
Karina berlari meninggalkan kakak-kakaknya setelah mendapatkan telpon yang mengabarkan kalau abangnya sudah siuman. Ia tak lekas memberitahu Laila karena mau membuat perhitungan lebih dulu dengan abangnya. Pikirannya antara bahagia juga kesal saat mendengar kabar barusan. Ia menghela nafasnya dan bergegas menuju kamar ICU
"Mi.... " Ibrahim menghadang sang istri di pintu ruangan tempat Lukman berada dengan merentangkan tangannya.
"Apa sih pi?" Nada suara Rina Terdengar sewot.
"Aku tahu apa yang ada dibenakmuu!" Ibrahim menoyor kepala Karina dengan seringai tipisnya.
"Ishh.... Aku tidak gila ya pi. Bagaimanapun dia abang kandungku. Aku cuma mau ngasih pelajaran sedikit saja"
"Siapa mau yang percaya anak keciiil?" Ibrahim menatap Karina dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
"Papiii!! Dilihat orang malu tahu!!!"
"Masa..?" Ibrahim malah semakin ingin menggoda karena reaksi istri kecilnya yang menggemaskan.
"Papi pingin nyobain teknik pukulan ku yang terbaru nggak?" Karina berbisik di telinga suaminya dengan berjinjit karena tinggi mereka yang amat kentara.
"Kalau di atas ranjang aku mau" Ibrahim membalas bisikan Karina di telinga sang istri kemudian meniup leher Rina dengan sensual.
"Ehem!! Bener-bener nggak tahu tempat ya pak direktur ini!" dokter Hendrik spesialis anastesi juga teman dekat Ibrahim berjalan melewati keduanya sambil geleng-geleng kepala.
"Ape lo?" Ibrahim menatap temannya itu yang tetap berjalan sambil menoleh dan menjulurkan lidah.
"Ingat umur! kurangi-kurangilah kegiatan **** lu!?" Katanya sambil berjalan mundur.
"Eh gua pecat baru tau rasa lu!!" Ancam Ibrahim dengan kata penuh penekanan tidak mau disebut sudah berumur.
"Ini mulutnyaaaa! Kalau anak-anak lihat gimana?" Rina mencakup bibir suaminya dengan kelima jarinya.
"Pokoknya kamu nggak boleh masuk sekarang mi!"
"Papi berani ya sama aku?" Rina mengangkat lututnya dan siap menendang apa yang ada di depannya membuat Ibrahim seketika membelalakkan mata dan menyingkirkan tangan dari pintu kemudian beralih mendekap pusat tubuhnya.
"Kamu itu perlu ini mi!!. Awas saja nanti malam nggak akan aku kasih jatah. Biar nanti malam mami merengek-rengek juga aku nggak akan mau gerak"
"Siapa jugaa yang pingin?" Karina meninggalkan suaminya yang berdecak sebal karena sekarang sulit sekali menggertak istrinya, tidak seperti saat awal-awal menikah.
Karina dan Ibrahim sudah masuk ke dalam ruang ICU dengan pakaian khusus. Ibrahim mengambil jarak tak terlalu dekat dari sang istri. Mengawasi saja apa yang akan diperbuat olehnya.
Rina menatap Abangnya yang kini sudah membuka mata.
"Kalau aku jadi kak Lala aku akan berdoa semoga abang meninggal agar kesedihan yang sudah dibuat oleh lelaki berkedok suami ini terbalaskan"
"Untung saja kak Lala bodoh dan bucin akut sama abang jadi dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk"
"Mulutnya ini loooh!!" Ibrahim ganti mencakup bibir istrinya dengan jari-jarinya yang besar.
"Dep!!!" Siku Karina menghantam Ibrahim dengan cukup keras.
"Aargghh!!! Shittt!!" Si pria berbadan gempal bermata sipit itu membungkuk dan memegang perutnya yang kesakitan.
"Sorry pi!!! Papi sih dibilangin jangan suka ngagetin juga masih aja!!!"
"Kariiinnn berani-beraninya kamuuu!!!!Sudah salah masih ngomel aja!!"
"So sorry pi...!!!!"
Ibrahim mengambil bantal yang ada di kursi kemudian memukulkannya di kaki Lukman yang tak berdaya
"Bug Bug Bug!!!!"
"Papi!!!! papi gila ya???!!" Rina menahan tangan ibrahim agar tidak menggebuki Lukman lagi.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Katanya kamu pingin dia matii?" Ibrahim melirik Karina dengan tatapan sengitnya.
Rina menundukkan kepala sambil memonyongkan bibirnya. Tangannya berpegangan pada baju sang suami yang sedang hilang kendali.
"Sudah tau kan kelakuan adik kamu??!" Kini Ibrahim menatap kakak ipar yang usianya lebih muda darinya.
"Meskipun begitu aku tetap setia sama dia. Aku menerima dia apa adanya. Kamu hanya karena satu orang wanita saja sudah goyah sampai tak tahu kalau istrinya sedang hamil pingin dimanja-manja. Ini malah manjain cewek lain...."
"Lihat tampilan adikmu ini! Sudah kecil, pendek, rata tapi aku tak pernah pingin mencoba yang lainnya. Yang datang menawarkan diri sama aku itu banyak. Body goals semua tapi aku mantap menolak mereka karena ingat dia. Aku sayang sama dia bukan karena fisiknya tapi karena dia itu Karina. Tidak ada wanita yang bisa menyamai dia. Aku maunya cuma Karina bukan gadis lain. Mantanku memang banyaaak sekali. Cantik-cantik semua. Body nya? ughh... jangan tanya! Aduhai pokoknya tapi begitu menikah aku gigit kuat-kuat janji yang sudah ku ucapkan pada Tuhan meski aku belum paham agama tapi pernikahan menurutku adalah perjanjian besar antara aku dengan Yang Kuasa. Tak kusangka..... orang yang alim seperti abang malah melecehkan pernikahan dengan begitu mudahnya. Aku orang pertama yang kecewa tau nggak? Ingat nggak waktu ngancam aku dulu?..... Kalau aku dengar kamu menyakiti adikku.... aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Cam kan itu!"
"Masih ingat nggak waktu ngomong kayak gitu? Sekarang gimana? Mungkin Doni perlu tahu biar dia sendiri yang membunuh kakak ipar yang dipuja-puja nya ini. Yang sudah menyia-nyiakan kakaknya sendiri bahkan menyakitinya sampai kehilangan bayinya. Lelaki macam apa kau ini?"
"Juh....!!" Ibrahim menyemburkan ludahnya di muka Lukman membuat pria yang baru sadar dari komanya itu memejamkan mata. Kata-kata tajam dari Ibrahim itu memang benar adanya. Dia tidak marah karena merasa memang dia pantas untuk mendapatkannya. Bahkan yang lebih buruk dari itu dia pun akan menerimanya yang penting dia bisa hidup kembali dan seumur hidupnya akan meminta maaf pada sang istri.
"Papiii! Papi gi la ya?? Bagaimana kalau dia beneran mati? Orang baru sadar juga?". Rina menyentak lengan Ibrahim dengan kuat.
"Ya dioperasi lagi. Dibenarkan letak otaknya yang geser dari tempatnya itu. Gampang itu" Kata Ibrahim sambil berlalu setelah membalaskan dendam pribadinya. Bertahun-tahun Lukman selalu mengancamnya dan dia cukup ketakutan kalau berdekatan dengan gadis lain gara-gara ingat ancaman Lukman yang pandai beladiri. Ia tak mau babak belur di tangan kakak iparnya. Tapi ternyata sekarang Lukman sendiri yang bikin ulah.
"Dengerin tuh!!! Suamiku yang nggak ngerti apa-apa aja pinter. Ini paham agama tapi buat tahu-tahuan aja. Ngerti nggak lo?" Karina ikut menyemburkan kemarahannya pada Lukman kemudian meninggalkan ruangan itu sambil menutup pintu dengan kesal membuat para perawat ketakutan. Nasib jadi bawahan hanya bisa melihat tanpa bisa mengingatkan apalagi marah pada sang atasan.
Buru-buru dua orang itu masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa pasien VVIP mereka karena tadi keduanya mendengar adu mulut yang cukup keras antara dokter Ibrahim dan istrinya.
"Jadi aku cewek rata yang jauh dari kategori kamu pi?" Tanya Rina saat keduanya sudah berada di ruangan Ibrahim yang luas dan nyaman.
Ibrahim berbaring di atas tempat tidur setelah melepas jas dokternya. Seharusnya dia puas sudah bisa memaki-maki Lukman tapi ternyata hatinya malah merasa tak enak. Ada yang menggelitik tak nyaman disana.
"Jadi benar pi? Papi terpaksa menikah sama aku?" Tanya Rina lagi.
"Ya memang dipaksa kan dulu? Sama bang Alif ?" Ia memejamkan matanya tak ingin diajak berbicara.
"Aku tidak menarik sama sekali ya pi?" Suara Rina berubah pelan dan bergetar.
Ibrahim langsung membuka mata karena mendengar suara sedih istrinya yang duduk sambil menundukkan kepala.
"Bunuh saja aku kalau kamu mau tapi aku tidak akan melepaskanmu!" Ibrahim semakin mengeratkan pelukannya.
" Kariiin Sudah berapa kali aku bilang? Kita memang terpaksa menikah waktu itu kan? Bukan hanya aku tapi kamu juga ..! Kita belum siap kan? Tapi aku bersedia menikah buru-buru karena memang aku mencintaimu bukan hanya untuk main-main. Aku serius saat mengucap ijab qobul. Aku berjanji bukan hanya pada ayah tapi juga pada Yang Kuasa. Aku berjanji akan menggenggam pernikahan ini seumur hidupku" Katanya sambil menenggelamkan kepala Rina di dadanya yang putih dan berlemak.
"Papi pingin yang montok ya pi?" Tanya Rina sambil mendongakkan kepala?
"Hah? Montok? Kayaknya asyik juga" Jawab Ibrahim cengengesan.
"Aargghh...!!!!" Ibrahim berteriak lagi karena Rina menggigit bibir suaminya sampai berdarah kemudian mengusap bibirnya sendiri sambil menjilati ujung jari telunjuknya.
"Shiitt ..... Ini KDRT miii!! Aku akan melaporkan ini pada keluargamu. Aku akan menjabarkan satu persatu apa saja yang sudah kau perbuat padaku" Ibrahim memegang bibirnya yang berdarah sambil meringis kesakitan.
"Lapor saja! Memangnya aku takut? Aku juga akan lapor pada mertuaku yang baik hati. Aku akan bilang kalau anaknya ini suka menjelek-jelkkqn aku di depan keluarga ku. Mengatakan kalau aku ini kecil pendek tipis tidak berbentuk" Karina tak mau kalah.
"Memang kenyataannya seperti itu. Masa harus bohong? Kamu sendiri sering mengataiku gorilla aku juga biasa aja"
"Beda lah pi. Pria itu tidak mudah baperan berbeda dengan wanita." Karina kembali menyolot.
"Enak saja.... Kamu maunya dipuji-puji tapi kamu bisa memaki-maki aku sesukamu gitu? Nggak fair namanya" Ibrahim mengusap bibirnya yang kini terasa panas.
"Berbohong untuk menyenangkan istri itu berpahala piii! Meskipun kenyataannya aku memang tidak aduhai tapi seharusnya papi bilang kalau aku itu gadis tercantik di seluruh dunia ini. Cantik langsing, aduhai..."
"Harus sama dong...! Kamu juga harus muji aku mi! Bilang kalau aku ini pria tertampan yang pernah ada. Badanku atletis dan menggairahkan. Mataku besar dan lebar..."
"Enak aja .. badan besar gini masak dibilang atletis. Atletis dari Hongkonggg?" Rina mencibir mendengar permintaan suaminya.
"Ya sudah jangan harap aku bilang kamu seksih!!" Ibrahim berbalik memunggungi Karina karena kesal pada si imut hitam manis itu.
"Piii....."
__ADS_1
"Papiiii...!"
"Papi ihhh...."
"Kalau aku operasi payu dara biar montok gimana pi?" Rina menatap punggung Ibrahim yang lebar sambil melipat bibirnya sendiri.
"Buat apa?" Tanya Ibrahim sambil berbalik kemudian memandangi istrinya yang salah tingkah.
"Katanya tadi pingin yang aduhai..." Kata Rina masih menunduk belum berani menatap mata sipit sang suami.
Ibrahim merengkuh tubuh kecil Karina lalu mengecup keningnya.
"Aku sudah merasa cukup dengan apa yang ada. Tadi aku cuma mau meluapkan kekesalan saja sampai bicaraku kemana-mana. Ini cukup untukku, tidak terlalu besar atau terlalu kecil" Tangannya sudah meraba daerah tempat mainan spesialnya berada.
"Aku nggak percaya!" Jawab Karina sambil menggigit bibirnya karena takut mulutnya akan mendesah.
"Nggak masalah, yang penting aku cinta sama kamu. Dan seumur hidup, kamu tidak akan bisa jauh dariku apalagi lepas dari genggamanku. Jangan harap!!" Ibrahim mulai merangsek ke atas tubuh kecil Karina dengan penuh semangat.
"Siapa yang tadi bilang tidak mau ngasih jatah ke aku?" Rina mengejek suaminya yang kini sudah lepas kendali.
"Siapa yang bilang gitu?"
"Empphh....!!!"
"Papi ih..."
"Diaamm!!" Suara Ibrahim sudah serak karena tak tahan dengan gejolak dalam tubuhnya.
"Papi KDRT tahu???!"
"Ya laporkan saja sama papiku! Bilang kalau aku selalu bisa memberimu kenikmatan tiada tara. Membawamu melanglang buana di cakrawala"
"Ishhh... Papi banyak omong. Buruan ah...!!"
"Tok tok tok!!!!"
Terdengar ketukan yang terburu-buru Saat keduanya sudah siap hanya tinggal masuk saja.
"Shiiitttt.......t siapa itu???!!" Ibrahim berteriak marah karena keinginannya sepertinya tidak akan terlaksana.
"Maaf dok!!! Ada pasien urgent. Dokter Budi minta dokter Ibra datang ke ICU sekarang!!" Kata suara di depan pintu kamar Ibrahim.
"Shiiit...!! Berani-beraninya mengetuk pintu kamarku....!"
"Sudah.... itu pasti urgent banget....! nanti kan masih ada waktu!" Karina langsung memungut pakaiannya yang berhamburan di lantai.
"Ini masih tegang begini gimana mi...?"
"Nanti aku lemesin ok....??!"
Rina memakaikan baju suaminya yang tampak sekali gurat kecewanya. Ia mendengus berkali-kali saking kesalnya.
Karina dengan sabar membimbing suaminya untuk berjalan keluar.
"Sabar....!! Pasien itu number one. Suamiku yang paling tampan sejagat raya..... Suamiku yang tubuhnya atletis dan menggairahkan... semangat dong...!" Rina memeluk lengan Ibrahim sambil mengusap dada bidang sang suami yang kini menatap tajam pada perawat yang masih diam di depan pintu.
"Cium dulu...!!" Ibrahim berkata dengan manja sambil memeluk pinggang Karina kemudian menutup matanya. Tak perduli pada perawat yang melongo melihat bos besarnya menjadi pria yang berbeda. Yang biasanya terlihat dingin dan kejam kini berubah menjadi manja dan kekanak-kanakan di depan istrinya.
Karina memberi isyarat dengan tangannya agar si perawat keluar duluan barulah ia memberi ciuman pada sang suami yang kini berubah menjadi besar yang harus dituruti keinginannya agar mau melakukan kewajibannya.
Pasangan ini kadang seperti anak remaja, kadang seperti tom and jerry, kadang juga saling melengkapi dan memberi rasa nyaman satu sama lain.
Ada yang kayak gini nggak?
__ADS_1
Selesai sudah kisah Karina dan Ibrahim sampai di sini. Besok kita lanjut ke couple L, Lukman dan Laila. Akan berakhir gimana kisah rumah tangga yang sudah berjalan cukup lama.