buru-buru pulang selepas magrib. Lukman menarik nafas dengan keras mendengar pengaduan itu.
"Karyawan tiga saja belum bisa menghandle dengan baik....." Lukman menggerutu lebih tepatnya menyalahkan dirinya sendiri sambil memijat pangkal hidungnya.
"Pantas saja belum dikasih kepercayaan seperti bang Alif" katanya lagi.
Sementara itu Zainal dan Ani melihat-lihat barang-barang yang dijual Lukman dan tertarik dengan beberapa accecories yang unik dan lucu.
"Anak ini..,." Lukman mengambil hapenya dan berniat menghubungi Doni tapi sebelum ia mendialnya Nama Doni terlihat memanggilnya.
"Assalamu'alaikum...." Lukman langsung mengangkatnya dan mengucap salam medki dengan nada ketus.
Tidak ada jawaban dari Doni tapi sepertinya sedang terjadi sesuatu yang menegangkan pada Doni.
"Halo Don...." Lukman mencoba berkali-kali memanggil Doni tapi tak ada jawaban
"DONI KAMU DIMANA?!!!" Lukman berteriak di hapenya membuat pelanggan yang sedang berada di stand nya menjatuhkan barang-barang yang mereka pegang. Ia mendengar barang-barang yang dilempar dan dijatuhkan. Ani dan Zainal pun terbelalak kaget mendengar suara bariton Lukman yang terdengar menakutkan.
__ADS_1
Lukman segera berlari keluar sambil memasukkan hapenya ke dalam saku celananya. Ia terlihat terburu-buru dan cemas sampai tak menghiraukan Ani yang berlari mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya.
Lukman berlari kearah parkiran dan segera naik motornya kemudian memakai helmnya dan mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan diatas rata-rata padahal ia masih berada di kawasan swalayan membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya memilih mundur dan menggerutu agar tak tertabrak sia-sia. Ani yang mengetahui gerakan abangnya kemudian memilih menghadang abangnya di gerbang pintu keluar swalayan.
"Abang mau kemana?" Ani merentangkan tangannya menutupi jalan
"Doni dalam bahaya An.... kamu sama Zainal saja!" Lukman hanya membuka kaca teropong helmnya.
"Hati-hati bang, baca doa dulu!" kata Ani sambil menyingkir dan memberi abangnya jalan.
Lukman pun langsung menutup kembali kaca helmnya kemudian menggeber motornya seperti kesetanan.
Ani geleng-geleng sambil menghela nafasnya melihat Lukman yang panik berlebihan.
"ayo naik di...!" kata Zainal yang sudah berada di mobil. Ani segera naik dan berusaha mengejar Lukman. Tentu saja mereka hanya bisa melihat lampu belakang motor Lukman dari jauh. kendaraan yang tidak terlampau padat malam itu membuat Lukman bergerak bebas mengendarai motornya dengan kecepatan yang membuat orang yang melihatnya mengumpat.
Zainal yang mencoba mengikutinya tertinggal jauh tapi mereka menebak kalau Lukman sedang menuju ke rumah Laila.
Didepan rumah Laila ada satu mobil Jeep dan dua sepeda motor di sampingnya. Ada dua orang laki-laki yang berjaga di depan pintu. Lukman segera menurunkan standar sepeda motornya dengan terburu-buru. Ternyata benar Doni dan laila sedang dalam bahaya. Saat ditelpon tadi ia sempat mendengar Laila yang kaget dan ketakutan dan itu membuatnya semakin gusar.
Lukman berjalan dengan penuh amarah. wajahnya merah bersungut-sungut membuat dua orang penjaga yang berbadan tegap itu beringsut ketakutan hanya karena sorotan tajam mata Lukman dan aura yang dibawa olehnya. Lukman langsung menendang salah satu orang yang terlihat seperti menantangnya sambil berkacak pinggang dan berjalan kearahnya. Tanpa kata Lukman langsung menendangnya dan lelaki itu langsung terpental dan meringis kesakitan karena membentur kursi yang ada di teras.
Lukman menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri sampai terdengar bunyi kretek. kemudian dia juga menggerakkan badannya ke kanan dan kekiri sebagai pemanasan sebelum menghajar para preman.
"Si - siapa kamu? j-ja ja jangan ikut campur !" kata lelaki yang satunya lagi dengan rasa takut tapi tetap saja ia maju sambil mengepalkan tangannya bersiap memukul dengan ragu-ragu. Lukman mendekatkan wajahnya ke lelaki yang semakin ketakutan itu. tangannya yang mengepal bergetar sambil menelan ludahnya melihat pandangan mata Lukman yang tajam seperti ingin menghabisinya.
Lukman hanya menekan jari telunjuknya ke dahi lelaki yang ketakutan itu dan badannya langsung jatuh berdebum. Teman-temannya yang sedang mencari barang berharga di rumah itu keluar sebelum Lukman masuk ke dalam rumah. Mereka mengeroyoknya dan menggiring Lukman ke tempat yang lebih luas.
__ADS_1
Sementara itu Doni yang berada di ruang tamu berdiri ketakutan sambil mencoba melindungi Laila yang berdiri di belakangnya.
"Tidak ada barang berharga dari rumahmu yang bisa dibawa. Aku sudah memberimu waktu dan sudah sabar menunggu. "kata seorang lelaki yang sebenarnya tampan tapi penampilannya terlihat sangar dengan rambut jabriknya yang berwarna warni serta tato di lengan kanan dan kirinya. Juga baju dan celana Levis yang sobek dimana-mana.
"Biarkan kakakmu yang membayarnya dengan bekerja padaku. Dia cukup cantik...," lelaki itu mengamati Laila sambil menghisap rokoknya
"Minggir kau...."katanya lagi sambil mengarahkan kepalanya ke ke arah kiri menyuruh Doni minggir agar ia bisa melihat Laila dari atas sampai bawah.
Lukman yang berada di halaman sedang bertarung dengan mengesankan. Ia bisa dengan gesit menepis serangan demi serangan meski tak luput dari sabetan pisau para preman dan beberapa kali terkena pukulan karena mereka main keroyokan.
Ani yang baru tiba disana segera menguncir rambut panjang nya dengan karet pita yang ada di lengannya kemudian keluar dari mobil dengan segera meski Zainal belum mematikan mobilnya. Zainal menelan ludahnya ketika melihat lukman yang sedang dikeroyok, ia tak berani keluar dari mobilnya dan hanya memandanginya saja seperti yang dilakukan para tetangga Laila. Mereka hanya berani mengintip kekacauan yang terjadi dari rumah mereka sendiri-sendiri.
"Hyatt......"
Ani menendang salah satu lelaki yang mengeroyok abangnya kemudian segera masuk ke dalam formasi lingkaran yang dibuat para preman setelah salah satu temannya jatuh terjungkal. Ani dan Lukman berdiri saling memunggungi, mereka mengambil ancang-ancang dan siap menghajar para preman. Ani menangkis sabetan pisau yang diarahkan padanya kemudian meninju wajah pelakunya.
Lukman juga menghajar satu persatu lelaki yang menyerangnya hingga mereka berjatuhan dan tinggal satu orang yang masih bertahan.
"Hyaaaa........."
Ani melakukan tendangan memutar dengan kekuatan penuh yang mengakibatkan lelaki itu jatuh terhuyung-huyung mengenai sepeda motor mereka.
"Aaaaaa....!!!!!." ia memekik kesakitan karena punggungnya mengenai stang sepeda motor
bruakk...... sepeda motor itu roboh mengenai temannya dan lelaki itu jatuh terjengkang. Para preman itu menggelepar di tanah sambil mengerang kesakitan ditangan, kaki, tubuh dan kepala mereka dibuat nyut-nyutan oleh Lukman dan Ani. Rasanya untuk sekedar duduk saja mereka tak punya kekuatan, rasanya tulang mereka copot semua.
Pisau-pisau mereka sudah diamankan oleh Zainal yang bergerak pelan-pelan ketika pertarungan sedang berlangsung tadi.
__ADS_1
Dari dalam rumah keluarlah lelaki sangar yang menjadi ketua dari aksi pengeroyokan itu. Ia menodong Doni dengan senjata apinya dan mendorong Laila yang tangannya dibelenggu dibelakang tubuhnya.