
Laila
.
Ia menggigit bibirnya sendiri tatkala sambungan telpon dengan sang suami berakhir. Ada yang sesak di dalam dadanya. Ingin rasanya meluapkan amarah langsung bertanya semalam sebenarnya ia kemana dan bersama siapa. Gadis yang menerima telponnya subuh-subuh tadi siapa.
Rasanya ingin sekali marah-marah pada suaminya tapi sekuat mungkin ia menahannya. Mencoba mempercayai sang suami meski hati rasanya sakit sekali. Ia mencuci mukanya di wastafel yang ada di kamar mandi. Tak ingin ketahuan siapapun kalau dia baru saja menangis. Apalagi sekarang mertuanya sudah berada di rumah.
Laila akan berusaha menjadi wanita tangguh meskipun itu bukan karakternya. Ia hanya ingin semua baik-baik saja. Apapun yang dilakukan suaminya di luar itu bukan urusannya. Ia akan berusaha menjadi istri yang baik dan mempertahankan posisinya sebagai istri dan menantu di keluarga ini.
Meski belum tahu siapa yang menjadi lawannya ia sudah meneguhkan diri untuk berperang melawan gadis yang sedang dekat dengan suaminya. Entah itu suaminya sendiri yang mulai dan menyukai atau gadis itu yang menggoda duluan dia tidak mau tahu apalagi mencari tahu. Yang akan dilakukannya sekarang adalah berperilaku seperti biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Pengalaman kemarin saat ia marah dengan sang suami dan mendiamkanLukman. Nyatanya sang suami tertantang untuk mencari istri lagi. Mungkin gadis tadi salah satu incaran suaminya yang kini tak bisa lepas dari pesona sang suami.
Entah kebetulan atau apa semalam saat ia membuka ponsel ada notifikasi dari mbah Gugel tentang kasus seorang presenter beranak tiga yang suaminya berselingkuh tapi dia tetap bertahan dengan tidak mencari tahu tentang gosip yang sedang beredar dan berusaha semaksimal mungkin menjadi istri yang baik untuk sang suami ketika suaminya sedang berada di rumah.
__ADS_1
Laila akhirnya menscroll berita-berita semacam itu dan membenarkan kata-kata salah seorang yang mengalami nasib serupa.
"Kalau suami kita berselingkuh begitu dia pulang jangan dimarahi atau dicecar dengan berbagai pertanyaan. Kalau itu yang kamu lakukan justru suami akan berpikiran kalau si selingkuhannya itu lebih menyenangkan dan mau menerima dia apa adanya. Suami justru akan memilih curhat dan berkeluh kesah pada selingkuhannya. Kita para istri justru harus menambah kualitas pertemuan kita dengan suami. Melayani makanannya, pakaiannya, urusan ranjangnya. jangan sampai kita kalah service dengan yang disana yang tidak halal dan jelas-jelas tidak sah. Urusan suami berbuat dosa itu urusannya dengan Tuhan. Urusan kita bagaimana agar rumah tangga kita tetap terjaga keutuhannya dan si selingkuhan kalah telak dengan pamor kita yang luar biasa"
Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum keluar kamar dan melanjutkan aktifitas. Mengurusi jahitan-jahitan yang sudah diselesaikan untuk disortir dan dipisahkan mana yang layak dikirim dan mana yang harus dijual BS an.
"La, tadi bu Mimin sama menantunya mbak Etik minta maaf nggak bisa mengirim jahitan hari ini. Anaknya di opname" kata Kak Mia saat dia sudah berada di samping rumah timur yang kini dijadikan tempat untuk menaruh barang-barang untuk usahanya juga sebagian barang dagangan milik bang Alif yang kualitasnya di bawah standar.
"Ya kak. Di rumah sakit mana? Aku mau nengok kesana sekalian lihat pekerjaan di toko depan sudah sampai dimana?" Tanya Laila bermaksud untuk sekalian memeriksakan dirinya sendiri.
Kak Mia menjawab pertanyaan Laila sambil memeriksa buku kerjanya.
Sepertinya dia membutuhkan dua karyawan lagi untuk mengatur jadwal keluar masuk kain, baju dan printilannya juga untuk menerima panggilan layaknya customer service.
Tapi kali ini Laila tak ingin berkonsultasi dengan suaminya sebagai bentuk pemberontakannya dia akan berkonsultasi pada bang Alif dan meminta saran pada abang ipar yang sudah berpengalaman. Ia ingin membuktikan pada suaminya bagaimana kemampuannya meski tanpa bantuannya.
__ADS_1
Main cantik mungkin itu yang ingin dilakukan Laila.
"Bang Alif belum pulang kak?"
"Belum. Mau ke toko sebentar katanya. Labib tadi waktu ditawari mau kok ikut ke toko"
"Semoga nggak merepotkan anak itu" Kata Laila sambil ikut memeriksa pakaian yang sudah dijahit bersama dua orang pegawainya.
"Yang.....!!!" Suara khas suami Laila menggema di ruangan kecil dan sedikit pengap itu. Membuat Laila segera meninggalkan pekerjaannya.
Laila tak mengira kalau suaminya akan pulang secepat itu. Dia tahu kalau lumbung padi suaminya habis tak bersisa dilahap tikus-tikus sawah dan kenapa sekarang suaminya justru pulang ke rumah dan meninggalkan kekacauan yang terjadi di tempat kerjanya.
"Kok sudah pulang, tadi malam dia kemana?" Tanya kak Mia dengan muka cemberut karena tak terima adik iparnya itu berulah sampai-sampai ayahnya pulang tak disambut, pagi begini baru pulang ke rumah. Laila hanya menepuk pundak kak Mia memintanya untuk bersabar.
Kebalik nggak tuh? Kenapa sekarang kak Mia jadi kekanakan begitu?
__ADS_1
"Mas...." Laila buru-buru menghampiri sang suami dan lagi-lagi dia terkejut melihat suaminya dalam keadaan segar bugar meski matanya seperti kurang tidur.
"Sayang.... kangen.....!" Kata Lukman tak perduli dia ada dimana, langsung saja mencium istrinya kemudian memeluknya sambil memejamkan mata. Nikmat sekali rasanya. Menenangkan jiwa raganya.