Bukan Laila Majnun

Bukan Laila Majnun
ke panti bersama


__ADS_3

Sabtu sore di stand toko Lukman terlihat cukup ramai dikunjungi para pembeli yang didominasi anak-anak muda. Lukman juga ikut mengawasinya di sana.


Doni terlihat melayani pembeli dengan ramah. Anak itu cepat belajar dan Lukman yang tidak punya adik laki-laki juga bahagia karena ada tempat untuk melampiaskan amarahnya. Kalau ke adik perempuan ya mana tega. Kegiatan menyentil kening Doni dan semisalnya adalah kesukaannya. Lukman jadi bisa merasakan bagaimana cara memperlakukan seorang lelaki remaja agar ia tak salah jalan. Pelan-pelan dia berusaha agar Doni mau curhat dan selalu jujur padanya.


"Besok jam tujuh siap-siap aku jemput. Bilang sama kakakmu kita ke panti!" Kata Lukman saat Doni berpamitan pulang.


"Asyi....kk aku bisa ketemu sama adik-adikku ya bang?"


"Hemm...., ini gajimu bulan ini...!" Kata Lukman sambil memberikan amplop yang cukup tebal pada Doni.


"Bang, potong untuk bayar sewa kontrakan yang waktu itu...!"


"Sudah. Pakai saja untuk yang lainnya!"


"Jangan lupa bilang sama kakakmu jangan sampai telat! Aku ke sana sudah kalian sudah harus siap!"


"Iya iya... kenapa nggak bilang sendiri sih bang? Lagian nggak tahu juga besok kakak masuk kerja shift berapa?"


"Besok dia libur....." kata Lukman sambil berkemas.


"Abang kok tahu sih... Abang stalker ya?" Kata Doni sambil memicingkan matanya.


"Sudah malam, pulang sana!" Perintah pria culun yang garang dengan ekspresi datarnya.


.


.


.


Keesokan harinya Lukman beserta keluarganya sudah siap pergi ke panti. Zainal pacarnya dokter Ani juga ikut ke dalam rombongan keluarga besar mereka. Bang Alif memutuskan untuk memakai satu mobil saja agar lebih efisien dan mengurangi kemacetan di jalan.


Sedangkan Lukman dan Karina akan naik sepeda motor karena keduanya akan mengajar bela diri dulu di sana dan pulangnya akan terlambat.


Setelah mereka berpamitan dengan pak Dirman akhirnya rombongan itu mulai keluar dari halaman rumah dan bergerak menuju tempat tujuan.


Ditengah perjalanan Lukman yang sedari tadi berjalan di depan seperti menjadi petunjuk jalan tiba-tiba menurunkan Karina di pinggir jalan. Ia terlihat masuk ke gang jalan menuju satu kampung. Bang Alif pun berhenti di tempat Karina berdiri.


"Jauh nggak rumahnya? Kenapa nggak di jemput pakai mobil saja tadi?" bang Alif bertanya pada Karina yang sedang berdiri di pinggir jalan.


"Nggak tau tuh bang Lukman. Seharusnya tadi dijemput pakai mobil saja ya bang...?" kata karina


"Jemput siapa Di..?" tanya Zainal pada pacarnya dokter Ani.


"Kak Laila sama Doni." jawab Ani

__ADS_1


"oh... mereka tinggal disini? kamu sering kesini Di?" Tanya Zainal yang merupakan atasan Laila


"Nggak sering juga sih...." Jawab gadis yang hari ini nampak lebih cantik dari biasanya.


Sementara itu Lukman yang sudah berada di depan kontrakan Laila tidak perlu turun terlebih dahulu karena kedua kakak adik itu sudah siap untuk berangkat.


Lukman terkesima dengan penampilan Laila yang makin hari makin tertutup dan sederhana.


"Ayo...!" Kata lelaki itu tanpa melihat wajah orang yang sedang diajaknya berbicara.


Tanpa banyak kata Laila segera naik di belakang boncengan Lukman dan duduk menyamping dengan mengambil jarak agar tak menempel pada tubuh si bujang. Laila tahu jika Lukman tak suka bersentuhan dengan wanita terutama dirinya yang memang banyak dosa. Ia pun memegang besi di belakang untuk berpegangan.


Mereka saling diam karena Laila yakin jika pria di depannya itu melakukan semuanya karena rasa empatinya yang tinggi tapi di sisi lain dia juga merasa bahagia berada di antara keluarga nya Lukman. Bahkan Laila ingin mengenal mereka lebih jauh lagi.


"Oh.... pantes .... nggak boleh dijemput pakai mobil " kata bang Alif saat melihat seorang gadis turun dari motornya Lukman.


"Iihhh matanya...." Mia menutup mata suaminya dengan tangannya. "Kalau lihat yang aduhai langsung lupa istri yang duduk disamping ya...!" katanya kesal pada sang suami karena melihat bodi Laila yang super seksi meskipun baju yang dipakai Laila sekarang lebih panjang dan longgar. Bagian tubuh depan dan belakangnya masih saja terlihat sedap dipandang mata terlebih oleh kaum adam.


"Nggak ada kayak gitu yank.... cuma kamu yang bisa bikin hatiku dag dig dug.... " Gombal bang Alif.


"Masa....?" Kak Mia mencebik seakan tak percaya.


Bang Alif meletakkan telapak tangan istrinya di dadanya. Mata mereka saling berpandangan mencoba menyelami hati berbalut raga yang berdetak indah karena simphoni cinta yang menggema.


"Percaya nggak?" bang Alif bertanya dengan mata indahnya yang bisa menghipnotis siapa saja yang memandangnya.


Kak Mia tak sanggup mengeluarkan kata karena tatapan mata suaminya yang selalu membuatnya berdebar. Ia hanya tersenyum sambil mencubit pinggang sang suami kemudian memalingkan mukanya ke jendela kaca disebelahnya untuk menutupi rasa malu dan bahagianya.


"Zein pindah ke belakang nanti sama Doni nggak papa ya?" bang Alif bukan sedang bertanya tapi lebih seperti menyuruh secara halus.


"Iya bang...." Zainal menurut tanpa bantahan.


Karina membukakan pintu untuk Laila sedang Lukman mengendarai motornya masuk kembali ke dalam gang hendak menjemput Doni adik Laila.


Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


Di dalam mobil itu untuk pertama kalinya Laila berkenalan dengan bang Alif dan kak Mia. Ia semakin merasa bahagia karena mereka terlihat care padanya meskipun ia tak punya apa-apa.


.


.


.


.

__ADS_1


" Karena kepandaian Zaid bin Tsabit ,Baginda nabi memintanya untuk belajar bahasa Yahudi beserta aksaranya karena tidak ingin tertipu oleh kaum Yahudi. Hanya dalam waktu setengah bulan Zaid bin Tsabit sudah menguasai bahasa Yahudi dan fasih baik secara lisan maupun tulisan.


Zaid bin Tsabit juga mempelajari bahasa asing yang lain. Sejak saat itu Zaid bin Tsabit bertugas sebagai penerjemah dan juru tulis Nabi. Ia kerap menjadi tangan kanan Nabi untuk membaca, menerjemahkan, dan menulis surat-surat balasan dari berbagai negara.


Zaid bin Tsabit juga pemuda yang hafalan Al-Qur'an nya sempurna sehingga beliau ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar sebagai ketua pengumpul Al-Qur'an karena banyaknya para penghafal Al-Qur'an yang wafat di Medan perang.


Umar bin Khattab yang pertama kali mencetuskan ide tersebut dan mengusulkannya kepada Khalifah Abu bakar karena banyaknya para hafidz yang syahid di medan perang. Beliau khawatir dengan generasi umat Islam selanjutnya.


Maka di bentuklah panitia pembukuan Al-Qur'an yang bertugas untuk mengumpulkan Ayat-ayat yang ditulis para sahabat di pelepah-pelepah , tulang dan juga menyeleksi hafalan-hafalan para sahabat dengan ketat kemudian menuliskannya menjadi mushaf yang bisa kita baca sampai sekarang.


Adik-adikku semua... mari bercita-cita yang tinggi, setinggi langit karena jika kita jatuh kita akan jatuh di awan bukan di tanah. Meskipun berada di panti kita tidak boleh berkecil hati, tetap semangat, giat belajar. Kalau jatuh...bangkit , jatuh lagi bangkit lagi. Kesuksesan itu butuh perjuangan ia tidak akan datang dengan sendirinya. Apapun yang terjadi kita pasti akan kembali keharibaan Ilahi karena itu dalam situasi apapun tetaplah jadi orang yang bertakwa.


Saat ujian melanda ingat nabi Ayyub yang tetap teguh memegang keimanannya disaat bencana tak berhenti menghampirinya. Ketika kaya ingat nabi Sulaiman yang kekayaannya tiada tandingan tapi tetap jadi orang yang bertakwa. Kalau kita mempunyai wajah yang tampan atau cantik kita lihat nabi Yusuf yang ketampanannya sampai bisa membuat orang tidak merasa sakit saat mengiris tangannya sendiri tapi beliau tetap jadi orang yang bertakwa.


Jadi adik-adik semua....jadilah anak-anak yang soleh, jadi anak-anak hebat semuanya.


SEMANGAT!!!"


"Aow....!!!."


Semua yang ada disitu menoleh mencari sumber suara. Laila buru-buru membekap mulutnya sendiri karena dia yang memekik barusan. Ada seseorang yang menarik rambutnya sampai kepalanya terhentak ke belakang. Ia menoleh ke belakang dan melihat Lukman berdiri dibelakang nya.


Laila kemudian berdiri dan memukul lengan Lukman dengan geram. Ia yakin yang menarik rambutnya sampai kepalanya sakit adalah Lukman.


"IH IH IH ...."Ia memukul Lukman dengan geram. Lukman yang mulanya diam saja kemudian menoleh dan menatap tajam ke arah Laila. Refleks Laila langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak memukul Lukman lagi kemudian ia menggigit ibu jarinya dan mematung di tempatnya.


Lukman berlalu begitu saja kemudian berlari ke lapangan karena akan melatih bela diri pada anak-anak remaja putra panti. Sedangkan Karina mengajar yang putri.


Sebenarnya Lukman merasa kalau Laila sedang mendiamkannya jadi dia berusaha untuk mencari perhatiannya dengan menarik rambutnya barusan.


"Kenapa kak?" tanya Ani pada Laila yang masih berdiri mematung padahal Lukman sudah pergi jauh.


"Dia menarik rambutku". Laila menunjuk ke arah Lukman. "Ih kesel..... kenapa sih dia selalu jahatin aku?" air matanya hampir saja jatuh saking jengkelnya. Laila sudah agak terbiasa dengan Ani dan Karina sehingga terkadang dia tidak malu mengungkapkan perasaannya.


"Sabar ya kak.... nanti aku aduin ke bang Alif biar bang lukman dimarahi. Kayaknya Abang naksir kakak deh" Kata Ani menganalisa.


Mendengar hal itu Laila justru mengerucutkan bibirnya, mana ada orang naksir kayak gitu, batinnya.


Mia datang sambil mengusap punggung Laila, " Ayo ke dapur.,.!" katanya.


Bang Alif, Zainal serta beberapa pengurus berjalan-jalan disekitar panti. Membersihkan ruangan, halaman , memasang lampu dan merapikan yang berserakan.


Sedangkan Doni diajak anak-anak yang dibawanya dulu untuk ke kamar mereka dan saling bertukar


.

__ADS_1


__ADS_2