Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Labib


__ADS_3

Tujuh tahun setelah pernikahan mereka pasangan double L itu sudah dikaruniai dua orang anak. Yang pertama bernama Muhammad Latif Assidqi dan yang kedua Ahmaf Labib Assidqi.


Pernikahan mereka yang senantiasa diwarnai kebahagiaan tiba-tiba menjadi berkabut. Ada semacam penghalang tak kasat mata di antara mereka. Seperti malam itu setelah keduanya mengayuh bersama menuju puncak rahasia cinta, melakukan penyatuan dua raga, Lukman hanya memeluk Laila tanpa kata-kata cinta seperti biasanya.


"Mas...!"


"Hum...."


"Mas ada apa?" Laila memandang wajah suaminya yang sudah memejamkan mata dan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan istrinya.


"Perasaan sekarang mas jadi pendiam deh..." Laila memandang suaminya yang masih tak mau membuka mata.


"Ada masalah di sawah? atau di kebun?"


Lukman hanya menggelengkan kepala belum bersedia membuka mulutnya.


"Ada apa sih mas? Aku buat salah? Atau Doni yang buat salah?" Laila menjadi kesal karena Lukman masih saja menutup mata tak mau menjawab pertanyaannya. Mata cantiknya menatap suaminya tanpa berkedip tapi lelaki yang sudah tujuh tahun menemani hari-harinya itu tak bergerak dari posisinya.


"Ayo tidur! Aku capek..." Akhirnya keluar juga suaranya.


Laila yang mendengarnya justru kesal dibuatnya. Ia segera melepaskan pelukan mereka kemudian mencari baju yang sudah berserakan di mana-mana dan lekas memakainya. Wanita yang sudah mempunyai dua putra itu tidur membelakangi suaminya. Ia merajuk dan ingin dibujuk tapi Lukman malah ikut membalikkan badannya memunggungi istrinya juga.


Laila menjadi bingung kenapa suaminya menjadi acuh tak acuh begitu. Ia merasa tak berbuat salah tapi kenapa suaminya seperti mendiamkannya.

__ADS_1


Tok tok tok


" Bunda.... huhuhu... bunda.....!!!!" Terdengar suara si kecil Labib menangis sambil mengetuk pintu kamar ayah bundanya.


Laila menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan Lukman bergegas mencari bajunya dan segera memakainya.


"Adik kenapa nak?" Laila menggendong putranya yang mengusap air mata juga ingusnya.


"Hiks... mau bobok cama bunda..." Katanya sambil menaruh kepalanya di ceruk leher sang bunda.


"Kenapa?" Laila mengusap kepala si kecil sambil menciumi rambutnya.


" Abang nakal. Ndak mau puk puk adik..."


"Ayah.... abang ndak mau puk puk adik..." Katanya sambil duduk di pangkuan sang ayah dan mengusapkan hidungnya di baju si ayah


"Ayah yang puk puk ya! Ayo bubuk!" Lukman membaringkan putranya di tengah-tengah antara dia dan istrinya.


Laila pun ikut berbaring di sebelah putranya yang menghadap ke arah suaminya. Ia menatap Lukman dengan mengerucutkan bibirnya berharap agar suaminya lebih peka dan mengerti apa yang diinginkannya tapi sang suami hanya menepuk-nepuk pantat si kecil dengan muka datar tanpa melihatnya sama sekali.


Si kecil sepertinya merasakan jika kedua orang tuanya ada masalah. Bayi tiga tahun itu berbalik menghadap bundanya.


"Bunda kenapa yah?" Tanyanya dengan polos.

__ADS_1


" Bunda ngantuk, ayah juga adik juga harus bobok ya...!" Kata Lukman.


" Bunda lagi malah cama ayah?" Tanya si kecil pada bundanya.


Laila diam tak menjawab pertanyaan putranya. Dia hanya diam saja sambil memeluk putranya.


Si kecil dengan lugunya mengambil tangan ayahnya dan di taruh di atas tangan bundanya sehingga mereka tampak berpelukan sekeluarga.


" Adik sayang bunda nggak?" Tanya Laila masih dengan mata terpejam.


" Cayang. Cayang ayah, cayang bunda, cayang kakak, cayang kakek, nenek, om, pak de, bude, kakak Ayam. Adik caayang cemuanya" Si kecil yang cadel huruf R dan S berkata dengan riangnya.


.


.


.


.******


Dikit dulu ya, masih capek banget aku.


Kita loncat dulu, habis itu kita flashback lagi ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2