Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
fenomenal


__ADS_3

"yank.....!!!"


"aku di belakang mas....!!!"


Kedua sejoli itu benar-benar pasangan fenomenal. Suara mereka selalu mengisi hari-hari keluarga. Sejak Laila dan Doni pindah ke rumah Lukman suasana kedua rumah itu menjadi lebih ramai.


Kerapkali pasangan itu bertengkar dengan suara yang bisa didengar banyak orang sehingga semua anggota keluarga jadi tahu jika mereka sedang ada masalah. Tapi ketika suasana hati keduanya sedang bahagia mereka juga acapkali tak tahu tempat untuk memadu kasih dan bermesraan.


Berbeda sekali dengan bang Alif dan kak Mia yang ketika mereka sedang berbicara berdua kadang orang yang disebelah mereka saja tak bisa mendengarnya. Terkadang malah tanpa bicara mereka sudah mengerti apa yang diinginkan oleh pasangannya.


Pernah suatu saat Kak Mia sedang ngambek pada adik-adiknya. Ia menunggu didepan pintu rumah untuk mengajak suaminya pergi membeli roti maryam kesukaannya untuk mengembalikan moodnya. Mungkin karena faktor kehamilannya juga sehingga ia jadi lebih sensitif dan mudah marah.


Bang Alif seperti punya telepati. Saat pulang dari kajian ia membeli roti Maryam coklat kesukaan istrinya. Sesampainya di rumah dan mendapati sang istri sedang menunggunya ia langsung membentangkan tangannya kemudian memeluk wanita yang sudah membuncit perutnya itu dan membelai punggungnya dengan mesra.


"Gelas itu kalau berdampingan sering menimbulkan bunyi. Sama seperti kalian. Pasti ada yang bersinggungan. Kamu disini itu jadi kakak, jadi ibu. Wajar kan kalau anak-anak itu bikin ulah. Tapi seorang ibu tetap akan mencoba memahami dan memaafkan perbuatan anaknya bagaimanapun itu. Tenang saja.... ada pahala yang sudah disiapkan Alloh untuk orang-orang yang bersabar..."


"Tapi mas.... "


"Kalau mau marah sama aku aja. Jangan sama adik-adik , mereka kan masih kecil.... masih butuh banyak bimbingan. Kalau istriku ini kan sudah dewasa...."


"Beneran ya... nanti aku mau pukul mas sepuasku...."


"ok.... no problem. Ini makan maryam dulu .... biar ada tenaga buat mukulin aku...."


"ih.... mas kok tahu kalau aku pingin maryam....." nada kak Mia jadi manja melihat apa yang diinginkannya ada di depan mata.


"oh ya....? nggak tahu juga tadi...tiba-tiba pingin beliin kamu. "


"kok kita sehati sih mas...."


"itu namanya Rohmah. Tanpa perlu banyak bicara kita sudah tahu apa yang terbersit dalam hati pasangan kita. Tingkatan pernikahan itu sakinah , mawaddah dan yang tertinggi Rohmah. Seperti kita...."


"masa sih mas kita sudah sampai sana...? a..ah jadi makin sayang kan sama suamiku....".


Dan kerapkali mereka terlihat komunikasi jarak jauh dan anehnya mereka terlihat saling memahami.


.

__ADS_1


.


.


"Yank........ bajuku mana?" tanya Lukman saat sudah menemukan Laila yang sedang menjemur baju di belakang rumah.


"Sudah kusiapkan tadi sayangku... aku taruh diatas kasur..." Laila masih melanjutkan menjemur baju tanpa menoleh pada sang suami yang sedang cemberut.


"yaaank.... itu yang dipundak kamu apa?"


"eh...kok ada disini...? perasaan tadi aku taruh diatas kasur...?" Laila baru menyadari jika bajunya Lukman ada dipundaknya. Ia melihat suaminya yang hanya memakai handuk dan kini sedang mengarahkan kedua tangannya padanya.


"pakein....!"


"Duuh manjanya my baby.... jadi gemes deh..." ia mencubit pipi Lukman dan menggerakkan kepala suaminya itu seperti mainan. Bukannya segera menutupi badan sang suami dengan baju yang ada dipundaknya ia malah menggoda nya. Memainkan jemarinya diatas bulu-bulu dada Lukman dan memberikan tiupan kecil sambil mengedipkan matanya dengan nakal.


"Yank.... jangan mulai kalau tidak mau menanggung konsekuensi nya. Aku bisa meng cancel semua urusanku hari ini...."


"ish.... aku takut.... " Ia menggigit lengan Lukman yang berotot kemudian segera memakaikan baju suaminya.


"kasihan yang disawah sudah pada kelaparan...."


"siap sayangku.... laksanakan" Laila bersikap bak tentara yang sedang menerima perintah dari komandan.


Dibalik pintu rumah yang ada disebelahnya ada dua orang gadis dan seorang wanita hamil sedang mengintai keduanya. Seperti tetangga yang suka kepo. Mereka berjejer dan hanya kelihatan kepalanya.


"kak Lala sudah nggak muntah-muntah ya kak?" Rina bertanya pada kak Mia dengan suara yang pelan tanpa melihat ke arah kakak iparnya.


"Hari ini kayaknya enggak dengar dia muntah-muntah" kak Mia menjawab dengan mata yang fokus pada Laila dan Lukman.


Lalu mereka diam dan menonton adegan live sepasang suami istri yang uwu-uwuan.


Bang Alif penasaran melihat istri dan adik-adiknya kemudian berdiri di belakang istrinya setelah tahu apa yang sedang mereka perhatikan. Ia memutar kepala istrinya sehingga bisa menghadap ke arahnya.


"hehe... mereka lucu ya mas..?" kata kak Mia setelah menyadari kehadiran suaminya. Rina dan Ani pun ikut membubarkan diri setelah pengintaian mereka ketahuan bang Alif. Mereka kemudian menuju meja makan untuk sarapan atau sekedar minum jus yang penting mereka berkumpul di meja makan karena ini hari libur.


"Hadeh.... bang Lukman sekarang jadi berisik sekali setelah punya istri. Manjanya minta ampun.... "- Rina

__ADS_1


" Kamu pingin ya...?" - Mia


"Hiii amit-amit kak.... jangan sampai ya aku punya suami kayak gitu. hiih... nggilani...!!" Rina bergidik ngeri


"Eh... kamu sudah punya calon?" - kak Mia menatap Rina dengan mimik muka serius


"Aku mah gampang.... kalau sudah siap nanti tinggal pilih saja cowok yang aku suka. Tak ada yang bisa menolak pesonaku yang imut-imut ini"-Rina menjawabnya dengan percaya diri.


"Eeh..... sejak kapan anak kecil ini jadi narsis...?" Kata Kak Mia.


"hehe...."?


Percakapan antara Rina dan kak Mia hanya ditanggapi oleh Ani dengan tersenyum saja. Ia yang sedang dalam masa pemulihan untuk menetralkan hatinya cukup terhibur dengan keaadaan yang terjadi disekitarnya.


Bukannya tak sedih dengan perpisahan dengan kekasihnya Zainal tapi setelah dua Minggu sejak pertemuan mereka di rumah sakit hatinya kini sudah lebih baik. Ia selalu menampakkan muka bahagia saat di luar kamar meski masih malas untuk berbicara.


"Mas Lukman tokcer ya mas?" Kata kak Mia pada sang suami saat kedua adik iparnya sudah pergi ke rumah sebelah untuk melihat ayah mereka.


"Belum satu bulan udah tekdung aja" Kata Kak Mia lagi.


"Tekdung?" Bang Alif mengerutkan kening.


"Hamidun maksudnya" Kak menjelaskan maksud perkataannya.


"Hamil?" Bang Alif sepertinya mulai faham dengan perkataan yang diucapkan kak Mia. Lelaki berparas tampan dan suka memakai sarung itu melihat istrinya sambil meyipitkan matanya. "Bahasa mana itu? Dapat kata-kata begitu dari siapa coba?"


"Hehe... Denger dari ibu-ibu pengajian mas" Kak Mia membelai perutnya sambil cengengesan yang dibalas senyuman manis oleh bang Alif.


" Bener kan mas, Lukman itu tokcer banget. Kita aja perlu bertahun-tahun baru bisa jadi" Kata si bumil dengan bibir yang dimoncong- moncong kan ke depan.


"Ya maaf.... karena aku tidak tokcer" Kata bang Alif sedikit menunjukkan mimik muka sedih.


"Bukan gitu mas! Apa jangan-jangan mas yang mengira aku yang susah hamilnya?" Wanita yang dituakan di keluarga itu malah mengerucutkan bibir saat berbicara. Sensitif sekali sampai berani membalikkan kata-kata pada sang suami seolah-olah dialah yang menjadi sumber kesalahan dan mendapat bully an.


"Aku tak pernah menyalahkan takdir atau keadaan. Selagi kita sudah berusaha sebaik mungkin, yang terjadi setelahnya pastilah suatu kebaikan yang diatur Tuhan untuk kita dan pasti itu yang terbaik untuk kita. Waktu kita menikah kamu umur berapa?" Tanya bang Alif bertanya pada si bumil.


"Tujuh belas" Jawab kak Mia sambil menunduk.

__ADS_1


"Coba kalau seumur itu kamu sudah mengandung pasti kurang dewasanya. Karena itu Alloh ngasih kita waktu biar bisa berduaan dulu. Pacaran secara halal. Aku sangat menikmati masa-masa itu. Kamu?" Pungkas bang Alif sambil menggenggam jemari istrinya.


"Setelah anak kita lahir aku mau pacaran lagi kayak dulu!" Kata kak Mia kembali manja pada suaminya.


__ADS_2