
Lukman berjalan tertatih-tatih sambil menyeret kakinya yang masih sedikit nyeri.
"Aku bantu mas " Kata Daniah masih mencoba meluluhkan hati atasannya dengan mencoba memeluk tangan Lukman.
"Lepas!!! Kamu jangan kurang ajar nya " Bentak Lukman sambil melepaskan tangan Daniah yang mencoba memegang lengannya. Lukman memanggil Daniah 'nya' dari kata Nia tapi biasanya Lukman memanggilnya Danya.
Daniah hampir saja jatuh karena dorongan Lukman. Ia tidak pernah mendengar atasannya itu marah-marah seperti tadi sehingga membuatnya langsung diam tak bergerak. Dia hanya mengamati Lukman yang berjalan menuju jalan umum di perkampungan itu karena tak mau kehilangan pekerjaannya.
Gajinya memang tidak bisa dikatakan banyak hanya standar UMR di daerah setempat tapi berbagai fasilitas dan tunjangan bisa ia dapatkan. Setiap panen misalnya seluruh karyawan akan mendapatkan bonus dan mendapat bagian zakat pertanian dari si pemilik lahan pertanian juga perkebunan. Mereka juga kerap mendapat sayuran dan buah-buahan yang masih layak makan. Biasanya setelah di sortir buah atau sayuran yang tidak layak di kirim akan dibagi diantara para pegawai.
Belum lagi saat bulan puasa. Mereka akan mendapat bonus THR juga mendapat bagian zakat mal dari Lukman.
Daniah berpikir kalau dia masih bekerja di situ tentunya peluang untuk menjalankan misinya masih terbuka. Ia bisa memancing dan merayu Lukman nantinya. Bukannya tidak tahu kalau atasannya itu sudah beristri dan mempunyai dua anak. Ia bahkan sudah membayangkan menjadi istri kedua atasannya yang ganteng, gagah dan sebenarnya kayah rayah hanya saja hidupnya sangat sederhana dan tidak menampakkannya.
.
.
Lukman sedikit berlari dengan menyeret kakinya. Terpincang-pincang jalannya. Ia semakin kesal karena sakitnya datang tidak pada waktu yang dia harapkan. Pria bertubuh kekar itu melihat mobil yang dikendarai istrinya sudah sangat jauh dari tempatnya berdiri.
Ia berniat menyusul istrinya tapi Daniah memberikan ponsel miliknya yang tadi ditaruhnya di atas meja dan memberitahu jika Pak Ponadi juragan tanah dari kota tetangga menelponnya.
Lukman segera menerima telpon dari teman sesama petaninya dan berbicara cukup lama. Setelah itu ada utusan dari restoran yang mendapat pasokan sayuran darinya meminta tanda tangan untuk kelanjutan kerja sama.
Ia tidak fokus dalam pekerjaannya kali ini karena pikirannya berlari mengejar sang istri.
Setelah sholat Dhuhur barulah dia menyerahkan semuanya pada salah satu manajernya dan memintanya untuk membantu Daniah untuk mengawasi semua pekerja dan menghandle semua urusannya.
__ADS_1
Lukman mulai menelpon ke rumah juga pada kak Mia menanyakan apakah istrinya sudah pulang ke rumah atau belum dan jawaban orang rumah Laila belum pulang ke rumah.
Ia mulai panik, takut terjadi apa-apa pada istrinya juga putranya. Berbagai pikiran buruk pun mulai menghantui pikirannya. Dan Alhamdulillah nya kakinya sudah membaik dan tak terasa sakit sama sekali sehingga ia bisa mencari istrinya tanpa kesakitan.
Pria yang biasanya berwajah datar itu berkali-kali menggigit bibirnya dan mengusap wajahnya.
"Ya Alloh jaga mereka, jaga anak-anak dan istriku ya Alloh....!" Ia menyebut nama Alloh berkali-kali diatas sepeda motor yang ia kendarai. Mencari keberadaan sang istri di berbagai penjuru kota. Mencari di tempat tinggalnya yang lama, di panti asuhan tempat adik-adik Doni berada dan ditempat-tempat yang kira-kira disinggahi sang istri.
Tapi nihil ia tak melihat bayangan istrinya dan tak tahu lagi harus mencari kemana.
Setelah solat isyak di masjid ia memutuskan untuk pulang dan ganti baju kemudian meminta bantuan pada bang Alif untuk mencari anak dan istrinya.
Sesampainya di rumah ia langsung menuju ke rumah bang Alif hendak bercerita apa yang terjadi tapi kak Mia menghadangnya.
" Kamu ada main sama perempuan lain?" Tanya kak Mia sewot tidak seperti biasanya.
"Tadi Laila bercerita padaku apa yang sudah kau lakukan di kantormu"
Lukman yang biasanya menghormati kakak iparnya itu malah menatapnya dengan tajam. Sakit hati dengan tuduhan yang belum sempat ia jelaskan. Lukman yang hendak meminta tolong pada abangnya menjadi marah dan memilih pergi dari tempat itu. Ia bahkan tak ingin bertanya dimana keberadaan istrinya sekarang karena takut kurang ajar dengan membentak kakak iparnya, maka ia pun memilih diam.
Saat di luar rumah bang Alif terdengar suara mesin mobil yang sangat ia kenal mulai masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Lukman pun berjalan dengan cepat menuju ke arah berhentinya kendaraan itu.
Dan benar saja itu adalah istrinya. Lukman hanya melihat sekilas wajah istrinya kemudian segera membuka pintu mobil tempat Labib berada dan menggendong si kecil yang tampak kelelahan.
"Ayah...." Gumam Labib saat melihat orang yang menggendong dirinya adalah ayahnya. Lukman kemudian menaruh tubuh putranya di pundaknya dan menepuk-nepuk punggung si kecil pelan-pelan.
"Adek capek ya?" Katanya dengan lembut.
__ADS_1
Laila pun segera turun dan meraih tangan suaminya kemudian menciumnya. Matanya merah dan air matanya bahkan masih tersisa di bulu-bulu matanya.
Lukman tercekat dengan keadaan sang istri yang kali ini tak menghiraukan penampilan seperti biasanya.
Tapi bukan ini yang ingin Lukman lihat saat ini. Pria itu justru ingin istrinya ini marah-marah kepadanya. Menumpahkan segala kesal di dalam hatinya dengan memukul-mukul nya. Setidaknya itu yang ada dalam bayangan Lukman sebagai bentuk rasa sayang, cemburu dan takut kehilangan.
Tapi apa ini, kenapa istrinya begitu tenang meski wajahnya terlihat sembab tapi dia terlihat menerima keadaan ini tanpa minta penjelasan darinya atau setidaknya bertanya padanya atas apa yang tadi dilihatnya.
Lukman kembali diam sambil berjalan menaiki tangga menuju ke rumahnya. Sekali lagi ia kecewa tapi tak ingin menyakiti istrinya maka ia memilih diam saja.
Ternyata di atas semua keluarga sudah berkumpul. Ada sang ayah, Bu Jannah, kak Mia dan ada bang Alif juga. Semua mata memandang ke arahnya dengan pandangan penuh tanya seolah meminta penjelasan.
"La...." Kak Mia memeluk Laila dengan penuh kasih sayang. "Kamu baik-baik saja kan? Kamu dari mana saja? Kita semua khawatir sama kamu?" Kak Mia menitikkan air mata seolah ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Laila.
"Sudah yank.... biarkan Laila istirahat dulu!" Kata bang Alif kepada istrinya yang malah menangis terisak-isak.
"Aku baik-baik saja kak. Maaf sudah membuat semuanya khawatir..." Kata Laila sambil menundukkan kepala dan meremas jari-jarinya.
"Mas.... kamu harus marahin Lukman. Dia sudah keterlaluan...!" Kata kak Mia lagi. Ia tak terima kaumnya terdholimi.
"Ayo masuk dulu !" Kata Pak Dirman pada menantunya dan diikuti oleh bu Jannah yang berjalan di belakang suaminya.
Bang Alif merangkul istrinya yang belum puas meluapkan kemarahannya.
"Kita pulang dulu, besok kita bicarakan lagi! Kita juga harus mendengarkan dari sisi Lukman juga" Kata bang Alif dengan kepala dingin seperti biasanya.
Kak Mia yang sebenarnya belum puas berjalan dalam rengkuhan suaminya dengan bibir manyun dan menggerutu. Dia yang biasanya bijaksana seperti suaminya kini menjadi sensitif karena menurutnya ini menyangkut keadilan untuk kaum hawa yang harus di luruskan dan dibenarkan.
__ADS_1