
Lukman memejamkan mata mendengar kata-kata istrinya. Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan mudah padahal Lukman tak pernah punya niat untuk berpoligami. Apa tadi katanya? Rela di madu?
'Apa sebegitu buruknya sifatku sampai istriku sendiri percaya kalau aku memangku seseorang yang tidak halal untukku. Bukankah semua orang bilang tak ada wanita yang rela dimadu lalu kenapa istriku mengatakannya tanpa beban sama sekali. Apa tidak ada rasa cemburu di dalam hatinya yang menandakan bahwa kami saling mencinta' Lukman memendam kekesalannya dalam dada.
Sekarang sifatnya memang sudah berubah, lebih sabar apalagi pada anak-anaknya. Jika tidak suka sesuatu ia lebih memilih diam untuk meredam emosinya atau memilih menepi dan menghindar sejenak dari sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Namanya manusia pasti berbolak balik hatinya. Kadang begitu kadang begini. Karena itu di akhir solat kita diperintahkan untuk berdo'a seperti ini agar hati kita tetap memilih iman dan islam sampai hembusan nafas yang penghabisan.
"Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ala dinika"
Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamamu.
Bunyi dering ponsel Lukman membuyarkan lamunan pria yang sedang berpelukan dengan istrinya itu . Dengan tangannya yang panjang ia meraih ponselnya dan menggeser tanda hijau di layar untuk menerima panggilan.
"Ya...."
" Memangnya Jae kemana?"
"Ya aku akan kesana"
" Apa lagi Nya? "
"Ya sebentar lagi aku akan kesana. Minta Pak Toib untuk mengecek sayuran-sayuran sebelum dikirim "
Lukman menjawab pertanyaan dari Daniah yang ada di seberang sana.
Dan Laila sekali lagi menyimpulkan sendiri jika Lukman sudah memanggil nama sekretarisnya itu dengan panggilan nyonya.
Sudah sampai sejauh itu?, batinnya sambil menelan ludah dan berusaha agar air matanya tak jatuh saat ada di depan suaminya.
Lukman kemudian mencari celananya dan segera memakainya. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi besar tanpa memberikan kecupan pada Laila terlebih dulu.
__ADS_1
Begitu kamar mandi di tutup, Laila langsung menangis sesenggukan sambil menutup mulutnya dengan bantal. Ia ingat pertama kali bertemu dengan suaminya itu. Bagaimana Lukman menjaga dirinya agar tak bersentuhan dengannya. Tapi sekarang apa? Apa sekertaris nya sangat menarik dan punya banyak sejuta pesona yang membuat dirinya sampai tak bisa menahan nafsunya.
Laila ingat kemarin pagi saat dia memergoki sang suami sedang duduk bermesraan, pangku-pangkuan dengan pegawainya. Suaminya itu terlihat tak risih sama sekali bahkan saat sang suami sudah melihatnya ia bahkan tak segera beranjak dari tempat duduknya.
"Padahal dulu saat aku tak sengaja memeluknya dia sangat marah. Apa dia tak mencintaiku? Apa dia menikahiku karena terpaksa? Cuma karena kasihan saja?"
"Hiks ....... Ya Alloh sakit sekali hatiku" Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri sampai ke ulu hati.
Laila segera mengusap air matanya dan meredakan tangisnya saat terdengar suara pintu terbuka. Bundanya Labib itu memejamkan mata pura-pura tertidur meski nafasnya masih sedikit tersengal dan isak tangisnya masih sedikit terdengar.
Mengandalkan telinganya sepertinya sang suami sedang berpakaian dan memang tak lama setelah itu Lukman duduk di dekatnya kemudian mengusap kepalanya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya kemudian mencium pipi sang istri yang posisinya membelakangi dirinya.
"Aku pergi dulu " Kemudian ia mencium pipi Laila beberapa saat sambil memejamkan mata berusaha menyampaikan rasa cintanya dan berharap istrinya akan kembali seperti sedia kala. Lukman rindu istrinya marah-marah untuk meluapkan segala amarahnya dan mengungkapkan segala isi hatinya. Bukan memendamnya seperti sekarang.
Memang manusia itu tidak bisa ditebak isi hatinya. Kalau istrinya marah-marah terus katanya cerewet, bawel, kayak kaset rusak. Tapi kalau istrinya marah sampai diam seribu bahasa katanya rindu aslinya dia.
Manusia bahasa jawanya Menungso artine batuke nunung kakean duso. Lupa bersyukur dengan nikmat yang ada di hadapannya.
Setidaknya dia berharap suaminya itu langsung berdiri saat melihat dirinya yang sedang menggendong Labib tapi ternyata, suaminya itu diam saja. Bahkan saat dirinya berlari meninggalkan tempat itu suaminya tak mengejarnya.
Kemarin Laila melajukan mobilnya tak tahu arah. Sebenarnya ia ingin pergi ke panti tempat mereka setiap bulan datang dan berderma di sana tapi hal itu urung dilakukan nya. Ia memilih pergi dari satu masjid ke masjid lainnya. Tempat yang dirasanya paling aman sedunia.
Ia menangis di depan putranya tapi tak bisa berkata apa-apa. Ingin rasanya pergi sejauh mungkin agar suaminya itu mencarinya kalau sampai pergi dari kehidupan Lukman dan berpisah dari lelaki yang beberapa tahun ini menemaninya.
Sakit hatinya melihat pria yang ia percaya yang sudah membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya menghianatinya. Tapi saat melihat putranya yang ada dalam pelukannya seusai solat ia jadi berpikir kembali. Bagaimana nasib kedua buah hatinya jika dia memilih berpisah.
Laila tak ingin Latif dan Labib seperti dirinya dan adiknya Doni. Tak punya orang tua yang menyayangi mereka. Jika dia memilih berpisah bukankah dia akan menjadi orang yang sangat kejam memisahkan anak-anaknya dengan ayahnya.
Seandainya dia berpikir untuk pergi ia juga tak tahu harus pergi kemana. Lagi pula paman dan bibinya juga sibuk sendiri-sendiri mengurus keluarga mereka masing-masing.
Hanya keluarga Lukman lah yang selalu baik dan mau menerima dia dan Doni apa adanya. Sejak pertama datang hingga sekarang keluarga suaminya selalu mendukung dan menyayanginya meskipun terkadang ada slek-slek antara dirinya dan saudara-saudara iparnya.
__ADS_1
Namanya saudara ya begitu, kalau jauh kangen tapi kalau dekat terkadang ada yang sakit hati dan salah paham, saling berdentingan seperti gelas yang berdekatan.
Dan semua yang sudah dia dapatkan hingga saat ini juga karena peran besar suaminya.
Bagaimanapun keluarga suaminya adalah keluarga yang ia idam-idamkan. Selalu ada solusi saat ada masalah yang menguji. Ia bisa punya abang yang bijaksana seperti bang Alif, punya kakak perempuan seperti kak Mia yang bijaksana dan selalu menyayanginya, punya adik-adik perempuan juga punya ayah dan ibu lagi. Itu adalah hal langka yang tidak akan dia dapatkan di mana saja.
Pendek kata harkat dan martabatnya terangkat saat di masuk ke dalam keluarga besar suaminya. Kehidupannya meningkat, baik dari segi ekonomi juga agamanya.
Doni juga bisa sekolah di luar negri karena suaminya yang membiayai dan mensuport adiknya. Lalu kalau dia memilih berpisah dia harus bagaimana. Dengan menekan segala rasa sedihnya Laila memilih kembali ke rumah sang suami. Dia memilih untuk berbagi suami yang penting dia masih bisa hidup dan menjadi bagian dari keluarga suaminya. Latif dan Labib juga tidak akan kekurangan kasih sayang dari ayah bundanya. Dari bude dan pakdenya. Dari kakek dan neneknya.
"Bismillah, kuatkan hati ku ya Alloh, bimbing kami dan ampuni dosa-dosa kami" itu yang ia ucapkan saat mobilnya masuk ke pekarangan milik pak Dirman. Ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan ia hadapi.
.
.
.
Aku mau narsis dulu ya
Udah kaya author beneran nggak sih diriku ini?
Nggak jelas banget kan aku hari ini?
Hehe....
Aku masih suka malu kalau ada yang panggil aku 'thor 'di kolom komentar. Aku jadi kayak penulis sungguhan padahal kan masih amatiran.
Untuk saat ini panggil aku kakak atau bund aja ya soalnya aku memang belum sampai sana. Nanti kalau yang like udah sampe jutaan baru deh kalian boleh panggil aku 'tor author' Soalnya bagi diriku itu adalah gelar kehormatan sebagai bentuk bahwa kita punya tulisan yang berkualitas dan pantas di acungi jempol oleh banyak orang.
__ADS_1
Tak lupa makasih sebanyak-banyaknya untuk dukungan nya semoga cita-cita kita semua bisa tercapai. Amiin