Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Cemburu


__ADS_3

Hari ini Lukman memakai baju seperti biasanya. Kemeja lengan panjang yang dikancingkannya secara sempurna dari bawah sampai atas, lengan kanan dan kiri juga dikancingkannya. Rambutnya pun memakai minyak menyeluruh sampai terlihat mengkilap. Mungkin saja rambutnya itu bisa dipakai untuk menggoreng saking banyaknya minyak yang dipakainya.


Saat sudah sampai di toko Laila masuk ke dalam terlebih dahulu tanpa menunggu suaminya. Gadis itu langsung menuju ke tempat karyawan dan berbaur dengan teman-temannya.


Tak berapa lama, Lukman datang mencarinya dan meminta bertemu dengan istrinya itu sebentar saja. Teman-temannya pun memanggil Laila sambil bertanya-tanya ada hubungan apa antara pria itu dengan Laila.


"Ada apa?" Lukman bertanya lebih dahulu saat Laila sudah berada di depannya. Ia sudah tak tahan dengan sikap Laila yang mendiamkannya.


"Nggak papa" jawab Laila sambil menunduk tanpa melihat wajah Lukman. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia juga bingung dengan sikapnya yang malah merajuk pada Lukman. Sebelumnya ia merasa kalau Lukman benar-benar menyukainya jadi ia merasa bahagia seperti di awang-awang saat akan menikah dengannya. Tapi kenyataannya berbeda, setelah menikah ia yakin jika ternyata itu dilakukannya hanya karena kasihan saja. Seperti itulah kira-kira perasaan Laila sekarang.


Lukman tiba-tiba mendekati Laila dan memeluknya," Kalau ada apa-apa kamu ngomong sama aku! Aku ini suamimu!" Ia merengkuh pundak Laila dan tangannya yang lain membelai rambut istrinya itu.

__ADS_1


"hiks hiks..... hiks hiks" Laila justru malah menangis mendengar perkataan Lukman yang lembut seperti itu.


"Kamu kenapa ....?" kata Lukman menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Laila.


Yang ditanya hanya menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya. Ia merasa sedih karena sikap Lukman yang lembut seperti ini. Ia lebih suka jika Lukman marah-marah kepadanya seperti sebelum mereka menikah jadi ia pun bisa menunjukkan emosinya. Dengan sikap Lukman yang melunak seperti ini ia justru merasa bingung, tak tahu harus bagaimana.


Jika Lukman bisa begitu baik kepadanya, bagaimana kalau sebenarnya dia punya wanita lain yang dicintainya. Apa ia akan dimadu? Pikiran Laila justru lari kemana-mana.


Lukman membantu mengusap air mata istrinya kemudian ia membelai kepala wanita didepannya itu perlahan, "Hati-hati!" katanya melepas istrinya pergi bekerja.


.

__ADS_1


.


Aktivitas Lukman hari itu adalah pergi ke sawah kemudian ia akan mengunjungi rumahnya. Sebentar lagi musim panen, ia hanya melihat-lihat kondisi padinya. Semoga panennya baik tidak ada kendala suatu apa. Karena pernah suatu saat ketika musim panen tiba hama wereng menyerbu daerah pertanian yang digarapnya sehingga ia hanya mengais sisa-sisanya saja tapi alhamdulilah bisa menutupi semua biaya produksinya. Biaya bibit, para pekerja, pupuk dll.


Sampai dirumahnya sepi sekali karena ayahnya pasti sedang ada di toko. Ia kemudian membersihkan halaman rumahnya yang penuh tanaman dan mengambil beberapa sayuran untuk dibawanya ke rumah istrinya. Selama dia tidak dirumah Ani dan Karina tidur disitu. Mereka pasti hanya membersihkan rumahnya saja karena khusus halaman Lukman lah ahlinya.


Sore harinya ia ke toko untuk menjemput Laila. Ia menyempatkan diri mencari ayahnya terlebih dahulu untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabarnya. Kali ini ia memakai kaos lengan pendek yang tidak terlalu ketat dan membiarkan rambutnya tanpa minyak sehingga saat berjalan rambutnya ikut bergerak mengikuti ayunan kakinya.


Dalam keadaan seperti itu ia kelihatan tampak sangat menawan. Wajah pribumi yang eksotik dan macho. Ia berpenampilan seperti itu karena ia merasa mungkin Laila lebih suka jika dia begitu. Mungkin Laila mendiamkannya karena tidak suka jika dia berpenampilan seperti laki-laki culun. Padahal bukan itu sebabnya.


Saat di tangga hendak turun dari lantai dua ada seseorang yang menabraknya dan reflek ia memegang tangan orang itu agar tidak terjatuh. Dan ternyata itu adalah seorang gadis.

__ADS_1


Kebetulan Laila yang sedang menunggu Lukman melihat hal itu dan hatinya langsung panas membara.


__ADS_2