
"Kak.... Ayo kita pulang!"
"Sebentar Rin, aku masih ingin melihat abangmu..." Laila masih enggan beranjak dari duduknya. Asyik memandangi wajah sang suami yang kini mulai berjambang tipis. Meski Lukman masih belum sadarkan diri sejak tiga hari yang lalu. Ia baru saja melewati masa kritis dan kini alat-alat vitalnya sudah menunjukkan kemajuan.
"Kak jam besuknya sudah selesai. Ayo pulang!"
"Sebentar ya Rin....!"
" Kak... kasihan anak-anak kalau kakak disini terus-terusan. Mereka juga butuh ibunya. Biarkan Latif dan Labib tidak punya ayah tapi mereka....." Kalimat Rina terpotong karena Laila berteriak tak terima.
"Rina!!!! Jaga ucapanmu!!" Laila berteriak membentak adik iparnya yang sedang emosi. Ia tahu Rina betul-betul marah pada kakak kandungnya sendiri. Kecewa pada abang yang ia sayang dan ia banggakan tapi meskipun begitu ia ingin melihat Lukman sehat seperti dulu lagi.
Laila berdiri perlahan-lahan agar rahimnya tak bermasalah dan kembali ke tempat semula.
"Bang aku pulang dulu ya.... Anak-anak sedang menungguku. Mereka menanyakan ayahnya terus.... Abang cepat sehat ya biar anak-anak bisa menjenguk abang ke sini..." Laila mengusap air matanya kemudian perlahan menaruh kepalanya di dada Lukman yang dipenuhi alat-alat kedokteran yang menempel di tubuhnya.
Rina hanya melengos melihat kakak iparnya yang terlihat bucin pada abangnya yang bodoh.
__ADS_1
"Sudah ayo kak! Di sini Lukman ada yang jaga. Ada dokter juga para perawat di sini. Tak perlu khawatir..."
Laila hanya menggelengkan kepala mendengar Rina memanggil suaminya dengan nama saja. Ia terlihat kesal sekali pada abangnya.
Rina membantu melepaskan pakaian khusus untuk masuk ruang ICU dari tubuh Laila yang kelihatan masih lemah. Membimbing Laila untuk duduk di kursi roda dengan sedikit pemaksaan kemudian mendorongnya sampai ke lobi rumah sakit. Disana sudah ada sopir yang mengendarai mobil Mercedes milik suaminya siap mengantarnya pulang ke rumah.
.
.
.
"Ayahnya adek masih sakit belum bangun-bangun. Adek doanya yang kenceng lagi ya!. Minta sama Alloh semoga ayah segera sembuh dan bisa berkumpul dengan kita lagi!" Laila membelai kepala Labib yang duduk disampingnya. Si kecil ini sangat tahu diri. Setelah diberitahu kalau bundanya sakit dan tidak bisa memangku juga menggendongnya ia tak pernah lagi manja-manja.
"Adek jagain bunda ya! ingetin kalau waktunya minum obat. Bunda nggak boleh kerja dulu. Harus bedrest total pokoknya. Kalau bunda nakal nanti adek sama abang Latif telpon ke onty ya!" Kata Rina pada keponakannya yang langsung menganggukkan kepala dengan mantap sambil membentuk ok dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Adek pinter banget sih...." Rina menciumi pipi gembil Labib dengan gemas sambil menggelitikinya.
__ADS_1
Rina kemudian berpamitan pada ayah dan ibunya yang sedang ada di belakang. Juga memberi arahan pada asisten rumah tangga yang dia kirim untuk membantu aktifitas di rumah ayahnya dan membantu kak Mia juga. Dia menempatkan kedua asisten tersebut di rumah bang Alif tepatnya di kamarnya dulu.
"Aku balik dulu ya kak. Ada yang harus aku urus" Kata Rina sambil mencium tangan Laila.
"Hati-hati.... ! Makasih banyak ya Rin..."
"Apa sih kak? Aku nggak ngelakuin apa-apa juga. Dari kemarin makasih terus deh" Ia mencium Labib juga Latif yang baru nongol.
Keduanya mengikuti Karina sampai ke bawah kemudian mencium tangan tantenya dan dada dada melambaikan tangan untuk mengantar kepergian Karina.
"Ingetin bunda kalau waktunya minum obat ya bang!" Katanya pada Latif saat dia sudah duduk di bangku penumpang.
"Iya. Onty bawel banget sih sekarang..." Kata Latif sambil beranjak pergi meninggalkan Karina yang meruncingkan bibirnya mendengar kata-kata dari keponakannya.
"Onty ati-ati ya! Bilangin ayah.... adek kangen...Cemoga ayah cepat cembuh ya onty...." Si kecil menyunggingkan senyum cakepnya membuat Karina ingin menangis saja.
"Iya nanti onty bilangin ya.... Udah adek temenin bunda sana! "
__ADS_1