
Lukman datang dengan wajah lebih segar. Wajahnya terlihat lebih tampan di mata Septi. Lelaki berwajah dingin dan garang tapi sedap di pandang mata. Membuat jiwanya yang gersang seperti tersiram air hujan. Segar dan menyehatkan.
"Siapa?" Tanya Lukman masih dalam posisi berdiri sambil mengambil ponsel yang ada di meja.
"I-itu" Septi ketakutan tentu saja dan dering telpon dari ponsel Lukman membuatnya terjengat kaget. Dadanya berdebar-debar semakin takut kalau sang istri akan mengadukan ulahnya.
"Assalamualaikum ada pak Supri?"
Septi menghela nafasnya dengan lega karena ternyata itu bukan telpon dari istrinya Lukman.
"A-apa?
Ya Alloh
Iya iya saya segera ke sana"
"A-ada apa mas?" Tanya Septi dengan menutkan kedua alisnya karena melihat raut muka Lukman yang tak seperti biasa.
"Lumbung padi habis di serbu tikus. Aku harus ke sana sekarang. Aku akan menyuruh Daniyah kesini nanti!"
"Nggak usah mas. Aku sendiri saja!"
Lukman memandangnya dengan tajam dan menurut Septi itu adalah bentuk kecemasan dan rasa sayang. Hatinya lagi-lagi menghangat mendapat perhatian berlebih dari sang pujaan hati.
Seperti tahu apa yang dicemaskan oleh lawan bicaranya Septi kemudian berkata ,"Aku akan baik-baik saja"
"Berjanjilah padaku kau tidak akan berbuat yang tidak-tidak!"
Septi menganggukkan kepala menurut pada lelaki yang satu ini.
"Aku akan segera kembali kalau semuanya sudah selesai"
Lagi-lagi Septi menganggukkan kepalanya dengan mantap seolah tersihir oleh kata-kata sang pujangga. Ia sudah memutuskan untuk menjaga kandungannya agar Lukman tak meninggalkannya.
Lukman segera bergegas berjalan meninggalkan ruangan Septi karena ada sebagian dari sudut hatinya yang tidak rela meninggalkan gadis yang mengandung benih seorang lelaki biadab. Wajah sedih dan pasrah Septi membuat Lukman merasa kasihan dan timbul dorongan untuk menjaganya. Gadis rapuh yang selalu menurut padanya dan cenderung bodoh juga pasrah dalam menghadapi kehidupannya.
__ADS_1
.
.
.
Saat Lukman tiba di lumbung padi tempat menyimpan hasil panennya, suasana sangat ramai karena para warga berkerumun di situ.
Pak Supri dan pak Mukhtar buru-buru menghampiri Lukman saat melihat kedatangan bosnya itu.
Semua orang yang sudah mengenalnya membuka jalan untuk nya sehingga dia bisa dengan mudah tiba di dalam gudang. Betapa terkejutnya Lukman saat melihat tak ada gabah yang tersisa. Lumbung padinya kosong melompong. Dia segera berpegangan pada tembok untuk menahan beban tubuhnya yang hampir saja ambruk ke bawah.
Bagaimana tidak hasil panennya kali ini terbilang baik dan gabah-gabah dari setengah luas tanah yang dia miliki sudah masuk ke lumbung dan semalam saja gabah dalam jumlah super banyak itu habis tak bersisa. Itu artinya pekerjaannya selama empat bulan ini sia-sia saja. Kepalanya mendadak pening mengingat jika dia harus membayar gaji para pegawai dan buruh tani akhir bulan ini.
Lututnya terasa lemas tapi ia tetap berjalan merayap dan Lukman melihat di satu sudut di dekat tembok ada lubang besar di sana.
Suasana hiruk pikuk di luar gudang berseberangan dengan apa yang yang dirasakan Lukman. Tiba-tiba dunia ini terasa hening sekali.
Seraut wajah yang ia tinggalkan sejak kemarin menari-nari di depannya. Dia seperti melihat Laila menembus dinding dan menghampirinya sambil tersenyum. Labib dan Latif juga datang bersamanya. Lukman pun menelan ludah menyadari kerinduan yang tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya. Rindu pada istri dan anak-anaknya.
"Para warga yang pulang dari solat subuh melihat tikus dalam jumlah yang sangat banyak keluar dari lubang di dekat sawah kita kemudian masuk ke parit. Para warga yang melihat hal itu hanya diam saja tak tahu harus berbuat apa. Jumlah mereka diperkirakan ribuan dan saat menceritakan hal ini mereka terlihat bergidik ngeri. Dan mereka juga mengatakan hal itu cuma terjadi beberapa menit saja setelah mereka semua tersadar kemudian mereka mendekati parit dan tidak mendapati apa-apa di sana. Air dalam parit tidak bergolak sama sekali. Tenang macam tak ada sesuatu yang masuk ke dalamnya. Airnya pun tak keruh sama sekali, masih bening seperti biasa. Dan setelah menelusuri jalan yang di perkirakan akan dilewati tikus-tikus sampailah mereka disini. Pak Soleh yang menjaga disini kebetulan juga mau membuka gudang untuk mematikan saklar lampu. Begitu masuk ke dalam mereka tercengang karena keadaan gudang sudah kosong tak berisi apa-apa sama sekali. Dan anehnya pak, itu cuma terjadi disini saja." Pak Mukhtar menceritakan apa yang terjadi secara panjang lebar.
Lukman hanya mampu memejamkan matanya saat mendengar penjelasan dari kedua pegawainya. Bibirnya kelu tak mampu menanggapi. Entah kenapa pikirannya kali ini dipenuhi wajah sang istri yang sedang bersedih.
Sekuat tenaga Lukman berjalan keluar dari gudang lumbung padinya melewati kerumunan warga yang masih setia melihat disitu. Dia sudah tak punya kekuatan apa-apa lagi. Hanya berjalan menyeret kakinya sambil menundukkan kepala.
Bukan kantor yang ia tuju tapi ke mushollah yang ada di dekat situ.
"Tinggalkan aku sendiri!" Katanya saat mengetahui pak Supri dan pak Mukhtar juga beberapa pegawai mengikutinya.
Terdengar pak juga pak Soleh yang minta maaf karena kurang awas dan mengaku sudah teledor. Lukman hanya menganggukkan kepala saja tak berniat menjawabnya karena bibirnya masih kelu.
Matahari baru naik setinggi tombak dan Lukman memilih untuk melaksanakan solat dhuha di teras musollah. Memilih duduk terpekur disana dan menyebut nama Alloh dengan penuh pengharapan.
"Apalah dayaku yang hina ini Ya Alloh. Bagaimana kami akan mengatakan tentang semua ini pada klien-klien nanti. Padahal kami sudah menyepakati perjanjian dan berjanji akan mengirim hasil panen kami kali ini ke semua klien-klien kami. Aku harus bagaimana ya Alloh? Aku harus bagaimana mempertanggung jawabkan semua ini.?"
__ADS_1
Ponsel dalam sakunya yang menggelepar membuatnya menghentikan keluhannya pada sang Pencipta.
Melihat nama si pemanggil, ia pun segera mengangkatnya dengan lengkungan bibir yang secara tak sadar ia lakukan.
"Assalamualaikum sayang...." Sapa wanita yang sangat dia rindukan saat ini.
Mendengarkan suaranya seperti mendapatkan air minum di tengah panasnya gurun sahara. Bahagia dan menenangkan.
"Waalaikumsalam warahmatullah... anak-anak sudah berangkat ke sekolah?"
Bayangan saat mereka bersama setiap pagi membuat hatinya merasa sesak. Ada sesal dalam dirinya yang tak mampu ia ucapkan.
"Sudah dong ayah... Jam berapa ini?"
Lukman melirik jam ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sembilan dan pastinya anak-anak sudah berangkat sekolah sejak tadi.
"Ada apa mas?" Tanya Laila.
"Kangen...."
"Me too. Mau bicara sama ayah nggak? Tapi kayaknya lagi istirahat"
"Kamu lagi ngapain yank?"
"Ini lagi ngobrol sama pacar aku"
Lukman terkekeh mendengar suara manja sang istri yang terdengar merdu di telinganya.
"Jangan memancing ikan yang kelaparan" Sahutnya menanggapi godaan sang istri.
"Nggak percaya tuh. Kemarin juga aku ditinggal sendirian"
"Maaf, situasinya terjepit sayang. Aku terpaksa melakukannya. Maaf"
"Permintaan maaf tidak diterima" Jawab Laila ketus. Enak saja, batinnya
__ADS_1