Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Doni


__ADS_3

Setelah membersihkan diri Lukman melihat sang istri sedang duduk di depan meja rias seperti sedang melakukan video call dengan seseorang. Ia tak langsung mendatangi nya tapi mencoba mendengar perbincangan mereka.


"Kak.... abang sehat kan? Kenapa sekarang tidak pernah menelponku"


"Sehat Alhamdulillah. Iya abangmu lagi sibuk-sibuknya. Sekarang sudah musim panen disini. Nanti kalau ada waktu pasti mas Lukman menelponmu"


"Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Doni di negeri seberang.


"Baik. Semua baik"


"Kakak jangan bertindak yang aneh-aneh ya! Jangan bikin abang marah. Kakak harus ingat semuanya. Karena abang kita bisa seperti ini"


"Iya kakak tahu dan nggak akan pernah lupa. Kamu lagi apa disana?" Tanya Laila mengalihkan pembicaraan agar tak lagi membahas tentang suaminya.


"Kakak ingat kan dulu aku tak tahu apa-apa dan sering berbuat dosa. Abang lah yang sudah menolongku, menolong kita untuk kembali mengingat Tuhan." Adiknya itu malah berceramah.


"Abanglah yang sudah mengajari bagaimana cara untuk beribadah, menyelamatkan kita dari berbagai dosa dan kesalahan di masa depan. Kalau bukan karena abang mungkin kita masih berkubang dengan dosa kak....!" Doni malah seperti menghakimi kakaknya sendiri.


Laila mengingat semuanya dan membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya. Lelehan air matanya jatuh tak tertahankan lagi. Ia terisak demi mendengar adik semata wayangnya yang lebih membela suaminya daripada dia yang merupakan kakak kandungnya.


"Don...!" Lukman yang sedari tadi mendengar percakapan mereka memperlihatkan wajahnya di kamera di atas pundak sang istri.


"Beraninya mengancam istriku...." Kata Lukman sambil mencium pipi istrinya kemudian memeluk dan menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri. Lukman pun berjongkok dan memeluk Laila. Ibunda Labib itu menumpahkan kesedihan yang selama dua bulan terakhir ini menyesakkan dadanya, menggerogoti jiwanya dan mengusik tidurnya.


"Bang, abang sehat kan?" Tanya Doni terlihat senang sekali bisa melihat abang iparnya. Abang yang selalu ia banggakan pada setiap orang.


"Adik macam apa kau ini? Sampai membuat istriku menangis begini?" Tanya Lukman seolah menghardik adik iparnya padahal sejatinya dia sedang memarahi dirinya sendiri. Bukan tak tahu kalau sang istri sering menangis di malam hari dan berpura-pura seolah semua berjalan biasa saja saat berhadapan dengannya. Hanya saja dia masih keras kepala dan mempertahankan egonya.

__ADS_1


Bang....!" Panggil Doni lagi.


"Hem....?"


"Kalau kakakku nakal, hukum saja dia. Aku rela!" Kata Doni yang justru membuat sudut hatinya merasa bersalah. Adik iparnya justru lebih percaya pada ucapannya dan mempercayai dirinya daripada mendengar kakaknya.


Tok tok tok


"Bun.....adik nangis katanya mau pipis tapi maunya dianterin sama bunda...!" Latif yang berada di depan pintu mengeraskan suaranya.


Lukman membuka pintu kamarnya dan melihat putra sulungnya tal acuh pada dirinya. Dia hanya fokus melihat bundanya yang masih duduk di depan layarnya.


"Hallo Latif...!"


"Om...." Jawab Latif datar saja.


"Baik..." Jawab Latif.


"Uughh cute banget sih ponakan om ini... Makin tampan pula" Kata Doni tetap ceria meski tak mendapat respon serupa.


"Abang mau tidur dulu ya om, besok mau sekolah. Baik-baik disana!" Katanya sambil ngeloyor pergi membuat mulut Doni menganga, tak percaya pada penglihatannya kalau ada makhluk seusia itu sudah bersikap seperti orang dewasa.


"Cool banget sih ponakan aku..." Kata Doni.


"Like father like son" Jawab Lukman.


"Hem.... wajahnya punya kakak aku ya bang. Wajah kak Lala semua itu..." Kata Doni lagi.

__ADS_1


"Kapan pulang? Katanya tahun ini sudah mau pulang dan bantu-bantu abang?"


"Bentar lagi ya bang. Kontrak kerjaku akan berakhir bulan November tapi kemungkinan aku akan pulang akhir tahun"


Setelah berbincang-bincang dengan Doni, Lukman keluar dari kamarnya menuju kamar putranya. Ternyata istrinya sudah tidur berpelukan dengan putra keduanya. Ia pun berjalan keluar rumah untuk mencari udara segar. Duduk diteras sambil menghisap rokok yang beberapa hari terakhir selalu ada di saku celananya.


Ia menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya melalui hidung dan asap pun mengepul di depan wajahnya.


"Belum tidur?" Tiba-tiba bang Alif sudah berada di depannya.


"Belum bang..." jawab Lukman.


Bang Alif ikut duduk di kursi berjarak kira-kira 100senti dari tempatnya duduk. Mereka sama-sama melihat kedepan ke arah dedaunan dan pepohonan juga musholla yang menjadi view di depan rumah mereka. Keduanya saling diam membuat suasana malam yang dingin itu semakin hening.


"Laila mengizinkan aku berpoligami" Kata Lukman mengawali cerita. "Padahal aku tak ada niat sama sekali" Lanjutnya.


Bang Alif tak langsung menjawab, ia menunggu Lukman untuk menyelesaikan ceritanya tapi Lukman hanya berkali-kali mendesah. Ia sudah larut dalam permainan yang ia ciptakan dan bahkan sering bersenang-senang bersama Septi. Mengajaknya keluar, makan bersama, belanja dan membelikan hadiah-hadiah yang kini baru ia sadari seharusnya Laila lah yang mendapatkan perhatian darinya.


"Man.... mungkin kau lupa kalau wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria. Tempatnya di sebelah kiri dekat dengan jantung hati bukan hanya untuk dipuja dan di puji tapi untuk dicintai dan dilindungi. Mereka mempunyai sembilan nafsu dan hanya punya satu akal karena itu mereka sering berpikir yang tidak rasional hanya mengandalkan emosi dan hati. Karena itu para wanita seringkali menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak berguna tapi bisa membahagiakan mereka. Perhiasan, boneka, bunga dan semacamnya menurut kita para pria tidak ada gunanya tapi mereka sangat senang jika mendapatkan hadiah dari orang yang di cinta. Sedangkan kita ini diciptakan dengan satu nafsu dan sembilan akal. Karena itu kita selalu mencari solusi untuk masalah-masalah yang kita hadapi. Berbeda dengan kaum hawa yang hanya butuh telinga untuk bercerita dan meminta didengar untuk menumpahkan kesedihan. Butuh dada untuk tempat berkeluh kesah dan menangis sedangkan solusi itu urusan belakangan. Terlebih-lebih saat mereka marah apa yang diucapkan mulutnya bukanlah apa yang diinginkan hatinya. Hanya asal njeplak saja. Kalau Laila menyuruhmu keluar dari kamar dan tidak usah mengganggunya itu kebalikan dari yang diinginkan hatinya. Sebenarnya dia sedang menunggu di balik pintu. Ingin dibujuk dan dirayu. Begitupun saat dia menyuruhmu mencari madu untuk dirinya itu artinya dia sedang ragu dengan cintamu. Dia mungkin ingin mendengar pernyataan cintamu lebih sering. Seperti kata-kata I love you dan semisalnya.


Ada seseorang yang pernah berkeluh kesah pada sayyidina Umar karena merasa sudah tidak mencintai sang istri dan ingin menceraikannya. Apa jawaban sayyidina Umar, " kalau begitu cintailah dia!"


Sama dengan cinta kepada Alloh, kita juga harus mengupayakannya. Dengan dzikir dan tadarus juga amalan-amalan lainnya. Begitupun cinta pada istri harus ditumbuhkan dengan berbagai cara karena niat kita saat menikah adalah ibadah maka kita harus mengalah untuk mendapatkan hatinya.


Ayah memberimu nama Lukmanul hakim karena ingin putranya ini menjadi contoh yang baik untuk keluarganya seperti Lukmanul hakim yang diceritakan oleh Al-Qur'an" Bang Alif menepuk pundak Lukman yang sedari tadi menundukkan kepalanya kemudian meninggalkan pria itu sendirian.


Lukman mengusap matanya yang terasa panas. Ia meneteskan air mata menyadari kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2