
Laila mengumpulkan dua testpack yang tadi dipakainya saat Lukman pergi ke masjid. Dua garis merah. Positif
Ibu dua orang anak itu menggigit bibirnya. Kehamilan biasanya selalu membuatnya bersemangat tapi kali ini entah mengapa dia ingin sekali menyembunyikannya dari keluarga besar suaminya.
Ia membuang testpack ke belakang rumah kemudian membakarnya. Dan ketika ia masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang ia dikejutkan dengan ibu mertua tirinya yang mungkin sejak tadi memperhatikannya.
"Lapo nduk?"
(ada apa nak?)
"Mboten Bu"
"Ono isine maneh ta?!(Ada isinya lagi, mengandung lagi)" Tanya bu Jannah
"Bu, nyuwun tulung sampun sanjang sinten-sinten rumiyen nggeh!" (Bu minta tolong jangan bilang siapa-siapa dulu ya). Laila berbisik sambil menundukkan kepala di depan bu Jannah.
"Ono opo to nduk?" (Memangnya ada apa nak)
"Mboten bu, mas tasek repot ngurusi sawah. kuatir mangke malah mikir" (Nggak papa bu. Mas masih repot mengurus sawah, khawatir nanti jadi kepikiran)
"Yo wis. Nek arep periksa ngajak ibu ae. Mengko sanjang bapak nek ibu arep perikso!" (Ya sudah. Nanti kalau mau periksa ibu yang bilang ke ayah kalau ibu yang mau periksa)
"Nggeh bu"
"Saiki pingin opo, ben digawekno ibu?"(sekarang pingin apa biar dibuatkan ibu)
" Tasek dereng ngidam nopo-nopo bu!" jawab Laila sambil tersenyum.
Laila dan bu Jannah yang berasal dari Jawa memang seringkali berkomunikasi menggunakan bahasa jawa. Wanita yang sudah beruban itu sepertinya mengerti kalau menantunya sedang ada masalah dengan suaminya. Dia tidak ingin menggurui atau mencampuri terlalu jauh masalah anak-anaknya, yang dilakukannya hanya berdoa semoga semu cepat selesai dan berakhir bahagia.
__ADS_1
Laila kemudian pergi ke rumah sebelah untuk melihat pekerjaan yang ada di sana. Wanita yang berbodi semlohay itu punya tujuan lain. Ingin menanyakan masalah keuangan pada kakak iparnya.
"Bund, bagus kan bun?" Labib yang sedang menggambar di atas karpet ruang tengah menunjukkan gambarnya pada sang ibunda yang baru kelihatan batang hidungnya.
Laila melihat gambar mobil hasil karya putranya. Bagus sekali.
"Dek, kamu kayaknya bakat jadi pelukis dek. Gambar adek keren abis. Uapik tenan"
Labib mengerutkan kedua alisnya.
"Uapik tenan itu artinya bagus sekali. Ada juga yang bilang appuuuuik tenanan"
"Adek nggak ngelti ah bun"
"Makanya biar ngerti dek! Adek pingin punya mobil kayak gini?"
"Ya nanti kalau pakai uang adek sendiri pasti nggak papa sama ayah" Jawab Laila.
"Kalau kamu mau ada Alphard putih la" Tiba-tiba Kak Mia yang baru datang langsung ikut nimbrung saja.
"Eh Alphard?"
"Sebentar..... Ini nih kayak gini"
"Bagusnya...." mata Laila nampak berbinar.
"Iya bagus. Kata abinya Maryam ini dijual murah soalnya istrinya nggak suka yang warna putih kayak ini. Istrinya marah-marah terus. Mereka sudah indent yang warna hitam katanya. Orang kaya mah duit segitu dibuang-buang. Beli mobil kayak kayak beli kacang."
"Emang harganya berapa kak?"
__ADS_1
"Kalau barunya masih 1,5 gitu"
"1.5 M kak?"
"Iya. Tapi ini cuma dijual 1M. Pusing istrinya marah-marah terus. Ini aja mobilnya dititipkan di rumah Aba Fani, temannya mas Alif. "
"Kakak kok tahu sih kalau ada yang jual kayak gitu-gitu?"
"Tiap malam kan aku ngeronda hapenya abinya Maryam. Adaaa aja yang jualan. lama-lama aku kayak makelar. Hehe..."
Laila ikut tertawa karena memang itu nyata. Kak Mia selalu menawarkan barang atau tanah, rumah atau yang lainnya pada keluarganya dan kebanyakan tepat sasaran dan deal lanjut ke transaksi jual beli.
"Itu kilometernya masih dikit banget lo La. Garansinya masih lama itu. Wong baru nyampe rumah terus sama suaminya dipakai muter-muter doang. Waktu istrinya pulang langsung pecah dunia ketiga. Semua surat-suratnya lengkap itu. Pokoknya bagus banget"
"Ambil sendiri aja kak!" Kata Laila.
"Nggak pingin aja. Aku tuh dulu pinginnya kalau sudah kaya pinginnya beli rumah di pedesaan. Yang nyeni dan bisa dikunjungi kalau lagi suntuk. Kalau Perlu udara bersih dan butuh ketenangan. Pinginnya kayak gitu. Kalau mobil, biasa aja sih aku. Yang penting bisa jalan"
"Kalau aku kok pinginnya kalau sudah punya uang pinginnya punya mobil yang bagus macam Alphard gitu ya kak"
"Ya nggak papa kalau ada uang lebih"
"Kalau misalnya aku beli tanpa sepengetahuan ayahnya Latif itu boleh nggak kak? Pakai uangku sendiri kok. Nggak pakai uang tabungan anak-anak"
"Sejauh yang aku tahu sih nggak papa. Nanti aku tanyakan lagi sama mas Alif"
"Kalau boleh aku ambil yang itu tadi ya kak. Tapi jangan bilang-bilang dulu ke Mas Lukman. Nitip di sini aja dulu. Tanyain ya kak! Aku pingin banget punya yang kayak gitu!"
"Adikku ini ternyata sudah jadi orang kayah rayah ya?" Kak Mia menepuk pundak Laila kemudian menggigit bibirnya karena tendangan di perutnya terasa cukup kencang.
__ADS_1