
Lukman menjadikan lengannya sebagai bantal untuk istrinya. Ia memejamkan matanya karena menikmati sensasi baru, rasa suami istri. Dan ini adalah yang kedua kalinya. Yang pertama tadi, tidak sampai masuk ke liangnya, hanya bersentuhan dengan bibir luar nya saja dia sudah melenguh dan spermanya tumpah kemana-mana.
Tidak terima Ia kemudian berwudlu dan setelahnya ia memasukkannya ke tempat yang semestinya. Kini ia tergeletak dengan deru nafas yang masih belum teratur. Terkapar seperti habis bekerja keras tapi rasanya sungguh nikmat. Capek- capek dan pegal-pegal hilang semua.
Sedangkan Laila, ia sedang menikmati dada dan perut suaminya yang keras. Ia menyentuh dan merabanya dengan tangan maupun bibirnya dengan wajah sumringah.
Doni sudah pulang tapi mereka tak keluar kamar. Malam itu mereka hanya mau menghabiskan waktu berdua dengan mengobrol dan bercinta.
" Kenapa kita harus mengucapkan Alhamdulillah saat mengeluarkannya?" tanya Laila
"Enak nggak?" Lukman membuka matanya dan menoleh ke istrinya, memandangi wajah cantik yang sekarang sudah halal untuk di sentuh maupun diapa-apakan saja.
Laila tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Lukman melihatnya dan merasa gemas dengan reaksi istrinya. Ia kemudian membelai rambut Laila dan mengecup puncak kepala sang istri.
"Makanya yang diucapkan Alhamdulillah karena kita bisa mencicipi sepercik nikmat surga, bisa merasakan yang enak-enak kayak gitu. Sama baca doa Robbi habli minassolihin ya!"
"Apa artinya?"
"Semoga dari kegiatan itu kita diberi anak-anak yang soleh solehah, bacanya di hati saja karena kita dalam keadaan tidak berpakaian" Laila manggut-manggut mendengar penjelasan Lukman. Mereka saling menatap dan melemparkan senyum kemudian sang suami mengecup bibirnya istrinya sekejap.
Lukman kemudian menggerakkan tubuhnya agar mereka berhadapan. Ia kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening dan pipi istrinya dan menyelipkannya di belakang telinga. Diperlakukan seperti itu Laila merasa sangat bahagia seperti dilimpahi dengan kasih sayang dan cinta. Jari-jarinya bergerak menyentuh rahang kokoh sang suami yang ditutupi bulu-bulu kasar yang mulai muncul. Ia tersenyum lagi. Malam ini stok senyumnya tak habis-habis.
"Aku kira kamu gay....."
"APA!!! ..?" Laila langsung diam dan menunduk karena suara Lukman terdengar marah. Ia pun tak berani bergerak lagi.
Lukman menarik dagu Laila agar istrinya itu melihat matanya. Terlihat sekali kalau sang istri ketakutan, "katakan sekali lagi...!"
Laila menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau tadi bilang aku apa?!"
"Nggak...." ia menggelengkan kepalanya lagi.
"Kau tadi bilang apa?!! Aku gay?!!!" Lukman menekan bibirnya ke bibir istrinya dengan sedikit kasar kemudian ia menggigit nya.
"ah ah.... sakiit....." kata Laila sambil memukul-mukul lengan Lukman
"Itu hukuman karena sudah mengataiku gay.,"
" Itu karena kemarin-kemarin kamu tidak mau menyentuhku. Padahal cowok-cowok banyak yang menggodaku tapi kau acuh saja padaku. Dan kalau sama Doni itu kayaknya sayang banget...."
"Wahh wah wah...... ini keterlaluan. Kau benar-benar harus dihukum yang berat ya... biar tidak asal bicara."
"Ampun... ampun mas....ampu..n" Laila mengatupkan kedua tangannya membuat selimut yang menutupi dadanya bergeser dan buahnya yang ranum menggoda iman lukman langsung terpampang nyata di depan matanya.
"Aku wudlu dulu sebentar!" katanya sambil menutup seluruh tubuh istrinya dengan selimut dan hanya menyisakan kepalanya saja. Ia mencium kening Laila dan segera berlalu keluar.
Lukman mengguyur tubuhnya dan berniat mandi jinabat cepat-cepat kemudian berwudlu dan segera keluar karena ada yang harus segera dituntaskan.
"Abang mandi?" tanya Doni yang baru keluar dari kamarnya
"Iya, gerah.."
"Dingin begini darimana gerahnya?"
"Kamu ngapain nggak tidur-tidur? kalau sudah belajar cepat tidur sana!!"
Doni berjalan ke pintu kamar Laila hendak melihat kakaknya
__ADS_1
"Hei... mau ngapain?" Lukman berdiri menghadang langkah Doni yang hendak membuka pintu kamarnya.
"Lihat kak Laila bang.... kenapa tadi dia kayak teriak-teriak gitu? Abang nggak nyakitin dia kan?"
"Kau ini ....." tangan Lukman gemas dan gatal.
ctak, kening Doni dapat satu sentilan sayang dari kakak iparnya
"Memangnya kau pernah lihat aku menganiaya kakakmu? justru aku itu membuatnya bahagia. Oh ya, kalau kau lupa ... aku ini suaminya. Aku bisa melakukan apa saja padanya karena kau sekarang sudah bukan siapa-siapanya lagi. Ingat itu!!!"
"Bang kalau kau menyakiti kakak ku aku tidak akan tinggal diam....!"
"Oh... kau mengancam....?" Lukman maju, merangsek , mendesak tubuh Doni yang tidak sebanding dengan tubuhnya yang kekar." Tubuh kerempeng begini, berani mengancam ku, tidur sana!" katanya sambil menggerakkan lehernya ke arah kamar Doni.
Doni melihat wajah kakak iparnya dengan sebal, "kak kau tidak apa-apa kan?" tanya Doni dengan mengarahkan wajahnya ke kamar kakaknya
"Memangnya aku kenapa? sudah malam tidur sana!" kata Laila dari kamarnya.
"Kenapa tadi sepertinya kau kesakitan?"
"Enggak.... badanku capek semua dan mas Lukman pijitin aku terlalu keras..."
"kau tidak bohong kan kak?"
Lukman masih di depan pintu kamar sambil berkacak pinggang
" Sudah tidur sana, mengganggu saja!" kata Laila sebal.
Lukman menaikkan alisnya seakan menantang Doni dan anak remaja itu kemudian masuk ke dalam kamarnya karena kakak yang dikhawatirkannya malah mengatakan kalau dia mengganggu dan apa tadi, mas lukman....? sejak kapan panggilnya jadi ma..s lukman?
__ADS_1