Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Mimpi itu


__ADS_3

Entah darimana datangnya tiba-tiba Karina sudah berada di depanku dengan membawa batu besar. Dengan penuh kebencian ia menjatuhkan batu itu diatas kakiku.


"BAMMMM!!"


"Arghh hhhhhh...!!!!!!" Rasanya kakiku remuk redam dihantam batu yang begitu besar. Lantainya sampai pecah dan berhamburan. Kakipun melesaj ke dalamnya. Rasa sakit yang begitu menghujam sampai tak bisa kujelaskan bagaimana rasanya. Tulang seperti pecah berhamburan, nyeri seperti akar yang dicabut dari dalam tanah. Sakit sekali.


Kenapa adikku ini begitu tega berbuat seperti ini padaku? Wajahnya penuh kebencian dan tampak bengis sekali.


Ternyata anggota keluarga ku yang lain juga sedang melihatku. Bang Alif, Ani, dan kak Mia tapi kenapa mereka juga ada disini dan kenapa mereka hanya diam memandangku saja tak berusaha menolongku.


Ada apa ini?


"Sayang..... !" Di tengah rintihanku Aku menoleh karena mendengar suara yang sangat kukenal. Hatiku berbunga-bunga mendengarnya. Hilang sudah rasa sakit yang tadi mendera. Istriku sudah tidak lagi marah padaku? Apa dia sudah memaafkan kebodohanku?


"Ayo....!" katanya dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku hendak menggapai tangannya tapi tanganku tak bisa digerakkan, Rasanya berat sekali. Entah kenapa aku juga tak bisa membuka mulut untuk menjawab ajakannya. Rasanya ada kekuatan lain yang menyebabkan mulut dan tanganku ini tak bisa bergerak dan bicara.


"Emph...... Emph!!!!" Kukerahkan Sekuat tenaga untuk berteriak minta tolong tapi suaraku tercekat di dalam dada dengan bibir yang mengatup rapat tak bisa digerakkan membuatku ketakutan.


"NGIIIIIIIINGGGGGGGGGGG........"


Terdengar suara berdenging yang sangat keras sampai memekakkan telingaku kemudian semuanya menjadi gelap gulita.

__ADS_1


Sunyi.


Entah aku sedang berada di bumi bagaian mana karena semuanya terasa sepi sekali. Tak ada kehidupan. Hampa.


.


.


.


Suara hiruk pikuk membangunkan kesadaranku. Aku mencoba mengingat saat ini aku sedang berada di mana? Apa yang terakhir kali terjadi padaku. Ah...ya, tadi setelah solat Isyak aku rebahan di serambi masjid yang dingin tanpa alas apapun. Aku begitu capek setelah mengalami banyak hal kemarin hingga langsung tertidur setelah badanku menempel dengan lantai.


Jadi, kejadian yang menakutkan tadi hanya mimpi?


"Hiks "


Siapa yang menangis ini? Batinku. Kenapa rasanya aku berada di tempat asing.


Kucoba untuk membuka kelopak mata tapi rasanya berat sekali. Seperti ada lem yang mengeratkannya sehingga sulit untuk kubuka.


"Bangunlah! Aku ingin sekali menghukummu. Aku ingin sekali marah padamu!" Suara parau itu, itu suara istriku. Kenapa dia menangis?

__ADS_1


"Banyak yang harus kau jelaskan padaku!"


"Kumohon bangunlah! Hiks...."


"Aku rela dimadu asal jangan pergi meninggalkan aku seperti ini! Aku tak rela!"


"Hiks"


"Jelaskan dulu padaku siapa dia!"


"Sayang... bangunlah! Jangan diam saja!"


"Katakan kenapa kau sampai membagi cintamu!"


"Apa kekuranganku tak bisa di maafkan sampai kau berniat poligami!"


"Jelaskan dulu padaku jangan diam saja!"


Dengan susah payah akhirnya aku bisa membuka mata dan melihat sosok cantik yang terlihat pucat, dia sedang menangis di atas tanganku. Tapi... kenapa aku tak merasakan sentuhan tangannya. Kenapa tanganku mati rasa? Kucoba untuk mengangkat tanganku tapi aku tak kuasa. Tak bisa bergerak sama sekali.


"Abang....." Laila mendongakkan kepala dan melihatku. Matanya terlihat sembab dan wajahnya sangat menyedihkan sekali.

__ADS_1


"A-abang sudah bangun?" Kenapa dia memanggilku abang? Itu panggilan seorang adik untuk kakaknya. Aku ini suaminya. Kenapa istriku ini?


Ia buru-buru menekan tombol di dekat kepalaku. Seketika aku sadar sedang berada di rumah sakit karena ruangan serba putih dan banyaknya alat-alat medis di sekitarku. Aku bisa melihat tanganku diinfus dan lubang hidungku dijepit dengan selang oksigen.


__ADS_2