
"Dengar gadis bodoh!! Aku melakukannya bukan karena kasihan kepadamu" kata Lukman berbisik di atas kepala Laila yang tertutup selimut.
jantung Laila berlarian mendapatkan perlakuan seperti itu dari lukman. Hatinya senang bukan kepalang.
"La- lalu?" Laila memberanikan diri bertanya.
"Kau ingin aku mengatakan apa?" Lukman balas bertanya dengan menahan senyumnya.
"Aku menyukaimu........" Lukman menjeda kalimatnya kemudian melanjutkan kata-katanya. "Apa seperti itu yang ingin kau dengar?" Lukman melepaskan lengannya dari kepala Laila.
Laila yang baru saja hatinya melayang karena perkataan Lukman kini ia seperti dihempaskan kembali ke tanah. Ia membuka selimut yang menutupi kepala dan tubuhnya dengan serampangan kemudian memukuli Lukman dengan guling yang masih ada ditangannya.
"Kamu jahat......kamu jahat...!!!!!.." Laila berteriak kembali sambil terus memukuli lengan Lukman. Sedang pria dengan tubuh tegap dan kekar itu diam saja menerima pukulan-pukulan yang dilayangkan gadis yang ada di depannya. Dibiarkannya gadis itu meluapkan semua emosinya sampai ia tak berteriak lagi dan pukulannya pun sudah melemah .
Lukman mengambil guling itu dan melempar nya diatas tempat tidur. Ia menatap Laila, bukan dengan tatapan tajamnya tetapi dengan pandangan mata yang berbeda seperti ingin mengungkapkan suatu rasa tapi tak bisa.
Mendapatkan pandangan seperti itu, Laila tetap takut dan menundukkan kepalanya. Tangan kanannya mengusap air mata di pipinya sambil sesenggukan. sedang tangan kirinya memilin ujung jaket milik Lukman yang sedang dipakainya.
hiks ......
"jangan menangis!!" kata Lukman dengan nada rendah
hiks.... hiks...
Lukman berbalik hendak keluar dan mendapati Ani sedang bersedekap di depan pintu. sedangkan dibelakang Ani ada Zainal dan Doni. Kedua lelaki beda umur itu langsung kabur ke ruang tamu karena mendapat tatapan menakutkan dari Lukman.
Ani merentangkan kedua tangannya di pintu untuk menghalangi abangnya itu keluar.
Lukman memegang tengkuknya karena mendapat tatapan tajam dari adiknya. Ia jadi kikuk dan salah tingkah.
"Apa An?" kata Lukman dengan nada pelan.
"Aku tidak setuju Abang menikah dengan kak Lala." katanya tegas.
"Ke-kenapa?" Lukman terkejut mendengar pernyataan dari adiknya.
"Bagaimana kalau ada lelaki yang memperlakukan aku seperti abang memperlakukan Kak Lala ?"
Mata Lukman langsung memerah lagi, kemarahan pun nampak di muka garangnya, " Akan ku cincang kau Zainal!!! Minggir An....! Akan kuhajar dia!"
"Abang.....??!! " Ani mencoba menahan kemarahannya dengan mengeratkan giginya.
"Lalu kenapa kau memperlakukan kak Lala seperti itu?? Seandainya aku jadi ayahnya aku akan mencekikmu bang!!" Ani berkata dengan sorot mata yang tajam.
"Belum menikah saja Abang sudah semena-mena pada kak Lala, bagaimana kalau sudah menikah?" katanya lagi
__ADS_1
"A-a aku janji... aku janji tidak akan seperti itu An....." Lukman gelagapan.
"Siapa yang percaya setelah melihat semuanya?" Ani masih marah karena abangnya itu menindas kaumnya.
"A-aku..... aku percaya" Laila menjawabnya sambil menunduk dan menggigit jarinya.
Hilang sudah semua keinginannya untuk mendapatkan pria yang kaya karena hatinya kini terpaut pada Lukman tak perduli bagaimana latar belakang nya.
Mendengar hal itu Lukman merasa bahagia ternyata rasa sukanya juga berbalas. Ia mematung saja tak berani berbalik untuk melihat muka Laila saat mengatakannya.
Ani berjalan ke arah Laila dan berniat untuk meyakinkan keduanya jika ini semua bukan suatu keterpaksaan dan ada rasa sayang diantara mereka.
"k,enapa kakak bicara seperti itu? Apa kakak takut pada bang lukman? apa dia mengancam kakak?" tanya Ani dengan hati-hati.
Laila menggeleng kan kepalanya sambil melirik Lukman yang masih saja diam di ambang pintu.
"Kakak yakin?"
Laila menganggukkan kepalanya kemudian melirik Ani malu-malu.
.
.
"La.......?" Lukman yang kini duduk di ruang tamu sendirian memanggil Laila dengan suara pelan. Di rumah itu sekarang hanya ada mereka berdua karena Lukman menyuruh Ani dan Zainal mencari kue-kue sebagai hidangan walimah kecil-kecilan. Sedangkan Doni disuruh mengundang ketua RT dan beberapa warga untuk menjadi saksi pernikahannya.
Laila berjalan ke ruang tamu agak ragu, ia seperti mendengar Lukman memanggilnya "La" itu hanya perasaannya saja atau apa. Ia bersandar di pojok tembok sambil melihat punggung Lukman yang kini duduk menghadap ke arah jendela, tak berkata apa-apa, takutnya ia salah dengar
Lukman yang merasakan kalau Laila sudah mendekat kemudian bertanya
"Kau minta mahar apa? jangan yang terlalu mahal karena aku bukan orang kaya." Ia duduk condong kedepan dengan menumpukan kedua siku diatas lutut-lututnya sementara kedua jari jemarinya saling menaut ditengah.
"Terserah...." jawab Laila datar. Bibirnya melengkung membentuk senyuman karena mendengar nada suara Lukman yang lembut dan terdengar merdu di telinganya.
"Kau harus tahu..... aku ini bukan orang kaya. Aku hanya seorang petani di desa dan punya toko kecil yang hasilnya tak seberapa. Aku tidak bisa menjamin kehidupan yang melimpah seperti yang kau inginkan. Tapi aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian. Kau tahu kan petani itu baru punya uang saat panen saja? Apa kau bisa hidup seperti itu?" Lukman yang biasanya hanya bicara sepatah dua patah saja ketika bersamanya, kini berbicara panjang lebar dengan bersahaja tanpa menoleh untuk melihat lawan bicaranya.
"Iya...." jawab Laila singkat. Mungkin benar cinta itu buta sehingga Laila yang punya obsesi untuk menikah dengan orang kaya kini lenyap begitu saja. Laila kini rela sepenuh jiwa untuk menikah dengan pemuda yang biasa-biasa saja yang kini sedang memunggunginya. Pria yang temperamennya buruk. Bahkan Lukman juga sering memarahi dan membentaknya tapi Laila seakan sudah terpesona tingkat akut. Ia merasa yakin kalau Lukman akan menjadi suami yang baik untuknya.
Mereka saling diam karena tidak tahu harus bicara apalagi tapi masih ingin bersama meski mata tak saling menatap . Hanya merasakan atmosfer yang luar biasa dengan debaran-debaran yang menggila karena menghirup udara yang sama.
Lukman mengangkat telpon disakunya yang bergetar karena ada panggilan. Nama bang Alif terpampang disana.
"Assalamualaikum Bang...."
"hah.....hah..hah...hah... waalaikumsalam hah...hah... warahmatullah"
__ADS_1
"Abang kenapa bang.. ? Lukman khawatir mendengar suara bang Alif yang seperti abis berlarian.
"Hah.... nggak papa. huft ....ada apa kamu tadi telpon?"
"Abang baik-baik saja bang?" Lukman masih bingung karena suara abangnya terdengar aneh.
"Iya nggak papa. Aku baik . Ada apa kamu tadi telpon?" tanya Bang Alif sambil mencoba merilekskan nafasnya yang masih saling berkejaran.
"Aku mau menikah Bang. Abang datang ya ke rumah Doni!"
"Menikah? maksudnya.....huft.... hmhm...muah.... makasih sayang..."
" Bang... Abang lagi ngapain sih....?" Lukman sepertinya mulai mengerti apa yang baru saja dilakukan oleh abangnya.
"Barusan mijitin kakakmu,..,..hah....hah"
"hih.... Baru jam segini juga . Pokoknya cepat kesini . Aku menikah malam ini juga....!" kata Lukman
"Agak lama ya . aku mau keramas dulu"
tuuut..... telpon langsung dimatikan oleh bang Alif.
"Keramas.....? astaghfirullahaladzim bang..... ini baru jam berapa sudah tandang saja....."
"Kenapa?" tanya Laila yang masih berada di belakang Lukman.
Lukman menoleh kearah suara. Ia lupa jika Laila ada di belakangnya.
Tap
Mata mereka bersirobok dan keduanya langsung memalingkan mukanya malu-malu seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta.
"Nggak papa. Bang Alif tadi abis mijitin kak Mia". Lukman menoleh ke belakang lagi. Hanya beberapa detik saja ia mengamati Laila
"Cuci mukamu! orang-orang akan mengira kalau aku memaksamu jika melihat mata sembabmu" katanya sambil melihat ke arah pintu
"ehem..... aku ngganggu nggak?" Doni tiba-tiba datang kemudian dia duduk didepan Lukman
"Lagi ngomongin apa sih Bang seru amat....." tanya Doni sambil senyam-senyum karena melihat kakaknya dan calon kakak iparnya seperti sudah baikan setelah tadi mereka bertengkar hebat.
ctak.... !!! jari-jari Lukman rasa-rasanya ketagihan menyentil dahi Doni. Ia seperti seorang psikopat saat melihat Doni meringis kesakitan
"ishh abang.....!! sakit!"
"Rasain!" kata Laila ikut berbahagia melihat penderitaan adiknya
__ADS_1
"Kalian berdua.....?" Doni menunjuk Lukman dan Laila bergantian.
"Apa?!?" Lukman mendelik kan matanya menantang calon iparnya.