Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Dilema


__ADS_3

" Mas, besok anterin periksa ya!"


"Kenapa? Sakit?"


"Hawa-hawanya kayak pas hamil gitu deh...." Kata Laila sambil memainkan jemarinya di atas dada Lukman yang berbulu lebat.


Lukman yang sedang memeluk Laila seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Hamil?" Tanyanya.


"Kenapa? Mas nggak suka kalau aku hamil lagi?" Laila melepaskan diri dari dekapan Lukman karena mendengar nada kecewa dari mulut suaminya.


"Bukan begitu sayang...." Lukman jadi bingung sendiri. Menghadapi dua orang wanita hamil sekaligus itu sungguh diluar dugaannya. Kenapa bersamaan waktunya.


"Mas kayak nggak mengharapkan anak ini deh..." Kata Laila sambil mencari bajunya yang tadi bertebaran dimana-mana kemudian memakainya.


Lukman pun segera memakai celana dan merengkuh Laila dengan sedikit memaksa.


"Bagaimanapun dia darah dagingku. Hanya saja kenapa waktunya sekarang?"


Jawab Lukman yang semakin memperkeruh keadaan.


"Memangnya kenapa kalau sekarang? Jangan bilang kalau sekarang mas menyembunyikan sesuatu dariku. Apa mas punya simpanan yang sedang hamil atau apa?"


"Jangan mengada-ada La! Nggak ada yang seperti itu!" Lukman sedikit membentak istrinya karena tebakannya hampir benar. Bukankah posisi Septi sekarang seperti simpanannya. Meskipun itu bukan hasil perbuatannya tapi dia menyembunyikan hal itu dari istrinya seolah takut terjadi apa-apa pada Septi dan anak yang dikandungnya.


"Besok aku antar ya? Kamu ingin anak perempuan kan?" Tanya Lukman dengan suara lebih rendah. "Jangan berpikiran macam-macam. Aku nggak bisa berpaling dari kamu. Buktinya selama ini aku mencari juga nggak ada yang ketemu yang seperti kamu" Katanya Lukman mencoba menenangkan sang istri juga dirinya sendiri.


"Aku takut kalau mas tidak sayang padaku lagi"


"Tidak akan. I promised!" Janji Lukman.


Malam itu mereka tidur berpelukan dengan hati tenang dan saling menaruh kepercayaan.


Selepas Subuh seperti biasanya Laila akan berkutat di dapur sedangkan Lukman yang bertugas membangunkan dan memandikan anak-anaknya. Meskipun si sulung sudah tidak bersedia dimandikan lagi karena merasa kalau dirinya sudah besar.


"Mas, ayah ibu kemarin menelpon katanya mau pulang nanti malam. Bisa jemput kan?" Tanya Laila sambil membawa sayur bening ke meja makan.

__ADS_1


"Sampai sini jam berapa?" Tanya Lukman sambil membedaki putra kecilnya.


"Jam delapanan kalau nggak salah"


"Nanti ingetin lagi ya! Barangkali lupa!"


"Hehem."


Lukman pun masuk ke kamar lagi untuk mandi yang kedua kalinya. Setelahnya ia memakai kemeja karena hari ini ada pertemuan dengan kepala desa di tempatnya bekerja untuk membahas tentang lumbung desa dan ruwah desa yang diselenggarakan tiap tahunnya.


Lukman kemudian menyalakan ponsel yang sejak semalam memang sengaja ia matikan dan dari dalam kamar ia bisa mendengar suara sang istri memanggil anak-anaknya.


"Ayo makan!!!"


" Abang! Ini sarapannya sudah siap, ayo!!."


16 panggilan tak terjawab


dan


10 pesan tertera di layar ponselnya.


Ia segera menelpon ke nomer yang sama untuk mencaritahu kebenarannya.


" Adik mau makan sama bunda apa ayah?" Tanya Laila yang masih menata lauk di atas piring. Hari ini ia menggoreng ayam Kentucky, dengan tahu dan tempe sebagai makanan wajib. Juga sambal bawang kesukaan sang suami.


"Sama Ayah, nggak papa kan bun?" Labib menyunggingkan senyum agar sang bunda tak merasa tersisihkan.


"Sudah besar makan sendiri dek!!" Latif berkata tanpa melihat ke arah adiknya. Ia mengambil nasi dan sayur sendiri tanpa bantuan bundanya.


"Iya iya. Saya akan segera kesana!" Kata Lukman sambil meraih tas ranselnya.


Ketiga orang yang ada di ruang makan hanya melihat Lukman yang terlihat panik dan buru-buru.


"Ayah tidak bisa mengantar ke sekolah. Minta tolong sama pakde Alif ya biar diantar ke sekolah" Katanya sambil menatap Latif yang balik menatapnya dengan tajam membuatnya menelan ludah.


"Kenapa mas? Ada masalah?" Laila ikut panik melihat raut muka sang suami.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya!" Katanya sambil mencium kening istrinya. Tak berniat menjawab pertanyaan Laila karena tidak ingin berdusta.


Awalnya Ia mencari kontak sepeda motor tapi diurungkannya. Dengan tergesa-gesa dia mengambil kunci mobil dan segera melesat dari rumah menyisakan ruang hampa di hati Labib dan Laila karena si kecil ingin makan disuapi dan Laila yang menahan air mata karena Lukman lupa dengan janjinya semalam untuk mengantarkannya periksa.


.


.


.


Lukman mengendarai mobilnya dengan tak sabaran. Aktifitas di pagi hari yang padat membuat jalanan tampak merayap karena setiap orang ingin segera sampai ditempat tujuan tanpa adanya hambatan.


"Ya Alloh sebenarnya apa yang terjadi padaku.?" Ia bergumam sendiri sambil memukul kemudi.


"Apa aku sudah jatuh cinta pada Septi?"


Rasanya tak ada debaran jantung yang menggila saat bersama dengan Septi tapi demi mendengar kabar dari rumah sakit kalau Septi semalam hendak kabur melarikan diri membuatnya cemas berlipat-lipat.


"Ya Alloh apa yang harus aku lakukan pada Septi?"


Lukman sudah mencoba mengorek dari Daniah tapi tak mendapat jawaban yang melegakan. Daniah hanya mengatakan kalau mereka pernah bertetangga tapi kini ia tak tahu dimana tempat tinggalnya karena orangtuanya sudah berpisah. Septi, kakak dan adiknya sudah tidak berada di kampung yang sama dengannya. Begitu pula ayah tirinya yang sebenarnya asli orang situ kini juga tak terlihat batang hidungnya.


Lukman kelabakan mencari asal usul Septi dan bingung harus memulangkannya kemana. Karena sampai sore kemarin dia masih diam saja tak mau bercerita.


Dia hanya mau ikut Lukman saja karena dia satu-satunya orang yang baik kepadanya. Lukman pun berjanji akan mencari jalan keluar untuk permasalahannya dan hal itu membuat Septi sedikit tenang.


Tapi pagi ini kenapa Septi tiba-tiba ingin melarikan diri sampai harus terjatuh dan pendarahan. Untungnya si janin tidak apa-apa.


Lukman berlari menelusuri lorong rumah sakit dengan kekuatan penuh. Membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.


Dengan nafas tersengal-sengal dia membuka pintu ruangan Septi yang sudah dipindahkannya dari bangsal kelas 3 ke kamar VIP.


"Kamu.......hhhhhh baik-baik saja kan?" Tanya Lukman dengan deru nafas yang berlarian pada Septi yang ternyata sudah membuka mata.


"Mas ..." Ia berusaha bangun dari tidurnya dan Lukman dengan sigap membantunya. Tapi kemudian Septi memeluk pinggang Lukman dengan erat.


"Aku tak mau anak ini. Aku mau menggugurkannya saja! Tolong aku mas!!" Pintanya dengan derai air mata yang deras.

__ADS_1


Lukman tak bisa menolak gadis yang sedang kacau dan bersedih itu. Dia justru menepuk-nepuk punggung Septi yang berguncang karena tangisnya yang tak kunjung reda.


Tiba-tiba sekelebat bayang istrinya ada di pelupuk mata. Ia menggigit bibirnya saat mengingat kalau semalam dia berjanji akan mengantarkan Laila periksa dan dia benar-benar melupakannya.


__ADS_2