Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
Itu


__ADS_3

Waktu aku hamil Latif itu aku melihat ada wanita yang memandanginya dan aku melihat abangmu itu menoleh padanya sekilas. Darahku naik dan terasa mendidih. Begitu sampai rumah aku melemparkan semua barang-barang ke arahnya."


"Itu kejadiannya saat kalian ke panti setelah aku periksa kandungan dan abangmu membawaku jalan-jalan ke swalayan Pak Zein sambil lihat barang-barang di tokonya. Kamu tahu kan abang mu itu dulu culun, jelek, sangar dan kayaknya nggak bakal ada yang mau sama abangmu itu kecuali aku"


Laila bercerita dengan raut muka kesal sedangkan Rina sebagai pendengar membenarkan apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu. Dulu abangnya memang kampungan, terlihat norak dan aneh. Sekarang saja dia berubah jadi macho dan keren.


"Huh...." Rina menghela nafasnya dengan kasar.


"Padahal aku yang mendandaninya sampai kelihatan tampan dan cool tapi malah cewek lain yang terpesona. Jadi kesel aku, apalagi lihat abangmu yang malah kayak ngelirik dia cukup lama. Pingin tak bejek-bejek aja dia" Tangannya ikut bereaksi seperti orang yang hendak mencubit. Rina tersenyum melihatnya. Itulah kakak iparnya yang sebenarnya.


"Waktu keluar dari swalayan gitu lagi dan itu dengan orang yang sama. Meski Abang mu mencoba menjelaskan kalau dia nggak melihat ke arah gadis itu tentu saja aku tidak percaya. Sampai rumah kebetulan tidak ada orang. Aku melemparkan semua barang yang kulihat ke arahnya. Aku seperti orang kesurupan waktu itu. Kalau ingat itu aku jadi malu. Kenapa aku bisa lepas emosi dan tak terkendali seperti itu"


"Terus kak?" Tanya Rinw.


"Aku meluapkan kemarahan dan kami bertengkar hebat tapi setelah itu abangmu mencoba untuk tidak menggubrisku. Dia diam saja dan malah duduk di meja makan. Aku yang sudah lupa diri melemparkan piring di dekatku dan tepat mengenai kepalanya"


"Dia seperti ingin balik marah tapi diurungkannya. Abangmu itu malah beranjak untuk membersihkan semua kekacauan yang sudah kubuat"


"Dia memakai sandal dan menggendongku tanpa aba-aba ke dalam kamar. Menaruhku pelan-pelan di atas ranjang"


"Kau tahu apa yang dikatakannya? Aku masih ingat betul. Waktu itu dia bilang


"Tunggu disini sampai aku selesai membersihkan semuanya" Dia bilang begitu lalu mencium keningku.


"Aku merasa sangat bersalah. Mas Lukman yang biasanya garang saat itu benar-benar bisa sabar luar biasa menghadapi kecerobohan ku. Membuatku takut saja. Kalau dia balas marah itu akan lebih baik biar kita bisa adu argumen tapi karena mas mu melunak aku jadi bingung dan nggak tahu harus bagaimana."


"Setelah selesai bersih-bersih mas masuk ke dalam kamar dan membawa ayam krispy yang kami beli sebelumnya. Dan aku melihat darah mengucur di sela-sela rambutnya"


"Mas kamu berdarah..." Kataku sambil meraba rambutnya yang berwarna merah karena darah segar yang mengalir.


"Mas mu tidak tahu kalau kepalanya berdarah dan baru menyadarinya. Aku pun memaksanya untuk menelpon dokter Ibrahim yang waktu itu belum jadi suami kamu tapi mas nggak mau. Ia membebat kepalanya yang terluka dan berniat ke rumah sakit terdekat. Dia tidak mau ke rumah sakit ini karena tidak ingin ada yang mengetahui tentang masalah kami."

__ADS_1


"Aku memaksa untuk ikut karena khawatir dengan keadaannya dan mas mu mengizinkannya. Kami memilih naik kendaraan online karena mas Lukman sudah keliyengan. Di dalam mobil mas mu langsung menaruh kepalanya di pangkuanku. Pusing sekali katanya. Aku jadi semakin bersalah saat mendengarnya."


"Kamu tahu nggak dia mendapatkan 10 jahitan waktu itu. Aku ini istri macam apa coba? Mencelakai suaminya sendiri sampai seperti itu"


"Saat kami pulang kalian juga sudah pulang. Berkumpul di rumah bang Alif. Mas mu minta langsung masuk dan bilang jangan cerita apa-apa"


"Kamu tahu, aku jadi semakin merasa bersalah. Kenapa suamiku yang pemarah itu bisa begitu bijaksana saat itu."


"Kami mengunci kamar waktu itu karena tak mau di ganggu"


"Mau ngapain? Masa sakit-sakit masih aja ngebet..." Kata Rina menyela.


"Ya nggak lah. Mas Lukman kan harus istirahat jadi aku menemaninya. Memijit-mijit tangannya untuk minta maaf"


"Mas....! Ma af!!, Kataku penuh penyesalan"


"Di luar dugaan dia malah mendekapku. Aku ingat betul apa yang dikatakannya saat itu"


"Aku tahu kamu melakukannya karena cemburu karena kamu sayang aku. Karena kamu cinta padaku"


"Tapi Wallahi.... Aku bersumpah dengan nama Alloh aku tidak mencoba melihat gadis manapun selain dirimu. Aku memang menoleh tapi aku tidak sedang memandang atau melirik siapapun, Begitu katanya.


"Aku pun mencicit minta maaf lagi. Aku yakin mas Lukman tidak bohong hanya aku saja yang tergerus emosi"


"Setiap orang pasti pernah melakukan suatu kesalahan. Mungkin suatu saat aku juga akan melakukan kesalahan yang sangat besar. Tapi kumohon ingatlah kebaikanku saat ini. Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Jika saat itu terjadi tolong maafkan aku.


Pernikahan adalah ibadah terpanjang sepanjang zaman dan pasti semua akan diuji dengan berbagai macam cara oleh Alloh. Saat ini aku bersabar denganmu meskipun kamu menuduh sesuatu yang tidak kulakukan. Nanti, jika suatu saat aku melakukan kesalahan tolong ingat tentang ini. Aku ingin menghabiskan umurku bersamamu dan anak-anak kita. Berharap bisa berkumpul kembali nanti di surga. Kamu tahu sayang? Iblis itu selalu membanggakan upaya mereka untuk memperdaya manusia. Ada yang mengatakan sudah menjerumuskan manusia sehingga meninggalkan solat, ada yang sudah berhasil menyantet orang sampai sakit, ada yang sudah membuat orang jadi tidak mau bersedekah, tidak mau puasa dan lainnya. Tapi semua itu biasa saja karena semua setan bisa melakukannya. Tapi ketika ada iblis yang mengatakan kalau dia sudah memperdaya manusia lewat berbagai celah dan berhasil membuat seorang suami menceraikan istrinya maka setan-setan akan mengagungkannya sebagai setan yang punya kedudukan tinggi. Jika suami berpisah dalam arti bercerai dengan istrinya maka mudhorot nya sangat banyak. Imbasnya bukan hanya pada dua orang itu tapi juga pada anak-anak mereka yang kekurangan kasih sayang dan dipaksa mengerti sesuatu yang belum mereka fahami. perceraian juga berimbas pada keluarga besar suami dan istri yang mungkin akan saling menuduh dan membicarakan aib masing-masing"


"Jadi berjanjilah padaku, maafkan aku jika suatu saat nanti aku khilaf..."


Aku memikirkan semua kata-katanya sampai tak menjawabnya.

__ADS_1


"Sayang... maukah kamu berjanji apapun yang terjadi di masa mendatang jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku?" Katanya waktu itu.


"Aku janji, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama" Jawabku dengan penuh keyakinan.


"Kita akan menghabiskan waktu sampai ajal menjemput?" Mas Lukman kembali bertanya padaku.


"Iya aku janji" Begitu jawabku.


"Wallohi?" Tanyanya lagi.


"Wallohiii.... apapun yang terjadi kita akan selalu bersama mengarungi bahtera rumah tangga ini sampai ke Jannah." Begitu janjiku waktu itu"


"Alloh yang menyaksikan janji kita...!"


Laila menghela nafasnya setelah bercerita panjang lebar.


"Sekarang aku mengerti apa yang dikatakan abang waktu itu. Mungkin sekarang saatnya aku memenuhi janjiku waktu itu. Selama tujuh tahun berumah tangga dengannya tak pernah sekalipun abang main tangan justru aku yang sering kesal dan memukulinya. Kamu tahu kan sifat kami ini sama-sama keras dan pembangkang tapi di saat-saat tertentu abangmu itu mampu menahan emosinya dan mengalah padaku. Sekarang aku sedang belajar bersabar dan aku akan minta dia mengingat kebaikanku. Ini tidak gratis. Aku berharap dia akan selalu mengingatnya dan mau memaafkan kesalahan yang kubuat di masa mendatang."


"Bagaimana kalau seandainya abang nanti akan melakukan kesalahan yang sama?" Tanya Rina sedikit galau.


"Aku sudah berusaha. Masalah nanti itu urusan yang Kuasa. Bukankah semua ini titipan. Waktu adalah titipan, anak adalah titipan. Suami juga adalah titipan. Nyawa kita adalah titipan Alloh juga, jadi jika sewaktu-waktu Alloh berniat mengambilnya kita tidak bisa berbuat apa-apa kan? Aku akan belajar lebih pasrah lagi sama Alloh, belajar menerima semua ketentuannya"


"Oh ya, kenapa Septi memanggilmu madam? Apa kau melakukan sesuatu yang kami tidak tahu?" Tanya Laila.


"Melakukan apa?"


"Entahlah. Mungkin itu sesuatu seperti mafia?. Kau tidak menjual barang-barang haram kan atau membunuh orang?"


"Astaghfirullahaladzim naudzu bilahimindzalik.... hati-hati mulutnya ka....k"


"Ya maaf.... kamu sih aneh banget kalau sama Septi. Dia sampai ketakutan seperti itu. Oh ya kamu itu nggak pantas disebut madam. Pantasnya di panggil dedek gemes..." kata Laila sambil membuka pintu kamar suaminya.

__ADS_1


"Nggak jelass..." kata Karina sewot.


__ADS_2